Maulid Nabi Muhammad : Moment mengenang Perjuangan Nabi

📝 Maulid Nabi Muhammad : Moment mengenang Perjuangan Nabi - 1 (Silahkan Share)
💎🌸 Soal Jawab Grup Telegram Ngaji FIQH 🌸💎

Pak ustadz, mau nanya,
Emangnya maulid orang syiah seperti apa sih??  Kok bisa2nya muslim yg mengadakan maulid dianggap mengikuti syiah..

Jawab :

Seandainya merayakan Maulid dicap sebagai Syi'ah, maka SYI'AH LAH IMAM AL JAZARI(Imam Para Ahli Qiraat).

Syaikh Yusuf An-Nabhani, dalam kitabnya "Al Anwar Al Muhammadiyyah min Al Mawaahib Ad-Diniyyah", menukil ucapan Imam Al Jazari :

فإذا كان هذا أبو لهب الكافر الذي نزل القرآن بذمه جوزي بفرحه ليلة مولد النبي صلى الله عليه وسلم فما حال المسلم الموحد من أمته؟ يُسرّ بمولده ويبذل ما تصل إليه قدرته في محبته لعمري إنما يكون جزاؤه من الله الكريم أن يدخله بفضله العميم جنات النعيم. ولا زال أهل الإسلام يحتفلون بشهر مولده عليه الصلاة والسلام و يعملون الولائم ويتصدقون في لياليه بأنواع الصدقات ويظهرون السرور ويزيدون في المبرّات، ويعتنون بقراءة مولده الكريم ويظهر عليهم من بركاته كلُّ فضل عميمٍ

"Jika Abu Lahab kafir yang disebutkan celanya dalam AlQur'an, ia tetap diberi balasan meskipun ia di dalam Neraka, karena rasa senangnya pada malam Maulid Nabi. Maka bagaimanakah keadaan seorang muslim yang bertauhid dari ummat Nabi Muhammad shallallaahu 'alayhi wasallam yang bahagia dengan kelahirannya dan mengerahkan segenap kemampuannya dalam mencintai Rasulullaah. Sungguh, pastilah balasannya dari Allaah Ta'aala ia akan dimasukkan ke dalam Syurga karena karunia-Nya. Dan Ummat Islam senantiasa memperingati bulan Maulid Nabi dan mengadakan jamuan-jamuan serta bershodaqoh pada malam malamnya dengan beragam macam shodaqoh. Kemudian mereka menampakkan kebahagiaan dan semakin bertambah dengan berbagai kebaikan. Mereka pun bersungguh sungguh dalam membaca sejarah kelahiran Nabi dan tampaklah keberkahan dengan segala keutamaan amal amal itu." (Yusuf An-Nabhani, Al-Anwar Al-Muhammadiyyah, hal. 40)

Bahkan Imam Al Jazary rahimahullaah mengarang kitab tersendiri tentang Maulid Nabi, "عرف التعريف بالمولد الشريف"

Seandainya mengakui amal shalih dengan Maulid itu dicap Syi'ah, maka SYI'AH LAH IMAM IBNU TAIMIYYAH.

Ia berkata :
فتعظيم المولد واتخاذه موسما قد يفعله بعض الناس ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده وتعظيمه لرسول الله صلى الله عليه وسلم

"Mengagungkan hari Maulid dan menjadikannya sebagai perayaan tahunan dilakukan sebagian orang, maka ia mendapat balasan pahala yang besar karena kebaikan niatnya dan pengagungannya kepada Rasulullaah shallallaahu 'alayhi wasallam." (Ibn Taimiyah, Iqtidha As-Shirat Al-Mustaqim, hal. 297)

Seandainya membela amal Maulid Nabi itu dicap Syi'ah, maka SYI'AH LAH IMAM AS-SUYUTHI (Imam Hafidz Ahlussunnah Wal Jamaah).

Bahkan, Imam As-Suyuthi mengarang kitab tersendiri mengenai amaliyah Maulid, dengan judul "حسن المقصد في عمل المولد"

والجواب عندي أن أصل عمل مولد الذي هو إجتماع الناس، وقراءة ما تيسر من القرآن، ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه وسلم، وما وقع في مولده من الآيات، ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك؛ هو من البدع الحسنة التي يثاب عليها صاحبها؛ لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والإستبشار بمولده الشريف.

"Dan jawaban dariku bahwa dasar amaliyah Maulid -yakni berkumpulnya manusia dalam satu peringatan, pembacaan AlQur'an dan pembacaan riwayat riwayat mengenai kehidupan Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam; serta apa yang ada kaitannya dengan Maulid dari ayat Qur'an, hingga disajikannya makanan tanpa berlebih lebihan; itu semua bid'ah hasanah dimana pelaksananya diberi pahala. Hal itu karena peringatan ini didasari atas pengagungan terhadap kedudukan Nabi dan menampakkan kebahagiaan dan kabar gembira dengan kelahiran Nabi yang Mulia." (Ali Jum'ah, Al Bayaan lima Yasghalul Adzhan, 1/171)

Tatkala dikatakan, bahwa Maulid tidak ada dalilnya dari Qur'an dan Sunnah, jawaban Imam Suyuthi ialah :

نفي العلم لا يلزم منه نفي الوجود

"Ketiadaan pengetahuan atas sesuatu tidak otomatis menafikan keberadaannya". Amal Maulid sebetulnya berdasar atas Qur'an dan Sunnah. Hanya saja kita belum paham. Dan akan kita bahas, in Sya Allaah.

Bersambung..

http://muhammadrivaldyabdullah.blogspot.com/?m=1

📝 Maulid Nabi - Moment mengenang Perjuangan Nabi (2)
🌸💎 Telegram Ngaji FIQH 💎🌸

Telah tiba masa dimana sebagian muslim lebih peduli dengan kegiatan/agenda kelompoknya sendiri, jamaahnya sendiri, kajiannya sendiri, syaikhnya sendiri, gurunya sendiri, dan individu mereka masing masing; sedangkan kegiatan yang berkenaan pribadi dan sirah perjalanan hidup Nabi malah enggan. Subhanallaah..

Pengagungan terhadap Nabi mereka katakan sesuatu yang berlebihan. Lain cerita jika acara itu menyangkut organisasi/jamaah mereka, maka tidak dianggap berlebihan/haram. Padahal telah jelas bagaimana kecintaan dan pengagungan sahabat terhadap Nabi, yang ditunjukkan dengan berbagai ekspresi. Apakah ekspresi-ekspresi tersebut disalahkan Nabi? Akan kita paparkan nanti bagaimana ekspresi-ekspresi kecintaan para sahabat terhadap Nabi.

Bahkan jika kita menelisik lebih dalam kitab-kitab para ulama, kita temukan bahwasanya para Ulama memiliki sikap yang inshaf dalam menilai peringatan Maulid Nabi. Dan hal tersebut ditunjukkan dengan keterangan-keterangan berikut.

1. Syaikhul Islam Imam Ibn Hajar Al Asqalani. Di ceritakan :

أَنَّهُ سُئِلَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ حَافِظُ الْعَصْرِ أَبُو الْفَضْلِ أَحْمَدُ بْنُ حَجَرٍ عَنْ عَمَلِ الْمَوْلِدِ فَأَجَابَ بِمَا نَصُّهُ أَصْلُ عَمَلِ الْمَوْلِدِ بِدْعَةٌ لَمْ يُنْقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنْ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنْ الْقُرُونِ الثَّلَاثَةِ وَلَكِنَّهَا مَعَ ذَلِكَ قَدْ اشْتَمَلَتْ عَلَى مَحَاسِنَ وَضِدِّهَا فَمَنْ تَحَرَّى فِي عَمَلِهَا الْمَحَاسِنَ وَتَجَنَّبَ ضِدَّهَا كَانَ بِدْعَةً حَسَنَةً وَمَنْ لَا فَلَا

Bahwasanya Syaikhul Islam Hafizh Al 'Ashr(Ulama Hadits Zaman ini) Abul Fadhl Ahmad bin Hajar ditanya tentang hukum Maulid, beliau menjawab: "Pada dasarnya maulid adalah bid'ah dan tidaklah dinukil satu pun dari salafush shalih yang ada pada tiga zaman, namun demikian pada acara tersebut terkandung di dalamnya kebaikan-kebaikan dan juga sebaliknya. maka, siapa saja yang pada acara itu hanya melakukan hal-hal yang baik dan menjauhi yang buruk, maka itu adalah bid'ah hasanah, dan jika tidak demikian, maka tidak boleh."

قَالَ وَقَدْ ظَهَرَ لِي تَخْرِيجُهَا عَلَى أَصْلٍ ثَابِتٍ وَهُوَ مَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَسَأَلَهُمْ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ أَغْرَقَ اللَّهُ فِيهِ فِرْعَوْنَ وَنَجَّى فِيهِ مُوسَى فَنَحْنُ نَصُومُهُ شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى } فَيُسْتَفَادُ مِنْهُ فِعْلُ الشُّكْرِ لِلَّهِ عَلَى مَا مَنَّ بِهِ فِي يَوْمٍ مُعَيَّنٍ مِنْ إسْدَاءِ نِعْمَةٍ وَدَفْعِ نِقْمَةٍ وَيُعَادُ ذَلِكَ فِي نَظِيرِ ذَلِكَ الْيَوْمِ مِنْ كُلِّ سَنَةٍ وَالشُّكْرُ لِلَّهِ يَحْصُلُ بِأَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ كَالسُّجُودِ وَالصِّيَامِ وَالصَّدَقَةِ وَالتِّلَاوَةِ وَأَيُّ نِعْمَةٍ أَعْظَمُ مِنْ النِّعْمَةِ بِبُرُوزِ هَذَا النَّبِيِّ الَّذِي هُوَ نَبِيُّ الرَّحْمَةِ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ

Dan Imam Ibn Hajar berkata : ”Telah nampak bagiku riwayatnya pada pijakan yang kokoh, yaitu yang terdapat dalam Shahihain bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam datang ke Madinah, dia mendapatkan orang-orang Yahudi sedang berpuasa pada hari ‘Asyura, lalu dia menanyakan mereka.

Mereka menjawab: “Ini adalah hari di mana Allah menenggelamkan Fir’aun dan menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai ungkapan syukur kepada Allah Ta’ala.” Maka, faidah dari kisah ini adalah melakukan perbuatan syukur kepada Allah atas karunia yang diberikanNya di hari tertentu berupa nikmat dan dijauhi dari bencana, dan mengulangi hal itu pada hari tersebut di setiap tahunnya.

Bersyukur kepada Allah bisa dilakukan dengan bermacam-macam ibadah seperti sujud, puasa, sedekah, dan tilawah. Dan, nikmat apakah yang paling besar dibanding nikmat kelahiran Nabi yang mulia ini, dialah Nabi yang menjadi rahmat pada hari itu." (Ibn Hajar Al Haitamiy, Tuhfatul Muhtaaj, 31/377-378)

Bahkan terdapat ayat Qur'an yang berbunyi :

وَذَكِّرْهُم بِأَيّٰمِ اللّٰه..

"Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allaah.." (QS. Ibrahim[14] : 5)

Imam Al Bayhaqi dari Ubay Ibn Ka'ab, meriwayatkan dari Rasulullah bahwa Ayyamillah (Hari hari Allaah) ini ditafsirkan sebagai nikmat dan karunia Allaah.
Karena itu, kelahiran Nabi Muhammad termasuk nikmat dan karunia yang layak diperingati, dengan tanpa berlebih lebihan. (Ali Jum'ah, Al Bayan, 1/173)

2. Al Imam Al ‘Iraqi berkata :

إن اتخاذ الوليمة وإطعام الطعام مستحب في كل وقت، فكيف إذا انضم إلى ذلك الفرح والسرور بظهور نور النبي صلى الله عليه وسلم في هذا الشهر الشريف، ولا يلزم من كونه بدعة كونه مكروها، فكم من بدعة مستحبة بل قد تكون واجب

”Sungguh melakukan perayaan (walimah) dan memberikan makan disunnahkan pada setiap waktu, apalagi jika padanya disertai dengan kesenangan dan kegembiraan dengan kehadiran Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam pada bulan yang mulia ini, dan tidaklah setiap bid’ah itu makruh (dibenci), betapa banyak bid’ah yang disunnahkan bahkan diwajibkan” (Ad Durar As Saniyah, Hal. 19)

3. Al Imam Al Muhaddits As Sakhawi berfatwa :

قال السخاوي إن عمل المولد حدث بعد القرون الثلاثة ثم لا زال أهل الإسلام من سائر الأقطار والمدن الكبار يعملون المولد ويتصدقون في لياليه بأنواع الصدقات ويعتنون بقراءة مولده الكريم ويظهر عليهم من بركاته كل فضل عميم

”Sesungguhnya amalan maulid baru terjadi setelah tiga zaman (maksudnya zaman nabi, sahabat, dan tabi’in), kemudian penduduk Islam di seluruh penjuru dan kota-kota besar melakukannya dan mereka bersedekah pada malam harinya dengan berbagai macam sedekah dan secara khusus membaca kisah kelahirannya yang mulia, dan nampaklah keberkahan bagi mereka pada setiap keutamaannya." (Ad-Dimyati, I'anathuth Thalibin, 3/364)

4. Imam Abu Syamah (Gurunya Imam Nawawi), berfatwa :

ومن أحسن ما ابتدع في زماننا ما يفعل كل عام في اليوم الموافق ليوم مولده صلى الله عليه وسلم من الصدقات والمعروف وإظهار الزينة والسرور فإن ذلك مع ما فيه من الإحسان للفقراء مشعر بمحبة النبي صلى الله عليه وسلم وتعظيمه في قلب فاعل ذلك وشكر الله تعالى على ما من به من إيجاد رسول الله صلى الله عليه وسلم الذي أرسله رحمة للعالمين

”Di antara bid'ah terbaik yang ada pada zaman kita adalah apa yang dilakukan pada setiap tahun di hari bertepatan dengan kelahiran Nabi shallallahu 'alayhi wasallam, mereka bersedekah, melakukan hal yang ma'ruf, menampilkan keindahan dan kebahagian, sebab yang demikian itu selain merupakan bukti berbuat baik kepada para fuqara juga merupakan wujud mencintai Nabi shallallahu 'alayhi wasallam dan memuliakannya di hati pelakunya, yang telah bersyukur kepada Allah Ta'ala atas karunia kehadiran Nabi shallallahu 'alayhi wasallam yang diutusNya sebagai rahmat bagi semesta." (Ad Dimyati, I'anatuth Thalibin, 3/364)

Bersambung..

Posting Komentar

Harap berkomentar yang bisa mendidik dan menambah ilmu kepada kami

Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler