✍ MENYEMIR RAMBUT WARNA HITAM.
Para ulama' madzhavb syafi'i berbeda pendapat mengenai hukum menyemir rambut dgn warna hitam, menurut Imam Ghozali, Imam Baghowi dan sebagian ashhab madzhab syafi'i hukumnya makruh, namun menurut Imam Nawawi pendapat yang dipilih (al-mukhtar) & benar (shohih) hukumnya harom, dan sebagian ulama' madzhab syafi'i yg scr tegas menyatakan harom adlh Imam Mawardi. Dalil keharomannya adlh hadits ;
أُتِيَ بِأَبِي قُحَافَةَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَرَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ كَالثَّغَامَةِ بَيَاضًا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ، وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ
“Pd hari penaklukan Makkah, Abu Quhafah dibawa ke hadapan Rasulullah saw, dgn rambut & jenggotnya yg memutih spt pohon tsaghamah (pohon yang daun dan buahnya putih). Maka Rasulullah saw bersabda: “Rubahlah warna (uban) ini dgn sesuatu, tapi jauhilah yg berwarna hitam.” (Shohih Muslim, no.2102, Sunan Abu Dawud, no.4204, Sunan Nasa'i, no.5076 dan Shohih Ibnu Hibban, no.5471)
Diriwayatkan pula dari Ibnu abbas ra ;
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ، كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ، لَا يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ
"Rosulullah saw bersabda, “Di akhir zaman nanti akan ada sekelompok orang yang menyemir rambutnya dg warna hitam bagaikan tembolok burung dara. Mrk tidak akan mencium bau surga” (Sunan Abu Dawud, no.4212)
Keharoman ini tdk hanya berlaku bagi laki2 saja, namu bagi laki2 & perempuan. Namun ada dua kriteria orang yg dikecualikan dari keharoman ini :
1. Orang yang sedang berperang dijalan Alloh (jihad fi sabilillah) dengan tujuan untuk melarikan musuh, maka diperbolehkan baginya untuk menyemir rambut dengan semir hitam.
2. Wanita yang menyemir rambutnya dengan semir hitam yang sudah mendapat izin dari suaminya, jika tanpa izin dari suami maka tetap harom. Alasan diperbolehkannya sebab wanita yang melakukannya dengan tujuan berhias diri untuk suaminya.
Kesimpulannya, menurut pendapat yang dipilih, menyemir rambut dengan semir hitam hukumnya harom, baik bagi laki-laki maupun perempuan kecuali bagi orang yang berjihad fi sabilillah dan wanita bersuami yang mendapat izin dari suaminya. Wallohu a'lam.
Referensi :
1. Al-Majmu', juz : 1 Hal : 294
2. Asnal Matholib, Juz : 1 Hal : 551
3. Roudhotut Tholibin, Juz : 1 Hal : 276
4. Nihayatul Muhtaj, Juz : 2 Hal : 24-25
Ibarot :
Al-Majmu', juz : 1 Hal : 294
فرع : اتفقوا على ذم خضاب الرأس أو اللحية بالسواد، ثم قال الغزالي في الإحياء والبغوي في التهذيب وآخرون من الأصحاب هو مكروه: وظاهر عباراتهم أنه كراهة تنزيه: والصحيح بل الصواب أنه حرام: وممن صرح بتحريمه صاحب الحاوي في باب الصلاة بالنجاسة: قال إلا أن يكون في الجهاد: وقال في آخر كتابه الأحكام السلطانية يمنع المحتسب الناس من خضاب الشيب بالسواد إلا المجاهد: ودليل تحريمه حديث جابر رضي الله عنه قال أتي بأبي قحافة والدأبي بكر الصديق رضي الله عنهما يوم فتح مكة ورأسه ولحيته كالثغامة بياضا فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم غيروا هذا واجتنبوا السواد رواه مسلم في صحيحه والثغامة بفتج الثاء المثلثة وتخفيف الغين المعجمة نبات له ثمر أبيض وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يكون قوم يخضبون في آخر الزمان بالسواد كحواصل الحمام لا يريحون رائحة الجنة رواه أبو داود والنسائي وغيرهما ولا فرق في المنع من الخضاب بالسواد بين الرجل والمرأة: هذا مذهبنا: وحكي عن اسحق بن راهويه أنه رخص فيه للمرأة تتزين به لزوجها والله أعلم
Asnal Matholib, Juz : 1 Hal : 551
وأن يخضب الشيب) أي الشعر الشائب (بالحمرة والصفرة) لما مر في شروط الصلاة نعم إن فعله تشبها بالصالحين والعلماء ومتبعي السنة من غير نية صحيحة كره قاله في المجموع (وهو) أي خضاب الشيب (بالسواد حرام) لما مر في شروط الصلاة أيضا ولخبر مسلم عن جابر قال «أتي بأبي قحافة - رضي الله عنه - يوم فتح مكة ورأسه ولحيته كالثغامة بياضا فقال - صلى الله عليه وسلم - غيروا هذا بشيء واجتنبوا السواد والثغامة» بفتح المثلثة وبالمعجمة نبت له ثمر أبيض وعبر مع هذا في الأصل عن الغزالي بالكراهة، وكذا عبر بها في المجموع، ولعل مراده كراهة التحريم قال: ولم يفرقوا فيه بين الرجل والمرأة (إلا للمج
اهد) في الكفار فلا بأس به إرهابا للعدو بإظهار الشباب والقوة
Roudhotut Tholibin, Juz : 1 Hal : 276
وأما تحمير
الوجنة، فإن كانت خلية من الزوج أو السيد أو كان أحدهما، وفعلته بغير إذنه فهو حرام، وإن كان بإذنه فجائز على المذهب، وقيل: وجهان كالوصل. وأما الخضاب بالسواد وتطريف الأصابع فألحقوه بالتحمير
Nihayatul Muhtaj, Juz : 2 Hal : 24-25
ويحرم على المرأة وصل شعرها بشعر طاهر من غير آدمي، ولم يأذنها فيه زوج أو سيد، ويجوز ربط الشعر بخيوط الحرير الملونة ونحوها مما لا يشبه الشعر. ويحرم أيضا تجعيد شعرها، ووشر أسنانها، وهو تحديدها وترقيقها، والخضاب بالسواد وتحمير الوجنة بالحناء ونحوه، وتطريف الأصابع مع السواد، والتنميص، وهو الأخذ من شعر الوجه والحاجب المحسن، فإن أذن لها زوجها أو سيدها في ذلك جاز؛ لأن له غرضا في تزيينها له كما في الروضة، وأصلها، وهو الأوجه
(gusdin moker)
✅ hukum menyemir rambut.
Memakai cat rambut warna HITAM tdk diperkenankan dlm ajaran islam berdasarkan Sabda Nabi SAW "Dari Jabir ra, dia berkata, ”Pd hr penaklukan Makkah, Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) dtg dlm keadaan kepala dan jenggotnya telah memutih (spt kapas, artinya beliau telah beruban). Lalu Rasulullah saw bersabda,
غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ
“Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam.” (HR. Muslim).
Menurut kalangan Syafiiyyah unsur pelarangan ini krn di katagorikan TAGHYIIRUL KHILQOH (merubah penciptaan Allah) terkecuali bagi WANITA yg telah MENIKAH yg bertujuan khusus utk menyenangkan hati suaminya & atas izin suaminya maka yg spt ini diperbolehkan. spt halnya malah disunnahkan bagi wanita utk mewarnai kuku tangan & kakinya bila suaminya memang suka dengan hal yang demikian. (Itsmid al'Aini 78)
Pelarangan mengecat rambut dengan warna HITAM seperti yang tertera dihadits diatas sebenarnya dasarnya cukup banyak diantaranya sabda Nabi Muhammad SAW "Pada akhir zaman nanti akan muncul suatu kaum yang bersemir dengan warna hitam seperti tembolok merpati. Mereka itu tidak akan mencium bau surga.” (HR. Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Hibban dalam shahihnya, dan Al Hakim. Al Hakim)
Seputar warna hitam yang dimaksud dalam hadits ini memang ada pendapat bahwa yang mengatakan bahwa yang dimaksud Nabi adalah warna hitam murni, jika bukan murni diperkenankan (Lihat Hasyiyah assanady ala annasaai 8/138 dan Hasyiyah as-suyuuthi ala annasaai 6/646), namun untuk lebih berhati-hati alangkah baiknya juga kita hindari. Terkecuali bagi :
1. WANITA yang telah MENIKAH yang bertujuan khusus untuk menyenangkan hati suaminya dan atas izin suaminya maka yang seperti ini diperbolehkan
2. Lelaki yang bertujuan untuk IRHAAB AL'ADUWW (memberikan rasa gentar pada musuh islam dimedan perang) seperti yang pernah dilakukan oleh sahabat Utsman, Abi dujanaah, 'Uqbah bin 'Aamir, Hasan Husen dll hanya karena peperangan dizaman ini sudah tidak ada berarti alasan diperkenankannya dengan sendirinya juga tidak ada (Syarh Annawaawy ala Muslim 14/80)
“Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak menyemir uban mereka, maka selisilah mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi, HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits ini diterangkan alasan disunnahkannya menyemir rambut dengan selain warna hitam demi menampakkan perbedaan dengan orang kafir (yang memang sangat dianjurkan), sebab meniru gaya dan kebiasaan orang kafir berarti sama halnya dengan mereka MAN TASYABBAHA BI QOUMIN FA WUHA MINHUM barang siapa menyerupai suatu kaum berati menjadi bagiannya.
Namun Imam Al Ghozali menyatakan bila suatu kesunahan sudah menjadi sebuah TREND ahli bid'ah maka berarti tidak boleh dikerjakan lagi karena khawatir akan menyerupai mereka. Meskipun pendapat ini ditentang oleh sebagian ulama lain seperti Izzudin Ibn Abdis Salam.
Dengan demikian ketika semir warna-warni selain hitam telah menjadi trend para preman atau anak punk seperti sekarang maka terjadi khilaf, ada yang membolehkan dan ada yang melarang.
Hukum selengkapnya mengenai semir selain warna hitam ini telah dibahas dalam Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri se-Jawa Timur (FMP3) Di PP. Tahfidzil Qur'an Lirboyo Kediri tahun 2010.
Pertanyaan :
Bagaimana hukum semir merah, kuning, baik pada keseluruhan rambut kepala atau hanya sebagian saja?
Jawaban :
Hukum bersemir merah, kuning, baik pada keseluruhan rambut kepala atau hanya sebagian dip
erinci sebagai berikut :
1.Dalam kondisi rambut beruban dan pada saat model semir tersebut menyerupai (tasyabbuh) pada kebiasaan (adat) orang-orang fasik, maka hukum bersemir merah dan kuning bagi laki-laki atau wanita yang belum bersuami terjadi khilaf (perbedaan ulama). Menurut Imam Al-Ghazali hukumnya haram Dan menurut Imam ‘Izzuddin Ibnu ‘Abdissalam tetap diperbolehkan.
2.Dalam kondisi rambut tidak beruban, maka diperbolehkan bagi wanita yang sudah bersuami atas seijin suaminya. Namun bagi wanita yang belum bersuami terjadi khilaf (perbedaan ulama). Menurut sebagian ulama haram karena
tasyabbuh bil fussaq (menyerupai kebiasaan orang-orang fasik). Dan menurut pendapat yang lain diperbolehkan apabila ada tujuan yang dibenarkan syariat (gharad shahih).
R E F E R E N S I :
1. Madzahibu Al-Arbaah vol II hal 46-47
2. Fihusni As-Sair hal 11-12
3. Ittihaf As-Sadah vol VII hal 591-592
4. Al-Bahru Al-Muhith vol I hal 356
5. Fath Al-Bari vol X hal 354
6. Syarhu An-Nawawi vol VII hal 204
الكتاب: إثمد العينين ص78
يحرم على الولي خضب شعر الصغير ولو أتثى إذا كان أصهب بالسواد لما فيه من تغيير الخلقة
مذاهب الأربعة الجزء الثاني صحـ 46 – 47
حكم صباغة الشعر تفصيل المذاهب
الشافعية- قالوا : يكرة صباغة اللحية والشعر بالسواد إلا الخضاب بالصفرة والحمرة فإنه جائز إذا كان لغرض شرعي كالظهور الشجاع أمام الأعداء في الغزو ونحوه. فإذا كان لغرض فاسد كالتشبه بأهل الدين فهو مذموم, وكذلك يكره صبغها بالبياض كي يظهر بمظهر الشيب ليتوصل بذلك إلى الأغراض المذمومة كتوقيره والإحتفاء به وقبول شهادته وغير ذلك وكما يكره تبييض اللحية بالصبغ فإنه يكره نتف شيبها.
حسن السير فى بيان أحكام أنوع التشبه صحـ 11-12
ما نصه فإن قلت فقد صرح هذا الخضاب شعارا الأعاجم وقد نهينا عن التشبه بهم لأن من تشبه بقوم فهو منهم فما تصنع فى هذا التعارض قلت أما حجة الإسلام الغزالى رضى الله عنه فإنه قال فى كتاب السماع من إحيائه مهما صارت السنة شعارا لأهل البدعة قلنا لتركها خوفا من التشبه بهم وأما سلطان العلماء العزالدين عبد السلام فإنه أشار إلى رده فى فتاوه إذا قال المراد بالأعاجم الذين نهينا عن التشبه بهم أتباع الأكثرة فى ذالك الزمان ويختص النهى بما يفعلون على خلاف مقتضى شرعنا فأما ما فعلوه على وفق الإيجاب أو الندب أو الإباحة في شرعنا فلا يترك لأجل تعاطيهم إياه فإن الشرع لا ينهى عن التشبه بما أذن الله فيه.
إتحاف السادة المتقين الجزء السابع صحـ 591 – 592 ( دار الكتب العلمية)
العلة الثالثة الاجتماع عليها لما أن صار من عادة أهل الفسق ) والفجور ( فيمنع من التشبه بهم لان من تشبه بقوم فهو منهم) الى أن قال (وبهذه العلة نقول بترك السنة مهما صارت شعارا لأهل البدعة خوفا من التشبه بهم ) وقد نقل الرافعي عن بعض أئمة الشافعية أنه كان يقول الأولى ترك رفع اليدين في الصلاة في ديارنا يعني ديار العجم قال لأنه صار شعارا للرافضة وله أمثلة كثيرة لكن قد يقال ليس كل شيء يفعله الفساق يحرم فعله على غيرهم ولو كان هذا معتبرا لكان الضرب بالدفوف والشبابة حراما الى أن قال.فلما لم يحرم شيء من ذلك علمنا أن هذه العلة غير معتبرة فتأمل .
البحر المحيط الجزء الأول صحـ 356
مسألة (لا يترك المندوب إذا صار شعارا للمبتدعة) ولا يترك لكونه صار شعارا للمبتدعة خلافا لابن أبي هريرة ولهذا ترك الترجيع في الأذان والجهر بالبسملة والقنوت في الصبح والتختم في اليمين وتسطيح القبور محتجا (بأنه صلى الله عليه وسلم ترك القيام للجنازة لما أخبر أن اليهود تفعله) وأجيب بأن له ذلك لأنه مشرع بخلاف غيره لا يترك سنة صحت عنه وفصل الغزالي بين السنن المستقلة وبين الهيئات التابعة فقال لا يترك القنوت إذا صار شعارا للمبتدعة بخلاف التسطيح والتختم في اليمين ونحوهما فإنها هيئات تابعة فحصل ثلاثة أوجه والصحيح المنع مطلقا .
فتح الباري شرح صحيح البخاري الجزء العاشر صحـ 354
والثغامه بضم المثلثة وتخفيف المعجمة نبات شديد البياض زهره وثمره قال: فمن كان في مثل حال أبي قحافة استحب له الخضاب لانه لا يحصل به الغرور لاحد ومن كان بخلافه فلا يستحب في حقّه,ولكن الخضاب مطلقا اولي لانه فيها امتثال الامر في مخالفة اهل الكتاب
شرح النووي على مسلم الجزء السابع صحـ 204
ومذهبنا استحباب خضاب الشيب للرجل والمرأة بصفرة أو حمرة ويحرم خضابه بالسواد على الأصح وقيل : يكره كراهة تنزيه والمختار التحريم لقوله صلى الله عليه وسلم : ( واجتنبوا السواد ) هذا مذهبنا .
حاشيتا قليوبي وعميرة الجزء الثاني صحـ 480
وأما الخضاب وصبغ نحو الشعر والنقش وتطريف نحو الأصابع وتحمير الوجه وتجعيد الشعر فحرام بالنجس مطلقا وكذا بالسواد إلا لحية الرجل المحارب لإرهاب العدو وكذا بغير السواد إن منع منه حليل ، وإلا فيجوز لكن مع
الكراهة في الخلية ،
حاشية الجمل الجزء الثاني صحـ 102
وفي فتاوى السيوطي في باب اللباس خضاب الشعر من الرأس واللحية بالحناء جائز للرجل بل سنة صرح به النووي في شرح المهذب نقلا عن اتفاق أصحابنا قال السيوطي وأما خضاب اليدين والرجلين بالحناء فمستحب للمرأة المتزوجة وحرام على الرجل ا هـ
إتحاف السادة المتقين الجزء الثاني صحـ 672
الثانى الخضاب بالصفرة والحمرة وهو جائز ) إ
ذا قرنته نية صالحة وهو أن يكون تلبيسا للشيب على الكفار فى الغزو عليهم والجهاد فيهم فإن لم يكن على هذه النية بل للتشبه بأهل الدين والصالحين وليس منهم فهو مذموم ولا يخفى أن مذهب المصنف أن الخضاب بغير السواد سنة سواء كان بحمرة أو صفرة وهذا لايحتاج فيه إلى نية الجهاد بل حاجة الجهاد تبيح السواد فضلا عن غيره كما تقدم فتأمل وقد قال رسول الله "الصفرة خضاب المسلمين والخمرة خضاب المؤمنين " – إلى أن قال – وفى الصحيحين من حيث ابن عمر أنه ويدل له ما رواه أبو داود في سننه مر رجل على النبي صلى الله عليه وسلم قد خضب بالحناء والكتم فقال هذا حسن فمر أخر خضب بالصفرة فقال هذا أحسن من هذا كله وما قال عياض من منع الخضاب مطلقا وعزاه لمالك والأكثرين لما روى من النهى عن تغيير الشيب ولأنه صلى الله عليه وسلم لم يغير شيبه وقد أجاب عنه النواوى بأنه ما مر من حديث ابن عمر وغيره لايمكن ولا تعليله قال والمختار أنه صلى الله عليه وسلم صبغ فى وقت وترك فى معظم الأوقات فأخبر كل بما رأى وهو صادق وهذا التأويل كالمتعين به بين الأحاديث.
عون المعبود الجزء الحادى عشرة صحـ 249
باب في الخضاب أي تغيير شيب الرأس واللحية يبلغ به أي يرفع الحديث إلى النبي صلى الله عليه وسلم إن اليهود والنصارى لا يصبغون أي لا يخضبون لحاهم وجاء صبغ من باب منع وضرب ونصر كما في القاموس فخالفوهم أي فأخضبوا لحاكم والحديث يدل على أن العلة في شرعية الخضاب هي مخالفة أهل الكتاب وبهذا يتأكد استحباب الخضاب وقد كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يبالغ في مخالفتهم ويأمر بها وهذه السنة قد كثر إشغال السلف بها ولهذا ترى المؤرخين في التراجم لهم يقولون وكان يخضب ولا تخضب قال النووي مذهبنا استحباب خضاب الشيب للرجل والمرأة بصفرة أو حمرة ويحرم بالسواد على الأصح انتهى
إعانة الطالبين الجزء الثاني صحـ 339)
وقوله بحمرة أو صفرة ) أي لا بسواد أما به فيحرم إن كان لغير إرهاب العدو في الجهاد وذلك لخبر أبي دواد والنسائي وابن حبان في صحيحه والحاكم عن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يكون قوم يخضبون في آخر الزمان بالسواد كحواصل الحمام لا يريحون رائحة الجنة قال في الزبد :
وحرموا خضاب شعر بسواد لرجل وامرأة لا للجهاد
قال الرملي في شرحه نعم يجوز للمرأة ذلك بإذن زوجها أو سيدها لأن له غرضا في تزينها به اهـ
الكتاب: فتاوى عزالدين بن عبد السلام ص37
مسئلة :
اذا ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم سنة هل يجوز تركها لكون المبتدع يفعلها ام لا ؟
الجواب : لا يجوز ترك السنة لمشاركة المبتدعين فيها اذ لا يترك الحق لأجل الباطل وما زال العلماء والصالحون يقيمون السنن مع العلم بمشاركة المبتدعين , واذا لم يترك الحق لأجل الباطل , فكيف يترك الحق لأجل المشاركة , ولو ساغ ذلك لترك الأذان , والاقامة والسنن الراتبة وصلاة الاعياد وعيادة المرضى والتسليم وتشميت العاطس والصدقات والضيافات وجميع المبرات المندوبات والله اعلم
{GUSDIN MOKER}
Para ulama' madzhavb syafi'i berbeda pendapat mengenai hukum menyemir rambut dgn warna hitam, menurut Imam Ghozali, Imam Baghowi dan sebagian ashhab madzhab syafi'i hukumnya makruh, namun menurut Imam Nawawi pendapat yang dipilih (al-mukhtar) & benar (shohih) hukumnya harom, dan sebagian ulama' madzhab syafi'i yg scr tegas menyatakan harom adlh Imam Mawardi. Dalil keharomannya adlh hadits ;
أُتِيَ بِأَبِي قُحَافَةَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَرَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ كَالثَّغَامَةِ بَيَاضًا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ، وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ
“Pd hari penaklukan Makkah, Abu Quhafah dibawa ke hadapan Rasulullah saw, dgn rambut & jenggotnya yg memutih spt pohon tsaghamah (pohon yang daun dan buahnya putih). Maka Rasulullah saw bersabda: “Rubahlah warna (uban) ini dgn sesuatu, tapi jauhilah yg berwarna hitam.” (Shohih Muslim, no.2102, Sunan Abu Dawud, no.4204, Sunan Nasa'i, no.5076 dan Shohih Ibnu Hibban, no.5471)
Diriwayatkan pula dari Ibnu abbas ra ;
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ، كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ، لَا يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ
"Rosulullah saw bersabda, “Di akhir zaman nanti akan ada sekelompok orang yang menyemir rambutnya dg warna hitam bagaikan tembolok burung dara. Mrk tidak akan mencium bau surga” (Sunan Abu Dawud, no.4212)
Keharoman ini tdk hanya berlaku bagi laki2 saja, namu bagi laki2 & perempuan. Namun ada dua kriteria orang yg dikecualikan dari keharoman ini :
1. Orang yang sedang berperang dijalan Alloh (jihad fi sabilillah) dengan tujuan untuk melarikan musuh, maka diperbolehkan baginya untuk menyemir rambut dengan semir hitam.
2. Wanita yang menyemir rambutnya dengan semir hitam yang sudah mendapat izin dari suaminya, jika tanpa izin dari suami maka tetap harom. Alasan diperbolehkannya sebab wanita yang melakukannya dengan tujuan berhias diri untuk suaminya.
Kesimpulannya, menurut pendapat yang dipilih, menyemir rambut dengan semir hitam hukumnya harom, baik bagi laki-laki maupun perempuan kecuali bagi orang yang berjihad fi sabilillah dan wanita bersuami yang mendapat izin dari suaminya. Wallohu a'lam.
Referensi :
1. Al-Majmu', juz : 1 Hal : 294
2. Asnal Matholib, Juz : 1 Hal : 551
3. Roudhotut Tholibin, Juz : 1 Hal : 276
4. Nihayatul Muhtaj, Juz : 2 Hal : 24-25
Ibarot :
Al-Majmu', juz : 1 Hal : 294
فرع : اتفقوا على ذم خضاب الرأس أو اللحية بالسواد، ثم قال الغزالي في الإحياء والبغوي في التهذيب وآخرون من الأصحاب هو مكروه: وظاهر عباراتهم أنه كراهة تنزيه: والصحيح بل الصواب أنه حرام: وممن صرح بتحريمه صاحب الحاوي في باب الصلاة بالنجاسة: قال إلا أن يكون في الجهاد: وقال في آخر كتابه الأحكام السلطانية يمنع المحتسب الناس من خضاب الشيب بالسواد إلا المجاهد: ودليل تحريمه حديث جابر رضي الله عنه قال أتي بأبي قحافة والدأبي بكر الصديق رضي الله عنهما يوم فتح مكة ورأسه ولحيته كالثغامة بياضا فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم غيروا هذا واجتنبوا السواد رواه مسلم في صحيحه والثغامة بفتج الثاء المثلثة وتخفيف الغين المعجمة نبات له ثمر أبيض وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يكون قوم يخضبون في آخر الزمان بالسواد كحواصل الحمام لا يريحون رائحة الجنة رواه أبو داود والنسائي وغيرهما ولا فرق في المنع من الخضاب بالسواد بين الرجل والمرأة: هذا مذهبنا: وحكي عن اسحق بن راهويه أنه رخص فيه للمرأة تتزين به لزوجها والله أعلم
Asnal Matholib, Juz : 1 Hal : 551
وأن يخضب الشيب) أي الشعر الشائب (بالحمرة والصفرة) لما مر في شروط الصلاة نعم إن فعله تشبها بالصالحين والعلماء ومتبعي السنة من غير نية صحيحة كره قاله في المجموع (وهو) أي خضاب الشيب (بالسواد حرام) لما مر في شروط الصلاة أيضا ولخبر مسلم عن جابر قال «أتي بأبي قحافة - رضي الله عنه - يوم فتح مكة ورأسه ولحيته كالثغامة بياضا فقال - صلى الله عليه وسلم - غيروا هذا بشيء واجتنبوا السواد والثغامة» بفتح المثلثة وبالمعجمة نبت له ثمر أبيض وعبر مع هذا في الأصل عن الغزالي بالكراهة، وكذا عبر بها في المجموع، ولعل مراده كراهة التحريم قال: ولم يفرقوا فيه بين الرجل والمرأة (إلا للمج
اهد) في الكفار فلا بأس به إرهابا للعدو بإظهار الشباب والقوة
Roudhotut Tholibin, Juz : 1 Hal : 276
وأما تحمير
الوجنة، فإن كانت خلية من الزوج أو السيد أو كان أحدهما، وفعلته بغير إذنه فهو حرام، وإن كان بإذنه فجائز على المذهب، وقيل: وجهان كالوصل. وأما الخضاب بالسواد وتطريف الأصابع فألحقوه بالتحمير
Nihayatul Muhtaj, Juz : 2 Hal : 24-25
ويحرم على المرأة وصل شعرها بشعر طاهر من غير آدمي، ولم يأذنها فيه زوج أو سيد، ويجوز ربط الشعر بخيوط الحرير الملونة ونحوها مما لا يشبه الشعر. ويحرم أيضا تجعيد شعرها، ووشر أسنانها، وهو تحديدها وترقيقها، والخضاب بالسواد وتحمير الوجنة بالحناء ونحوه، وتطريف الأصابع مع السواد، والتنميص، وهو الأخذ من شعر الوجه والحاجب المحسن، فإن أذن لها زوجها أو سيدها في ذلك جاز؛ لأن له غرضا في تزيينها له كما في الروضة، وأصلها، وهو الأوجه
(gusdin moker)
✅ hukum menyemir rambut.
Memakai cat rambut warna HITAM tdk diperkenankan dlm ajaran islam berdasarkan Sabda Nabi SAW "Dari Jabir ra, dia berkata, ”Pd hr penaklukan Makkah, Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) dtg dlm keadaan kepala dan jenggotnya telah memutih (spt kapas, artinya beliau telah beruban). Lalu Rasulullah saw bersabda,
غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ
“Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam.” (HR. Muslim).
Menurut kalangan Syafiiyyah unsur pelarangan ini krn di katagorikan TAGHYIIRUL KHILQOH (merubah penciptaan Allah) terkecuali bagi WANITA yg telah MENIKAH yg bertujuan khusus utk menyenangkan hati suaminya & atas izin suaminya maka yg spt ini diperbolehkan. spt halnya malah disunnahkan bagi wanita utk mewarnai kuku tangan & kakinya bila suaminya memang suka dengan hal yang demikian. (Itsmid al'Aini 78)
Pelarangan mengecat rambut dengan warna HITAM seperti yang tertera dihadits diatas sebenarnya dasarnya cukup banyak diantaranya sabda Nabi Muhammad SAW "Pada akhir zaman nanti akan muncul suatu kaum yang bersemir dengan warna hitam seperti tembolok merpati. Mereka itu tidak akan mencium bau surga.” (HR. Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Hibban dalam shahihnya, dan Al Hakim. Al Hakim)
Seputar warna hitam yang dimaksud dalam hadits ini memang ada pendapat bahwa yang mengatakan bahwa yang dimaksud Nabi adalah warna hitam murni, jika bukan murni diperkenankan (Lihat Hasyiyah assanady ala annasaai 8/138 dan Hasyiyah as-suyuuthi ala annasaai 6/646), namun untuk lebih berhati-hati alangkah baiknya juga kita hindari. Terkecuali bagi :
1. WANITA yang telah MENIKAH yang bertujuan khusus untuk menyenangkan hati suaminya dan atas izin suaminya maka yang seperti ini diperbolehkan
2. Lelaki yang bertujuan untuk IRHAAB AL'ADUWW (memberikan rasa gentar pada musuh islam dimedan perang) seperti yang pernah dilakukan oleh sahabat Utsman, Abi dujanaah, 'Uqbah bin 'Aamir, Hasan Husen dll hanya karena peperangan dizaman ini sudah tidak ada berarti alasan diperkenankannya dengan sendirinya juga tidak ada (Syarh Annawaawy ala Muslim 14/80)
“Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak menyemir uban mereka, maka selisilah mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi, HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits ini diterangkan alasan disunnahkannya menyemir rambut dengan selain warna hitam demi menampakkan perbedaan dengan orang kafir (yang memang sangat dianjurkan), sebab meniru gaya dan kebiasaan orang kafir berarti sama halnya dengan mereka MAN TASYABBAHA BI QOUMIN FA WUHA MINHUM barang siapa menyerupai suatu kaum berati menjadi bagiannya.
Namun Imam Al Ghozali menyatakan bila suatu kesunahan sudah menjadi sebuah TREND ahli bid'ah maka berarti tidak boleh dikerjakan lagi karena khawatir akan menyerupai mereka. Meskipun pendapat ini ditentang oleh sebagian ulama lain seperti Izzudin Ibn Abdis Salam.
Dengan demikian ketika semir warna-warni selain hitam telah menjadi trend para preman atau anak punk seperti sekarang maka terjadi khilaf, ada yang membolehkan dan ada yang melarang.
Hukum selengkapnya mengenai semir selain warna hitam ini telah dibahas dalam Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri se-Jawa Timur (FMP3) Di PP. Tahfidzil Qur'an Lirboyo Kediri tahun 2010.
Pertanyaan :
Bagaimana hukum semir merah, kuning, baik pada keseluruhan rambut kepala atau hanya sebagian saja?
Jawaban :
Hukum bersemir merah, kuning, baik pada keseluruhan rambut kepala atau hanya sebagian dip
erinci sebagai berikut :
1.Dalam kondisi rambut beruban dan pada saat model semir tersebut menyerupai (tasyabbuh) pada kebiasaan (adat) orang-orang fasik, maka hukum bersemir merah dan kuning bagi laki-laki atau wanita yang belum bersuami terjadi khilaf (perbedaan ulama). Menurut Imam Al-Ghazali hukumnya haram Dan menurut Imam ‘Izzuddin Ibnu ‘Abdissalam tetap diperbolehkan.
2.Dalam kondisi rambut tidak beruban, maka diperbolehkan bagi wanita yang sudah bersuami atas seijin suaminya. Namun bagi wanita yang belum bersuami terjadi khilaf (perbedaan ulama). Menurut sebagian ulama haram karena
tasyabbuh bil fussaq (menyerupai kebiasaan orang-orang fasik). Dan menurut pendapat yang lain diperbolehkan apabila ada tujuan yang dibenarkan syariat (gharad shahih).
R E F E R E N S I :
1. Madzahibu Al-Arbaah vol II hal 46-47
2. Fihusni As-Sair hal 11-12
3. Ittihaf As-Sadah vol VII hal 591-592
4. Al-Bahru Al-Muhith vol I hal 356
5. Fath Al-Bari vol X hal 354
6. Syarhu An-Nawawi vol VII hal 204
الكتاب: إثمد العينين ص78
يحرم على الولي خضب شعر الصغير ولو أتثى إذا كان أصهب بالسواد لما فيه من تغيير الخلقة
مذاهب الأربعة الجزء الثاني صحـ 46 – 47
حكم صباغة الشعر تفصيل المذاهب
الشافعية- قالوا : يكرة صباغة اللحية والشعر بالسواد إلا الخضاب بالصفرة والحمرة فإنه جائز إذا كان لغرض شرعي كالظهور الشجاع أمام الأعداء في الغزو ونحوه. فإذا كان لغرض فاسد كالتشبه بأهل الدين فهو مذموم, وكذلك يكره صبغها بالبياض كي يظهر بمظهر الشيب ليتوصل بذلك إلى الأغراض المذمومة كتوقيره والإحتفاء به وقبول شهادته وغير ذلك وكما يكره تبييض اللحية بالصبغ فإنه يكره نتف شيبها.
حسن السير فى بيان أحكام أنوع التشبه صحـ 11-12
ما نصه فإن قلت فقد صرح هذا الخضاب شعارا الأعاجم وقد نهينا عن التشبه بهم لأن من تشبه بقوم فهو منهم فما تصنع فى هذا التعارض قلت أما حجة الإسلام الغزالى رضى الله عنه فإنه قال فى كتاب السماع من إحيائه مهما صارت السنة شعارا لأهل البدعة قلنا لتركها خوفا من التشبه بهم وأما سلطان العلماء العزالدين عبد السلام فإنه أشار إلى رده فى فتاوه إذا قال المراد بالأعاجم الذين نهينا عن التشبه بهم أتباع الأكثرة فى ذالك الزمان ويختص النهى بما يفعلون على خلاف مقتضى شرعنا فأما ما فعلوه على وفق الإيجاب أو الندب أو الإباحة في شرعنا فلا يترك لأجل تعاطيهم إياه فإن الشرع لا ينهى عن التشبه بما أذن الله فيه.
إتحاف السادة المتقين الجزء السابع صحـ 591 – 592 ( دار الكتب العلمية)
العلة الثالثة الاجتماع عليها لما أن صار من عادة أهل الفسق ) والفجور ( فيمنع من التشبه بهم لان من تشبه بقوم فهو منهم) الى أن قال (وبهذه العلة نقول بترك السنة مهما صارت شعارا لأهل البدعة خوفا من التشبه بهم ) وقد نقل الرافعي عن بعض أئمة الشافعية أنه كان يقول الأولى ترك رفع اليدين في الصلاة في ديارنا يعني ديار العجم قال لأنه صار شعارا للرافضة وله أمثلة كثيرة لكن قد يقال ليس كل شيء يفعله الفساق يحرم فعله على غيرهم ولو كان هذا معتبرا لكان الضرب بالدفوف والشبابة حراما الى أن قال.فلما لم يحرم شيء من ذلك علمنا أن هذه العلة غير معتبرة فتأمل .
البحر المحيط الجزء الأول صحـ 356
مسألة (لا يترك المندوب إذا صار شعارا للمبتدعة) ولا يترك لكونه صار شعارا للمبتدعة خلافا لابن أبي هريرة ولهذا ترك الترجيع في الأذان والجهر بالبسملة والقنوت في الصبح والتختم في اليمين وتسطيح القبور محتجا (بأنه صلى الله عليه وسلم ترك القيام للجنازة لما أخبر أن اليهود تفعله) وأجيب بأن له ذلك لأنه مشرع بخلاف غيره لا يترك سنة صحت عنه وفصل الغزالي بين السنن المستقلة وبين الهيئات التابعة فقال لا يترك القنوت إذا صار شعارا للمبتدعة بخلاف التسطيح والتختم في اليمين ونحوهما فإنها هيئات تابعة فحصل ثلاثة أوجه والصحيح المنع مطلقا .
فتح الباري شرح صحيح البخاري الجزء العاشر صحـ 354
والثغامه بضم المثلثة وتخفيف المعجمة نبات شديد البياض زهره وثمره قال: فمن كان في مثل حال أبي قحافة استحب له الخضاب لانه لا يحصل به الغرور لاحد ومن كان بخلافه فلا يستحب في حقّه,ولكن الخضاب مطلقا اولي لانه فيها امتثال الامر في مخالفة اهل الكتاب
شرح النووي على مسلم الجزء السابع صحـ 204
ومذهبنا استحباب خضاب الشيب للرجل والمرأة بصفرة أو حمرة ويحرم خضابه بالسواد على الأصح وقيل : يكره كراهة تنزيه والمختار التحريم لقوله صلى الله عليه وسلم : ( واجتنبوا السواد ) هذا مذهبنا .
حاشيتا قليوبي وعميرة الجزء الثاني صحـ 480
وأما الخضاب وصبغ نحو الشعر والنقش وتطريف نحو الأصابع وتحمير الوجه وتجعيد الشعر فحرام بالنجس مطلقا وكذا بالسواد إلا لحية الرجل المحارب لإرهاب العدو وكذا بغير السواد إن منع منه حليل ، وإلا فيجوز لكن مع
الكراهة في الخلية ،
حاشية الجمل الجزء الثاني صحـ 102
وفي فتاوى السيوطي في باب اللباس خضاب الشعر من الرأس واللحية بالحناء جائز للرجل بل سنة صرح به النووي في شرح المهذب نقلا عن اتفاق أصحابنا قال السيوطي وأما خضاب اليدين والرجلين بالحناء فمستحب للمرأة المتزوجة وحرام على الرجل ا هـ
إتحاف السادة المتقين الجزء الثاني صحـ 672
الثانى الخضاب بالصفرة والحمرة وهو جائز ) إ
ذا قرنته نية صالحة وهو أن يكون تلبيسا للشيب على الكفار فى الغزو عليهم والجهاد فيهم فإن لم يكن على هذه النية بل للتشبه بأهل الدين والصالحين وليس منهم فهو مذموم ولا يخفى أن مذهب المصنف أن الخضاب بغير السواد سنة سواء كان بحمرة أو صفرة وهذا لايحتاج فيه إلى نية الجهاد بل حاجة الجهاد تبيح السواد فضلا عن غيره كما تقدم فتأمل وقد قال رسول الله "الصفرة خضاب المسلمين والخمرة خضاب المؤمنين " – إلى أن قال – وفى الصحيحين من حيث ابن عمر أنه ويدل له ما رواه أبو داود في سننه مر رجل على النبي صلى الله عليه وسلم قد خضب بالحناء والكتم فقال هذا حسن فمر أخر خضب بالصفرة فقال هذا أحسن من هذا كله وما قال عياض من منع الخضاب مطلقا وعزاه لمالك والأكثرين لما روى من النهى عن تغيير الشيب ولأنه صلى الله عليه وسلم لم يغير شيبه وقد أجاب عنه النواوى بأنه ما مر من حديث ابن عمر وغيره لايمكن ولا تعليله قال والمختار أنه صلى الله عليه وسلم صبغ فى وقت وترك فى معظم الأوقات فأخبر كل بما رأى وهو صادق وهذا التأويل كالمتعين به بين الأحاديث.
عون المعبود الجزء الحادى عشرة صحـ 249
باب في الخضاب أي تغيير شيب الرأس واللحية يبلغ به أي يرفع الحديث إلى النبي صلى الله عليه وسلم إن اليهود والنصارى لا يصبغون أي لا يخضبون لحاهم وجاء صبغ من باب منع وضرب ونصر كما في القاموس فخالفوهم أي فأخضبوا لحاكم والحديث يدل على أن العلة في شرعية الخضاب هي مخالفة أهل الكتاب وبهذا يتأكد استحباب الخضاب وقد كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يبالغ في مخالفتهم ويأمر بها وهذه السنة قد كثر إشغال السلف بها ولهذا ترى المؤرخين في التراجم لهم يقولون وكان يخضب ولا تخضب قال النووي مذهبنا استحباب خضاب الشيب للرجل والمرأة بصفرة أو حمرة ويحرم بالسواد على الأصح انتهى
إعانة الطالبين الجزء الثاني صحـ 339)
وقوله بحمرة أو صفرة ) أي لا بسواد أما به فيحرم إن كان لغير إرهاب العدو في الجهاد وذلك لخبر أبي دواد والنسائي وابن حبان في صحيحه والحاكم عن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يكون قوم يخضبون في آخر الزمان بالسواد كحواصل الحمام لا يريحون رائحة الجنة قال في الزبد :
وحرموا خضاب شعر بسواد لرجل وامرأة لا للجهاد
قال الرملي في شرحه نعم يجوز للمرأة ذلك بإذن زوجها أو سيدها لأن له غرضا في تزينها به اهـ
الكتاب: فتاوى عزالدين بن عبد السلام ص37
مسئلة :
اذا ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم سنة هل يجوز تركها لكون المبتدع يفعلها ام لا ؟
الجواب : لا يجوز ترك السنة لمشاركة المبتدعين فيها اذ لا يترك الحق لأجل الباطل وما زال العلماء والصالحون يقيمون السنن مع العلم بمشاركة المبتدعين , واذا لم يترك الحق لأجل الباطل , فكيف يترك الحق لأجل المشاركة , ولو ساغ ذلك لترك الأذان , والاقامة والسنن الراتبة وصلاة الاعياد وعيادة المرضى والتسليم وتشميت العاطس والصدقات والضيافات وجميع المبرات المندوبات والله اعلم
{GUSDIN MOKER}