Kumpulan Kematian
Hasil Bahts Masail PWNU Jatim 1981 di PP. Zainul Hasan Genggong
Probolinggo
Deskripsi
Masalah:
Banyak di pedesaan, perkotaan kegiatan-kegiatan sosial yang
dilakukan oleh umat islam yang dinamakan kumpulan kematian dengan
syarat/perjanjian antara lain: Setiap anggota harus membayar Rp. 50,- setiap
bulan. Dan setiap anggota yang meninggal dunia mendapat belanja kematian
rata-rata Rp. 2000,-
Pertanyaan:
Bagi
anggota yang sudah lama, sudah barang tentu jumlah uang yang dibayarkan tiap
bulan tadi cukup banyak misalnya. Misalnya Rp. 5000,- tetapi andai kata anggota
tersebut wafat tentunya dia hanya mendapat bantuan belanja kematian dari kumpulan tadi sebesar
Rp. 2000,- sehingga menurut perhitungan uang anggota tersebut masih sisa Rp.
3000,-. Uang sisa tadi menjadi milik siapa?
Bagi
anggota yang masih baru sudah barang tentu uang yang dibayarkan kepada kumpulan
masih sedikit, misalnya Rp. 500,- tetapi andaikata dia wafat maka tentu akan
mendapat belanja kematian sebanyak Rp. 2000,-
Jawaban:
Uang
tersebut milik jam’iyyah.
Dasar
Pengambilan Hukum:
1.
Dalilu
al-Falihin, Juz II, Hlm. 576-577
عَنْ أَبِي مُوْسَى اْلأَشْعَرِيّ t قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ e إِنَّ اْلأَشْعَرِيِّيْنَ إِذَا أَرْمَلُوْا (فَنَي أَزْوَادُهُمْ) فِي
الْغَزْوِ وَقَلَّ طَعَامُهُمْ بِالْمَدِيْنَةِ (أَىْ مَحَلِّ إِقَامَتِهِمْ)
جَمَعُوْا مَا كَانَ عِنْدَهُمْ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ ثُمَّ اقْتَسَمُوْا بَيْنَهُمْ
فِي إِنَاءٍ وَاحِدٍ بِالسَّوِيَّةِ فَهُمْ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ (مُتَّفَقٌ
عَلَيْهِ). قَالَ الْمُصَنِّفُ وَلَيْسَ الْمُرَادُ مِنَ اْلقِسْمَةِ هُنَا
الْمَعْرُوْفَةِ فِي كُتُبِ الْفِقْهِ بِشُرُوْطِهَا..الخ
"Dari Abi Musa al-Asy’ari ra ia berkata: Rosulullah saw, bersabda:
sesungguhnya golongan Asy’ari kehabisan bekal di pertempuran, atau semakin
menipis makanan keluarganya dikota (madinah). Maka mereka semua mengumpulkan apa
yang ada disisinya pada pakaian satu, kemudian membaginya diantara mereka semua
dengan sama dalam satu tempat. Mereka semua golongan saya dan saya adalah
termasuk dari golongan mereka. (HR. Mutafaq Alaih)".
2.
Takmilah
al-Majmu’, Juz XIII, Hlm. 155
قَدْ يُقَالُ إِنَّ عُقُوْدَ التَّأْمِيْنِ تَجْرِى دَائِمًا مَعَ
شِرْكَاتٍ مُسَاهَمَةٍ يُمْكِنُ أَنْ تُعْتَبَرَ شِرْكَاتٌ تَعَاوُنِيَّةٌ عَلَى
الْخَيْرِ وَاْلبِرِّ يَتَعَاوَنُ أَصْحَابُ الأَسْهُمِ...الخ
"Terkadang dikatakan sesungguhnya transaksi (ikatan) kepercayaan berlaku
selamanya bersama perkumpulan yang terbagi (giliran) bisa jadi dikatakan
perkumpulan ta’awuniyah (tolong menolong) atas kebaikan , dan berbuat baik untuk
menolong teman-teman yang masuk dalam daftar giliran".
3.
Asy-Syarwani,
Juz VI, Hlm. 298
أَمَّا الْهِبَةُ لِلْجِهَةِ الْعَامَّةِ فَإِنَّ الْغَزَالِيَّ جَزَمَ
فِي الْوَجِيزِ بِالصِّحَّةِ وَتَوَقَّفَ فِيهِ الرَّافِعِيُّ ، ثُمَّ قَالَ
وَيَجُوزُ أَنْ يَقُولَ الْجِهَةُ الْعَامَّةُ بِمَنْزِلَةِ الْمَسْجِدِ فَيَجُوزُ
تَمْلِيكُهَا بِالْهِبَةِ كَمَا يَجُوزُ الْوَقْفُ عَلَيْهَا وَحِينَئِذٍ
فَيَقْبَلُهَا الْقَاضِي ا هـ وَقَضِيَّةُ إلْحَاقِهِ الْهِبَةَ لِلْجِهَةِ
الْعَامَّةِ بِالْوَقْفِ عَلَيْهَا فِي الصِّحَّةِ أَنْ لاَ يَشْرِطَ الْقَبُولَ ا
هـ
"Adapun hibah (pemberian) untuk tujuan/jalan yang umum, maka Imam
Ghazali dalam kitab al-wajiz menyakini atas diperbolehkannya adan Imam al-Rafi’i
diam dalam hal itu. Kemudian ia menyatakan boleh jika dikatakannya: tujuan yang
umum itu menempati kedudukan masjid maka boleh memberikan hak milik dengan
hibah. Seperti bolehnya waqaf terhadapnya maka yang menerima adalah al-Qadhi.
Ketentuan menyamakan hibah untuk umum dengan waqaf padanya di dalam keabsahannya
adalah tidak mempersyaratkan harus diterima".
4.
Al-Jami’li
al-Ahkami al-Qur’an li al-Qurtubi, Hlm. 33
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا أَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِ. قَالَ
الزُّجَّاجُ الْمَعْنَى: أَوْفُوْا بِعَقْدِ اللهِ عَلَيْكُمْ وَبِعَقْدِكُمْ
بَعْضِكُمْ عَلَى بَعْضٍ.
"Wahai orang-orang yang beriman tepatilah dengan janji. Az zujaj berkata
artinya : tepatilah kalian semua dengan janji Allah atas kalian semua dan janji
kalian, sebagian diantara kalian dengan sebagian yang lain".
5.
Riyadlu
Al-Shalihin wa-Syarhi Dalailu al-Falahin, Juz II, Hlm. 576-577
Tags
Muamalah