KALAM DAN PEMBAGIANNYA
|
(فَأَمَّا أَقْسَامُ الْكَلَامُ فَأقَلُّ مَا
يَتَرَكَّبُ مِنْهُ الْكَلَامُ اسْمَانِ نَحْوُ زَيْدٌ قَائِمٌ (أَوْ اسْمٌ
وَفِعْلٌ) نَحْوُ قَامَ زَيْدٌ (أَوْ فِعْلٌ وَحَرْفٌ) نَحْوُ مَا قَامَ،
أَثْبَتَهُ بَعْضُهُمْ، وَلَمْ يَعُدَّ الضَّمِيْرَ فِيْ قَامَ الرَّاجِعَ إِلَى
زَيْدٌ مَثَلاً لِعَدَمِ ظُهُوْرِهِ،
وَالْجُمْهُوْرُ
|
|
Beberapa
pembagian kalam. Batas minimal susunan kalam adakalanya dua isim, contoh زَيْدٌ قَائِمٌ atau isim dan
fiil, contoh قَامَ
زَيْدٌ atau fiil dan
huruf, contoh مَا قَامَ ditetapkan oleh sebagian ulama dan
mereka tidak menghitung dhamir dalam lafadz قَامَ yang
kembali semisal pada Zaid, karena dhamir
tersebut tidak nampak.
|
|
عَلَى عَدِّهِ كَلِمَةً (أَوْ اسْمٌ وَحَرْفٌ) وَذَلِكَ فِيْ النِّدَاءِ،
نَحْوُ يَا زَيْدُ وَإِنْ كَانَ الْمَعْنَى أَدْعُوْ أَوْ أُنَادِيْ زَيْداً
|
|
Menurut jumhur, dhamir tersebut
dihitung satu kalimat. Atau isim dan huruf, yang terdapat dalam nida’, contoh
يَا زَيْدُ, walaupun maknanya adalah “saya menyeru atau
memanggil Zaid”
|
Penjelasan :
Batas minimal susunan sebuah kalam adalah dua kalimat, yakni;
1.
Terdiri dari dua isim, dapat dipilah dalam empat bentuk.
|
No
|
Susunan
|
Contoh
|
|
1.
|
Mubtada dan khabar
|
زَيْدٌ قَائِمُ (Zaid yang berdiri)
|
|
2.
|
Mubtadak dan fail yang
menempati kedudukan khabar
|
أَقَائِمٌ زَيْدٌ (Apakah Zaid berdiri)
|
|
3.
|
Mubtadak dan naibul fail
yang menempati kedudukan khabar
|
أَمَضْرُوْبٌ زَيْدَانِ (Apakah Zaid dipukul)
|
|
4.
|
Isim fiil dan fail
|
هَيْهَاتَ العَتِيْقُ (Jauh sekali lembah Aqiq)
|
2.
Isim dan fiil contohقَامَ زَيْدٌ (Zaid berdiri)
3.
Fiil dan huruf contoh ماَ قَامَ (Zaid tidak berdiri)
4.
Isim dan huruf contoh يَا زَيْدٌ (Wahai Zaid)
Pertanyaan :
Mengapa dalam lafadz مَا قَامَ, dhamir dikatakan sebagai sesuatu
yang tidak nampak?
Jawab :
Karena dhamir merupakan gambaran akal yang keberadaannya tidak bisa
dinyatakan dan tidak wujud dalam kenyataan, sebab tidak berbentuk lafadz dan
juga tidak ada lafadz yang dibuat untuknya
Referensi :
وَإِنَّمَا لَمْ يُعَدَّ لِعَدَمِ ظُهُوْرِهِ لِأَنَّهُ
صُوْرَةٌ عَقْلِيَّةٌ لَا تَحَقُّقَ لَهُ وَلَا وُجُوْدَ لَهُ فِيْ الْخَارِجِ
إِذْ لَيْسَ بِلَفْظٍ وَلَا وُضِعَ لَهُ لَفْظٌ (اَلنَّفَحَاتُ صـ 37)
“Dan sesungguhnya tidak dihitungnya dhamir karena
tidak nampak, karena dhamir merupakan gambaran akal yang keberadaannya tidak
bisa dinyatakan dan tidak wujud dalam kenyataan, sebab tidak berbentuk lafadz
dan juga tidak ada lafadz yang dibuat untuknya”
|
(وَالْكَلَامُ
يَنْقَسِمُ إِلَى أَمْرٍ وَنَهْيٍ) نَحْوُ قُمْ وَلَا تَقْعُدْ (وَخَبَرٍ)
نَحْوُ جَاءَ زَيْدٌ (وَاسْتِخْبَارٍ) وَهُوَ الْاِسْتِفْهَامُ نَحْوُ هَلْ
قَامَ زَيْدٌ؟ فَيُقَالُ: نَعَمْ أَوْ لَا
(وَيَنْقَسِمُ أَيْضاً إِلَى تَمَنٍّ) نَحْوُ لَيْتَ
الشَّبَابَ يَعُوْدُ يَوْماً (وَعَرْضٍ) نَحْوُ أَلَا تَنْزِلُ عِنْدَنَا
(وَقَسَمٍ) نَحْوُ وَاللهِ لَأَفْعَلَنَّ كَذَا
|
|
Kalam terbagi
menjadi,
1.
Amr, contoh قُمْ
2.
Nahi, contoh لَا تَقْعُدْ
3.
Khabar, contoh جَاءَ زَيْدٌ
4.
Istikhbar, yakni istifham, contoh:
هَلْ قَامَ زَيْدٌ؟ maka dijawab ya
atau tidak.
Kalam terbagi
lagi menjadi,
1.
Tamanni, contoh لَيْتَ الشَّبَابَ يَعُوْدُ يَوْمًا
2.
‘Ardhi, contoh أَلَا تَنْزِلْ عِنْدَنَا
3.
Qasam, contoh وَاللهِ لَأَفْعَلَنَّ كَذَا
|
Penjelasan :
Dari sisi kandungannya, kalam terbagi beberapa macam :
1.
Amr, yaitu kalam yang mengandung arti menuntut dilakukannya pekerjaan,
contoh قُمْ (berdirilah!).
2. Nahi, yaitu kalam yang yang mengandung arti menuntut
ditinggalkannya pekerjaan, contoh لَا تَقْعُدْ (jangan
duduk!).
3. Khabar (berita), yaitu kalam yang mengandung arti
sebuah berita yang mungkin benar dan bohong secara dzatiyah, contoh جَاءَ زَيْدٌ (Zaid
telah datang).
4. Istikhbar (istifham), yaitu kalam yang mengandung arti
tuntutan untuk menjelaskan sesuatu, contoh: هَلْ قَامَ زَيْدٌ؟ (Apakah Zaid berdiri?) maka
dijawab ya atau tidak.
5. Tamanni, yaitu kalam yang mengandung arti menginginkan
sesuatu yang tidak mungkin didapatkan, contoh: لَيْتَ الشَّبَابَ يَعُوْدُ يَوْمًا (Andai masa muda kembali suatu
hari), atau sulit didapatkan, contoh orang miskin berkata : لَيْتَ لِيْ قِنْطَارًا مِنْ ذَهَبٍ فَأَحُجَّ
مِنْهُ (Andai aku punya segudang emas, maka akan aku gunakan
berangkat haji).
6. ‘Ardhi, yaitu kalam yang dimulai dengan lafadz أَلَا dan menunjukan
arti permintaan halus dan santai, contoh أَلَا تَنْزِلْ عِنْدَنَا (mari singgah ke tempatku).
7. Tahdhidh, yaitu kalam yang dimulai dengan lafadz هَلَا dan menunjukan
arti permintaan dengan keras dan menghardik, contoh : هَلَا أَكْرَمْتَ زَيْدًا (Ayo muliakanlah Zaid). Kalam ini
tidak disebutkan pengarang karena hakikatnya sama dengan ‘ardhi, yakni meminta
sesuatu yang disukai.[1][13]
8. Qasam, yaitu kalam yang mengandung arti sumpah,
contoh:
وَاللهِ لَأَفْعَلَنَّ كَذَا (demi
Allah pasti aku akan melakukan demikian).
|
(وَمِنْ وَجْهٍ آخَرَ يَنْقَسِمُ إِلَى حَقِيقَةٍ
وَمَجَازٍ فَالْحَقِيْقَةُ مَا بَقِيَ فِيْ الْاسْتِعَمَالِ عَلَى مَوْضُوْعِهِ
وَقِيلَ مَا اسْتُعْمِلَ فِيْمَا اصْطُلِحَ عَلَيْهِ مِنْ المُخَاطَبَةِ) وَإِنْ
لَمْ يَبْقَ عَلَى مَوْضُوْعِهِ كَالصَّلَاةِ فِي الْهَيْئَةِ الْمَخْصُوْصَةِ،
فَإِنَّهُ لَمْ يَبْقَ عَلَى مَوْضُوْعِهِ اللُّغَوِيِّ وَهُوَ الدُّعَاءُ
بِخَيْرٍ، وَالدَّابَّةِ لِذَاتِ الْأَرْبَعِ كَالْحِمَارِ فَإِنَّهُ لَمْ
يَبْقَ عَلَى مَوْضُوْعِهِ وَهُوَ كُلُّ مَا يَدُبُّ عَلَى الْأَرْضِ.
|
|
Dari
sisi lain kalam terbagi menjadi hakikat dan majaz. Hakikat adalah lafadz yang
dalam penggunaannya sesuai makna asal lughat. Menurut pendapat lain, hakikat ialah
lafadz yang digunakan pada arti yang diistilahkan perbincangan[2][14],
walaupun tidak bergeser dari arti asal (arti lughat). Seperti lafadz shalat,
digunakan untuk (hakikat syar’i) berupa ibadah dengan tata cara tertentu.
Penggunaan ini sudah tidak menetapi arti asal lughat, yakni berdoa dengan
kebaikan.
Contoh
lain kata ad-dabbah, digunakan untuk (hakikat urfi) berupa binatang berkaki
empat. Penggunaan ini sudah tidak menetapi makna asal lughat, yakni setiap
binatang melata di atas bumi.
|
Penjelasan :
Mengenai definisi hakikat, terdapat dua pendapat.
1.
Pendapat pertama, hakikat adalah lafadz yang digunakan sesuai makna asal lughatnya, contoh;
§
Lafadzأَسَدٌ digunakan untuk makna hewan buas
§
Lafadzالصَّلَاة digunakan untuk makna berdoa kebaikan
§
Lafadzالدَّابَة digunakan untuk makna setiap binatang melata di muka
bumi
2.
Pendapat kedua, hakikat adalah lafadz
yang digunakan dalam makna yang dijadikan istilah perbincangan (istilah at-takhathub), meskipun telah keluar dari makna
lughatnya. Contoh;
§
Lafadzالصَّلَاة digunakan untuk makna ibadah
dengan tatacara tertentu oleh kelompok fuqaha.
§
Lafadzالدَّابَة digunakan untuk makna hewan
berkaki empat seperti kambing kelompok
urf (manusia umum).
Maskipun kedua makna di atas telah keluar dari makna lughatnya.
|
(وَالْمَجَازُ مَا تُجُوِّزَ) أَيْ تُعُدِّيَ بِهِ
(عَنْ مَوْضُوْعِهِ) وَهَذَا عَلَى المَعْنَى الْأَوَّلِ للْحَقِيْقَةِ، وَعَلَى
الثَّانِيْ : هُوَ مَا اسْتُعْمِلَ فِيْ غَيْرِ مَا اُصْطُلِحَ عَلَيْهِ مِنَ
الْمُخَاطِبَةِ
|
|
Majaz adalah
suatu lafadz yang keluar dari makna asalnya. Pengertian ini apabila
berdasarkan makna hakikat yang pertama.
Jika memandang
arti hakikat yang kedua, maka definisi majaz adalah suatu lafadz yang
digunakan di selain makna yang dibuat istilah oleh mukhathibin.
|
Penjelasan :
Dua pendapat mengenai pengertian hakikat, mempengaruhi difinisi dari majaz. Berpijak dari pendapat pertama, majaz ialah,
مَا تُجُوِّزَ عَنْ مَوْضُوْعِهِ
“Lafadz yang digunakan pada selain arti lughatnya”
Contoh, lafadzالصَّلَاة dianggap majaz, apabila ahli lughat menggunakannya
untuk makna ibadah dengan tatacara tertentu, karena makna asal lughatnya adalah berdoa.
Berpijak dari
pendapat kedua, majaz ialah,
َ مَا
اسْتُعْمِلَ فِيْ غَيْرِ مَا اُصْطُلِحَ عَلَيْهِ مِنَ الْمُخَاطِبَةِ
“Lafadz
yang digunakan untuk
menunjukkan arti selain makna yang dibuat istilah dari perbincangan”
Contoh;
§ Lafadzالصَّلَاة dianggap majaz apabila golongan ahli fiqh
menggunakannya untuk makna doa. Karena makna asal yang dibuat oleh mereka
adalah ibadah dengan tatacara tertentu.
§ Lafadzالدَّابَة dianggap majaz apabila golongan ahli urfi
menggunakannya untuk makna binatang yang melata di muka bumi. Karena makna asal
yang dibuat oleh mereka adalah hewan berkaki empat.
Dalam
majaz diharuskan
memenuhi dua
persyaratan, adanya ‘alaqah dan qarinah. ‘Alaqah adalah sesuatu yang menghubungkan antara makna pertama dan
makna kedua yang digunakan, sehingga dengan perantara ini hati berpindah menuju
makna kedua. Dan qarinah adalah sesuatu yang berbarengan yang
menunjukkan pada makna yang dimaksud dan memastikan bukan makna pertama yang
dikehendaki. Persyaratan adanya qarinah ini menurut ulama yang melarang
penggunaan makna hakikat dan majaz secara bersamaan [3][15].
Dari pengertian majaz di atas, disimpulkan bahwa dalam
majaz disyaratkan terlebih dahulu harus ada wadl’u (penetapan lafadz
untuk sebuah makna) atas makna pertama, namun tidak disyaratkan terlebih dahulu
ada isti’mal (penggunaan makna).
Catatan
Menurut
pendapat Ashah, ketika sebuah lafadz mashdar digunakan dalam makna
aslinya, maka lafadz yang musytaq (tercetak) dari mashdar
tersebut sah dibuat majaz, meskipun mashdar tersebut tidak terpakai pada
musytaq lahu (perkara yang dibuatkan lafadz musytaq).
Contoh, lafadzالرَّحْمَنُ tercetak dari mashdar رَحْمَةٌ, dan mashdar ini terpakai dalam makna aslinya, yakni kelembutan
hati. Namun makna ini tidak sah dipakai dalam musytaq lahu (perkara yang
dibuatkan lafadz musytaq), yaitu Allah swt, karena muhal (tidak diterima
akal). Sehingga pembuatan majaz dalam الرَّحْمَنُ dianggap
sudah sah [4][16].
Pertanyaan
:
Apa faktor dan alasan perpindahan hakikat menuju majaz?
Jawab :
Faktor-faktornya
adalah sebagai berikut;
1.
Lafadz dari
makna hakikat berat pengucapannya. Contoh lafadz خَنْفِقِيْقٍ yang berarti marabahaya, dipindah menjadi lafadz مَوْتٌ
2.
Kurang enak didengar,
misalnya lafadz خِرَاءَةٌ,
artinya kotoran yang diganti dengan lafadz غَائِطٌ, arti hakikatnya dataran rendah.
3.
Ketidaktahuan baik dari
mutakallim atau mukhathab atas makna hakikat, bukan makna majaznya.
4.
Karena nilai
sastra yang terkandung. Contoh, lafadz زَيْدٌ أَسَدٌ (Zaid seperti singa) dalam
keberaniannya. Ini memiliki nilai sastra lebih tinggi dibandingkan lafadz زَيْدٌ شُجَاعٌ
5.
Makna majaz lebih dikenal
daripada makna hakikatnya. Dan lain-lain
Referensi :
وَإِنَمَا يُعْدِلُ عَنِ الْحَقِيْقَةِ إِلَى الْمَجَازِ لِثِقَلِ
الْحَقِيْقَةِ عَلَى اللِّسَانِ كَالخَنْفِقِيْقِ اِسْمٌ لِلدَاهِيَةِ يُعْدِلُ
عَنْهُ اِلَى الْمَوْتِ مَثَلاً أَوْ بَشَاعَتِهَا كَالْخِرَاءَةِ يَعْدِلُ
عَنْهَا اِلَى الْغَائِطِ وَحَقِيْقَتُهُ الْمَكَانُ الْمُنْخَفِضُ أَوْ جَهْلِ
المتُكَلِّمِ أَوْ الْمُخَاطَبِ بِهَا دُوْنَ الْمَجَازِ أَوْ بَلاَغَتِهِ نَحْوُ
زَيْدٌ أُسُدٌ فَاِنَّهُ أَبْلَغُ مِنْ شُجَاعٍ أَوْ شُهْرَتِهِ دُوْنَ
الْحَقِيْقَةِ أَوْ غَيْر ذَلِكَ (النَّفَحَاتُ صـ 49)
“Sesungguhnya berpindah dari hakikat menuju
majaz, karena lafadz dari makna hakikat berat pengucapannya. Contoh
lafadz خَنْفِقِيْقٍ yang berarti
marabahaya, dipindah menjadi lafadz مَوْتٌ.
Atau kurang enak didengar, misalnya lafadz خِرَاءَةٌ,
artinya kotoran yang diganti dengan lafadz غَائِطٌ,
arti hakikatnya dataran rendah. Atau ketidaktahuan baik dari mutakallim atau
mukhathab atas makna hakikat, bukan makna majaznya. Atau karena nilai sastra yang tinggi. Contoh, lafadz زَيْدٌ أَسَدٌ (Zaid seperti singa) dalam
keberaniannya. Bahasa ini memiliki nilai sastra lebih tinggi dibandingkan
lafadz زَيْدٌ شُجَاعٌ. Atau makna majaz lebih dikenal daripada makna
hakikatnya. Atau faktor yang lain”
|
(وَالْحَقِيْقَةُ إمَّا لُغَوِيَّةٌ) بِأَنْ وَضَعَهَا
أَهْلُ اللُّغَةِ، كَالْأَسَدِ لِلْحَيَوَانِ الْمُفْتَرِسِ.
(وَإمَّا شَرْعِيَّةٌ) بِأَنْ وَضَعَهَا الشَّارِعِ،
كَالصَّلَاةِ لِلْعِبَادَةِ الْمَخْصُوْصَةِ.
(وَإمَّا
عُرْفِيَّةٌ) بِأَنْ وَضَعَهَا أَهْلُ الْعُرْفِ العَامُّ كَالدَّابَةِ لِذَاتِ
الْأَرْبَعِ كَالْحِمَارِ، وَهِيَ لُغَةً لِكُلَّ مَا يَدُبُّ عَلَى الْأَرْضِ، وَالْخَاصُّ كَالْفَاعِلِ لِلْاِسْمِ
|
|
Hakikat
adakalanya berbentuk lughawiyyah (bahasa), yakni yang dibuat oleh ahli
bahasa. Contoh, lafadz al-asad untuk makna hewan buas.
Dan
berbentuk syar’iyyah, yang dibuat oleh pemegang syariat. Contoh, shalat untuk
makna ibadah dengan cara tertentu.
Serta
berbentuk ‘urfiyyah, yang dibuat oleh ahli urfi umum, contoh lafadz ad-dabbah
untuk hewan berkaki empat, seperti himar. Lafadz ini secara lughat bermakna
setiap hewan melata di muka bumi. Dan
oleh ahli urfi
khash, seperti
|
|
الْمَعْرُوْفِ
عِنْدَ النُّحَاةِ.
وَهَذَا
التَّقْسِيْمُ مَاشٍ عَلَى التَعْرِيْفِ الثَّانِيْ لِلْحَقِيْقَةِ دُوْنَ
الْأَوَّلِ الْقَاصِرِ عَلَى اللُّغَوِيَّةِ
|
|
lafadz al-fail,
untuk makna isim yang dikenal menurut ahli ilmu nahwu.
Pembagian
ini diselaraskan dengan definisi hakikat yang kedua, bukan yang pertama yang
hanya terbatas pada hakikat lughawiyah saja.
|
Penjelasan :
Hakikat terbagi menjadi
beberapa macam.
1.
Hakikat
lughawi (bahasa), yaitu
lafadz yang dibuat dan digunakan oleh ahli lughat untuk menunjukkan makna asal
secara bahasa, seperti lafadz as-shalat digunakan untuk makna doa.
2.
Hakikat syar’i
(syari’at), yaitu
lafadz yang dibuat dan digunakan oleh pembuat syariat untuk menunjukkan makna
asal secara syara’, seperti lafadz as-shalat digunakan untuk makna perbuatan
dan ucapan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.
3.
Hakikat urfi (terlaku di tengah manusia), yaitu
lafadz yang dibuat dan digunakan oleh ahli urf untuk menunjukkan makna asal
urf. Terbagi dua;
a.
Urf ‘ Am, yaitu makna urf yang pencetusnya tidak ditentukan dari satu golongan. Contoh lafadz ad-dabbah yang digunakan untuk
menunjukkan makna hewan berkaki empat.
b.
Urf Khash, yaitu makna urf yang
pencetusnya dari kelompok
tertentu. Contoh lafadz al-fi’lu yang digunakan oleh kelompok ahli nahwu untuk
makna lafadz yang dapat menunjukkan makna dengan sendirinya dan disertai zaman.
|
(وَالْمَجَازُ إِمَّا أَنْ يَكُوْنَ بِزِيَادَةٍ أَوْ نُقْصَانٍ
أَوْ نَقْلٍ أَو اسْتِعَارَةٍ)
(فَالْمَجَازُ بِالزِّيَادَةِ مِثْلُ قَوْلِهِ تَعَالَى : لَيْسَ
كَمِثْلِهِ شَيءٌ)، فَالْكَافُ زَائِدَةٌ وَإِلَّا
فَهِيَ بِمَعْنَى مِثْلٍ
فَيَكُوْنُ لَهُ
|
|
Majaz
adakalanya berbentuk ziyadah (penambahan), naqs (pengurangan), naql
(pemindahan makna) atau isti’arah (meminjam arti kata lain). Contoh
majaz ziyadah, firman Allah swt لَيْسَ
كَمِثْلِهِ شَيْئٌ,
(tidak ada sesuatupun serupa dengan Dia) huruf kaf di sini
adalah tambahan. Karena apabila tidak demikian, maka huruf kaf bermakna
menyerupai, sehingga akan
|
|
تَعَالَى
مِثْلٌ وَهُوَ مُحَالٌ وَالْقَصْدُ بِهَذَا الْكَلَامِ نَفْيُهُ.
(وَالْمَجَازُ بِالنًّقْصَانِ مِثْلُ قَوْلِهِ تَعَالَى :
وَاسْئَلِ الْقَرْيَةَ) أَيْ أَهْلَ الْقَرْيَةِ، وَقُرِّبَ صِدْقُ تَعْرِيْفِ
الْمَجَازِ عَلَى مَا ذُكِرَ بِأَنَّهُ اُسْتُعْمِلَ نَفْيُ مِثْلِ الْمِثْلِ
فِيْ نَفْيِ الْمِثْلِ وَسُؤَالِ الْقَرْيَةِ فِيْ سُؤَالِ أَهْلِهَا.
(وَالْمَجَازُ
بِالنَّقْلِ كَاْلغَائِطِ فِيْمَا يَخْرُجُ مِنَ الْإِنْسَانِ)، نُقِلَ إِلَيْهِ
عَنْ حَقِيْقَتِهِ وَهِيَ الْمَكَانُ الْمُطْمَئِنُّ تُقْضَى فِيْهِ الْحَاجَةُ
بِحَيْثُ لَا يَتَبَادَرُ مِنْهُ عُرْفًا إِلَّا الْخَارِجِ.
(وَالْمَجَازُ
بِالْاِسْتِعَارَةِ كَقَوْلِهِ تَعَالَى : جِدَاراً يُرِيْدُ أَنْ يَنْقَضَّ)
أَيْ يَسْقُطُ، فَشُبِّهَ مَيْلُهُ إِلَى السُّقُوْطِ بِإِرَادَةِ السُّقُوْطِ
الَّتِيْ هِيَ مِنْ صِفَاتِ الْحَيِّ دُوْنَ الْجَمَادِ، وَالْمَجَازُ
الْمَبْنِيُّ عَلَى التَّشْبِيْهِ يُسَمَّى اِسْتِعَارَةً
|
|
muncul pemahaman,
ada perkara yang menyerupai Allah SWT, dimana hal ini adalah muhal
(tidak diterima akal). Padahal tujuan dari kalam ini adalah menafikan perkara
yang menyerupai Allah SWT. Contoh majaz naqs, firman Allah swt: وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ (dan tanyalah penduduk
desa), maksudnya, bertanya pada penduduk desa (أَهْلَ
الْقَرْيَةَ).
Keselarasan
dengan definisi majaz dari contoh-contoh di atas adalah dengan pendekatan,
bahwa penafian mitslil mitsli (padanan sesuatu yang menyerupai Allah
swt) digunakan untuk menafikan mitsli (perkara yang menyerupai Allah swt).
Dan bahwa pertanyaan pada الْقَرْيَةَ (desa
/benda mati) digunakan untuk makna pertanyaan pada أَهْلَ
الْقَرْيَةَ (penduduknya /makhluk hidup).
Contoh
majaz naql, الْغَائِطُ yang
digunakan untuk makna perkara yang keluar dari tubuh manusia, dipindah dari
makna hakikatnya, yaitu tempat rendah untuk membuang hajat. Hal ini sekiranya
secara ‘urf kata الْغَائِطُ tidak
akan cepat ditangkap pemahaman kecuali atas perkara yang keluar dari tubuh
manusia.
Contoh
majaz isti’arah, firman Allah swt: جِدَارًا
يُرِيْدُ أَنْ يَنْقَضَّ (dinding rumah yang hampir
roboh),
maksud kata يَنْقَضَّ adalah
يَسْقُطُ. Miringnya tembok yang akan roboh disamakan dengan menghendaki
roboh yang merupakan sifat makhluk hidup bukan benda mati. Majaz yang
didasarkan pada penyerupaan ini dinamakan isti’arah.
|
Penjelasan :
Majaz terbagi menjadi beberapa
macam.
1.
Majaz ziyadah (penambahan), yaitu lafadz yang
digunakan pada selain makna asalnya karena ‘alaqah (hubungan) berbentuk penambahan
kalimat. Penambahan ini tidak memiliki arti, namun ada fungsi tertentu seperti menggukuhkan. Contoh:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيءٌ
“Tiada
sesuatu yang menyerupai allah”
Huruf kaf
memiliki arti مِثْلٌ,
yang apabila difungsikan maknanya maka akan terjadi pemahaman yang muhal
(tidak
diterima akal). Karena maksud ayat di
atas adalah menafikan sesuatu yang menyerupai Allah swt. Sehingga kaf di sini
dihukumi ziyadah (tambahan) [5][17].
2.
Majaz nuqshan (pengurangan), yaitu lafadz yang digunakan pada selain
makna asalnya karena ‘alaqah (hubungan) berbentuk pengurangan kalimat. Contoh:
وَاسْئَلِ الْقَرْيَةَ
“Bertanyalah pada (penduduk) desa”
Dalam contoh
ini ada pengurangan lafadz أَهْلَ (penduduk) dengan qarinah, tidak mungkin
bertanya pada desa yang berwujud benda mati[6][18].
3.
Majaz naql (memindah), yaitu
pemindahan makna oleh ahli urf ‘am (umum) dari makna lughat menuju makna yang
dipakai sebagai istilah oleh manusia umum. Contoh lafadz الغَائِطُ,
dipindah dari arti lughat yaitu tanah
yang rendah yang digunakan untuk membuang kotoran, menuju arti kotoran yang
keluar dari manusia.
4.
Majaz istia’rah, yaitu lafadz
yang digunakan pada selain makna asalnya karena ‘alaqah (hubungan)
berbentuk keserupaan. Contoh, firman
Allah swt:
جِدَاراً يُرِيْدُ أَنْ يَنْقَضّ
“Dinding rumah yang hampir roboh”
Miringnya tembok yang akan roboh disamakan dengan menghendaki roboh yang
merupakan sifat makhluk hidup bukan untuk benda mati.
Pertanyaan :
Naql atau manqul dalam
kitab lain dimasukkan dalam bagian hakikat, mengapa pengarang memasukkannya
dalam bagian majaz?
Jawab :
Karena maksud pengarang di
sini adalah pengertian naql secara lughat, yakni pengalihan secara
mutlak dari makna satu ke makna lainnya. Dan Beliau tidak menghendaki naql secara
istilah, yakni pemindahan dari makna pertama ke makna kedua disertai adanya
kesesuaian (munasabah) dan dengan meninggalkan makna pertama.
Sedangkan naql atau manqul
yang termasuk bagian hakikat adalah naql yang menggunakan definisi
secara istilah.
Referensi :
فَإِنْ قُلْتَ أَنَّ كَوْنَهُ
مَنْقُوْلاً يُناَفِيْ كَوْنَهُ مَجَازًا لِأَنَّ المَنْقُوْلَ مِنْ أَقْسَامِ
الحَقِيْقَةِ كَمَا تَقَرَّرَ فيِ مَحَلِهِ وَالمُصَنِّفُ قَدْ جَعَلَهَا مِنْ
أَقْسَامِ المَجَازِ أُجِيْبُ بِأَنَّهُ لاَ مُناَفاَةَ لِأَنَّهُ أَرَادَ
النَّقْلَ بِالمَعْنىَ اللُّغَوِيِّ وَهُوَ مُطْلَقُ المُجَاوَزَةِ بِاللَّفْظِ
عَنْ مَعْنىً إِلىَ مَعْنىً آخَرَ لاَ بِالمَعْنىَ الإِصْطِلاَحِيِّ وَهُوَ مَا
يَكُوْنُ لِمُنَاسَبَةٍ مَعَ هَجْرِ المَعْنىَ الأَوَّلِ وَالمَنْقُوْلُ الَّذِيْ
هُوَ مِنْ أَقْسَامِ الحَقِيْقَةِ هُوَ المَنْقُوْلُ بِالمَعْنىَ الإِصْطِلاَحِيِّ
دُوْنَ مَعْنىَ اللُّغَوِيِّ (اَلنَّفَحَاتُ صـ 45)
“Jika kamu
mengatakan bahwa adanya status manqul menafikan keberadaannya sebagai majaz,
karena manqul termasuk bagian hakikat seperti yang dijelaskan pada
pembahasannya, dan pengarang menjadikannya termasuk bagian majaz. Maka aku
menjawab, bahwa tidak ada pertentangan. karena maksud pengarang di sini adalah
pengertian naql secara lughat, yakni pengalihan secara mutlak dari makna satu
ke makna lainnya, tidak menghendaki naql secara istilah, yakni pemindahan dari
makna pertama ke makna kedua disertai adanya kesesuaian (munasabah) dan dengan
meninggalkan makna pertama. Sedangkan naql atau manqul yang termasuk bagian
hakikat adalah naql yang menggunakan definisi secara istilah, bukan secara
lughat.”
Pertanyaan :
Ada kemiripan istilah di
saat sebuah lafadz memiliki beberapa pemahaman makna, yakni musytarak, naql,
murtajal dan majaz bi an-naql. Apa perbedaan istilah-istilah ini?
Jawab :
Perbedaannya adalah sebagai berikut;
1.
Musytarak : lafadz yang memiliki beberapa pemahaman makna dan antara pemahaman
makna tersebut tidak diselingi proses pemindahan (naql)
2.
Murtajal : antara pemahaman makna tersebut diselingi proses pemindahan (naql), namun antara makna awal
dan makna yang digunakan tidak ada keserasian.
3.
Manqul (naql) : seperti murtajal di atas,
namun ada keserasian makna dan kemudian makna awal ditinggalkan
(dilupakan). Manqul model ini termasuk kategori hakikat.
4.
Majaz bi an-naql : seperti manqul di
atas, namun makna awal masih terpakai. Ini termasuk manqul (naql)
kategori majaz.
Referensi :
قَالُوا اَللَّفْظُ إِذَا
تَعَدَّدَ مَفْهُوْمُهُ فَاِنْ لَمْ يَتَخَلَّلْ بَيْنَهُمَا نَقْلٌ فَهُوَ
الْمُشْتَرَكُ وَإِنْ تَخَلَّلَ فَاِنْ لَمْ يَكُنْ النَّقْلُ لِمُنَاسَبَةٍ
فَمُرْتَجَلٌ وَاِنْ كَانَ لِمُنَاسَبَةِ فَاِنْ هُجِرَ الْمَعْنَى الْأَوَّلُ
فَهُوَ الْمَنْقُوْلُ الَّذِى هُوَ مِنْ أَقْسَامِ الْحَقِيْقَةِ وَإِلاَّ فَهُوَ
الْمَنْقُوْلُ الَّذِى هُوَ مِنْ أَقْسَامِ الْمَجَازِ وَيُسَمَّى مَجَازًا
بِالنَّقْلِ (النَّفَحَاتُ صـ45)
“Ulama
mengatakan, ketika suatu lafadz memiliki beberapa pemahaman makna, maka apabila
antara dua pemahaman makna tidak diselingi proses pemindahan (naql), maka
disebut musytarak. Dan jika diselingi proses pemindahan (naql), maka apabila
pemindahan tersebut bukan karena keserasian makna, maka dinamakan murtajal.
Apabila karena keserasian makna, kemudian makna awal ditinggalkan (dilupakan),
maka dinamakan manqul (naql) yang termasuk kategori hakikat. Dan jika
sebaliknya (makna awal masih terpakai), maka dinamakan manqul (naql) yang
termasuk kategori majaz dan dinamakan majaz dengan naql”.
[5][17] Menurut segolongan ulama, huruf kaf dalam
contoh tersebut bukan ziyadah. Dari sini ada kemungkinan lafadz ‘mitslu’
dimaknai dzat, atau shifat dan lain sebagainya_Lathaif al-Isyarah hal 22
Tags
Qaidah Fiqh