USHUL
FIQH DAN PEMBAHASANNYA
|
(وَأُصُوْلُ الْفِقْهِ) أَيْ
الَّذِيْ وُضِعَ فِيْهِ هَذِهِ الْوَرَقَاتُ (طُرُقُهُ) أَيْ طُرُقُ الْفِقْهِ
(عَلَى سَبِيْلِ الْإِجْمَالِ) كَمُطْلَقِ الْأَمْرِ وَالنَّهْيِ وَفِعْلِ النَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ
|
|
Ushul
fiqh yang merupakan isi pembahasan kitab Al-Waraqat ini yaitu dalil-dalil fiqh
ijmali (global), seperti
Mutlaknya amr, nahi, perbuatan Nabi SAW, ijma’, qiyas, dan istishhab,
dari sisi pembahasan bahwa dalil
yang pertama
|
|
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْإِجْمَاعِ وَالْقِيَاسِ وَالْاِسْتِصْحَابِ
مِنْ حَيْثُ الْبَحْثُ عَنْ أَوَّلِهَا بِأَنَّهُ لِلْوُجُوْبِ وَالثَّانِيْ
بِأَنَّهُ لِلْحُرْمَةِ وَالْبَاقِيْ بِأَنَّهاَ حُجَجٌ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا
سَيَأْتِيْ مَعَ مَا يَتَعَلَّقُ بِهِ.
بِخِلَافِ طُرُقِهِ عَلَى سَبِيْلِ التَّفْصِيْلِ نَحْوُ: أَقِيْمُوْا
الصَّلَاةَ وَلَا تَقْرَبُوْا الزِّنَى وَصَلَاتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فِيْ الْكَعْبَةِ كَمَا أَخْرَجَهُ الشَّيْخَانِ وَالْإِجْمَاعِ عَلَى
أَنَّ لِبِنْتِ الْاِبْنِ السُّدُسُ مَعَ بِنْتِ الْصُلْبِ حَيْثُ لَا مُعَصِّبَ
لَهُمَا وَقِيَاسِ الْبُرِّ عَلَى الْأَرُزِ فِيْ امْتِنَاعِ بَيْعِ بَعْضِهِ
بِبَعْضٍ إِلَّا مِثْلاً بِمْثْلٍ يَدًّا بِيَدٍّ كَمَا رَوَاهُ مُسْلِم
وَاسْتِصْحَابِ الطَّهَارَةِ لِمَنْ شَكَّ فِيْ بَقَائِهَا، فَلَيْسَتْ مِنْ
أُصُوْلِ الْفِقْهِ وَإِنْ ذُكِرَ بَعْضُهَا فِيْ كُتُبِهِ
تَمْثِيْلاً.
(وَكَيْفِيَّةُ
الْاِسْتِدْلَالِ بِهَا) أَيْ بِطُرُقِ الْفِقْهِ مِنْ حَيْثُ تَفْصِيْلُهَا عِنْدَ
تَعَارُضِهَا لِكَوْنِهَا ظَنِّيَّةٌ مِنْ تَقْدِيْمِ الْخَاصِّ عَلَى الْعَامِ،
وَالْمُقَيَّدِ عَلَى الْمُطْلَقِ وَغَيْرِ ذَلِكَ.
وَكَيْفِيَةُ الْاِسْتِدْلَالِ بِهَا تَجُرُّ إِلَى صِفَاتِ مَنْ
يَسْتَدِلُّ بِهَا وَهُوَ الْمُجْتَهِدُ.
|
|
(mutlaknya amr) menunjukan wajib, yang kedua
menunjukan haram, dan yang lain sebagai hujjah hukum, serta hal-hal lain yang
akan diterangkan setelah ini bersama keterangan yang
terkait.
Beda
halnya dalil fiqh tafshili (terperinci), seperti, 1). أَقِيْمُوْا الصَّلَاةَ (dirikanlah
shalat) 2). وَلَا تَقْرَبُوْا الزِّنَى (jangan mendekati zina) 3).
Nabi
saw shalat di dalam Ka’bah (HR Bukhari-Muslim) 4). Ijma’ bahwa cucu perempuan
dari anak laki-laki bersama dengan anak perempuan kandung mayit mendapat bagian
seperenam, jika tidak ada waris lain yang menjadikan ashabah pada
keduanya 5). Pengqiyasan beras pada gandum dalam hal larangan menjual sebagian
dengan sebagian yang lain, kecuali sama timbangannya, dan diserah terimakan
langsung, sebagaimana hadist riwayat Imam Muslim 6). Meneruskan hukum suci bagi
orang yang ragu-ragu dalam kesuciannya. (Semua 1-6) bukan termasuk ushul fiqh,
meskipun sebagian disebutkan dalam kitab ushul sebagai
contoh.
Dan
termasuk usul fiqh yaitu teori pengambilan dalil, yakni dalil ijmali dari sisi
perinciannya, ketika ada pertentangan, karena dalil tersebut bersifat
dhan. Hal ini berupa mendahulukan dalil khash dari dalil ‘am, dalil
muqayyad dari dalil yang mutlak, dan lain-lain.
Teori
pengambilan dalil di atas, menuntut kriteria orang yang melakukannya, yakni
mujtahid.
|
|
فَهَذِهِ الثَّلَاثَةُ هِيَ الْفَنُّ الْمُسَمَّى بِأُصُوْلِ الْفِقْهِ
لِتَوَقُّفِ الْفِقْهِ عَلَيْهِ
|
|
Ketiga pembahasan inilah cabang
ilmu yang disebut ushul fiqh, karena fiqh
tergantung pada
ketiganya.
|
Penjelasan
:
Ushul fiqh yaitu disiplin ilmu yang mencakup tiga pembahasan.
1. Dalil-dalil fiqh yang global (ijmali)
2. Teori pengambilan dalil ijmali
dari sisi perinciannya, bukan dari sisi kaidah umumnya.
3. Syarat-syarat seorang mujtahid.
Ada dua macam dalil fiqh :
1. Dalil ijmali (global),
contoh amr menunjukkan wajib secara hakikat dan lain-lain.
2. Dalil
tafshili (terperinci), contoh,
QS.
An-Nisa:23:
وَلَاتَقْرَبُوْا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ
سَبِيْلاً
“Dan janganlah kamu mendekati zina sesungguhnya
zina itu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang
buruk”
Dalil ini merupakan dalil juz’i (tafshili), karena telah berkaitan dengan permasalahan khusus, yaitu zina dan
juga telah menunjukkan hukum khusus yaitu haramnya zina.
Pertanyaan
:
Apakah
pengertian dalil ijmali?
Jawab
:
Dalil
yang belum berkaitan dengan sebuah permasalahan yang berbentuk kaidah-kaidah
umum.
Referensi
:
(عَلَى سَبِيْلِ
اْلإِجْمَالِ) ....أَيْ حَالَةَ كَوْنِ تِلْكَ الطُّرُقِ عَلَى صِفَةٍ هِيَ
إِجْمَالهاَ أَيْ عَدَمِ تَعْيِيْنِ مُتَعَلِّقِهَا وَهُوَ الْحُكْمُ الَّذِى
يَثْبُتُ بِهَا بِاَنْ لاَ تَكُوْنَ مُرْتَبِطَةً بِحُكْمٍ بِعَيْنِهِ مِنْ كُلِّ
الْأَحْكاَمِ أَوْبَعْضِهَا.... فَيَكُوْنُ الْمُرَادُ بِالطُّرُقِ عَلَى سَبِيْلِ
الْإِجْمَالِ الْقَوَاعِدُ الْكُلِّيَّةُ كَقَوْلِهِمْ اَلْأَمْرُ لِلْوُجُوْبِ
حَقِيْقَةً (اَلنَّفَحَاتُ صـ 32)
“(Ucapan pengarang: secara global)….dalam keadaan dalil-dalil
tersebut masih bersifat global, yakni belum berkaitan dengan sebuah permasalahan, yakni
hukum yang ditetapkan oleh dalil tersebut. Dengan demikian dalil
tersebut belum berkaitan dengan hukum tertentu, secara menyeluruh atau
sebagian. Maka maksud dari dalil-dalil yang global ialah kaidah-kaidah yang umum
seperti amr menunjukan arti wajib secara hakikat”
Pertanyaan
Apakah
pengertian dalil tafshili dan
bagaimana contohnya?
Jawab
Dalil
tafshili ialah dalil yang bersifat terperinci (juz’i) yang telah
berkaitan dengan sebuah permasalahan khusus serta menjelaskan hukum yang
khusus.
Referensi
:
وَالاَدِلَّةُ التَفْصِليَّةُ : اَلاَدِلَّةُ الجُزئِيَّةُ الّتِى
يَتَعَلَّقُ كُلٌّ مِنْهَا بِمَسْأَلَةٍ خَاصَة ويَنُصُّ عَلَى حُكْمٍ مُعَيَّنٍ
لَهَا مِثْلُ قَوْلهُ تَعالى (حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ اُمَّهَاتُكُمْ ) فَهَذَا
دَلِيْلٌ تَفْصِيْلِيٌّ أَيْ دَلِيْلٌ جُزْئِيٌّ يَتَعَلَقُ بِمَسْأَلَةٍ خَاصَّةٍ
وَ هِيَ نِكَاحُ الاُمَّهَاتِ وَيَدُلُّ عَلَى حُكْمٍ مُعَيَّنٍ هُوَ حُرْمَةُ
نِكَاحِ الْأُمَّهَاتِ وَقَوْلُهُ تَعَالَى (وَلَاتَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ
كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيْلاً) دَلِيْلٌ جُزْئِيٌّ يَخُصُّ مَسْأَلَةً
مُعَيَّنَةً وَهِيَ الزِّنَى وَيَدُلُّ عَلَى حُكْمٍ خَاصٍّ بِهَا وَهُوَ حُرْمَةُ
الزِّنَى (الوَجِيْز عَبْدُ الكَرِيْم زَيدَانْ صـ 15)
“Dalil tafshili ialah sebuah dalil yang bersifat terperinci (juz’i) yang telah berkaitan pada sebuah permasalahan khusus dan juga
menjelaskan pada hukum yang khusus.
Seperti firman Allah: (diharamkan atas kamu (mengawini) ibumu).
Ini adalah dalil tafshili, yakni dalil juz’i yang berhubungan dengan
permasalahan khusus yaitu menikahi seorang ibu dan juga menunjukkan hukum khusus
yaitu haramnya menikahi seorang ibu. Dan firman Allah swt: (Dan janganlah kamu
mendekati zina sesungguhnya zina itu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang
buruk). Ini merupakan dalil juz’i (terperinci) yang berkaitan dengan
permasalahan khusus yaitu zina dan juga menunjukkan pada hukum khusus yaitu
haramnya zina”.
Pertanyaan
Dalam masalah وَكَيْفِيَةُ الْإِسْتِدْلَالِ (teori pengambilan dalil), terjadinya ta’arudl apakah antara dalil tafshili dan tafshili atau
ijmali dengan ijmali?
Jawab
Antara
dalil tafshili dan tafshili.
Referensi
:
أُصُوْلُ الْفِقْهِ هُوَ طُرُقُ الْفِقْهِ الْمُجْمَلَةِ وَكَيْفِيَةُ
الْإِسْتِدْلَالِ بِهَا أَيْ بِطُرُقِ الْفِقْهِ الْاِجْمَالِيَّةِ لَكِنْ لَا مِنْ
حَيْثُ إِجْمَالِهَا بَلْ مِنْ حَيْثُ تَفْصِيْلِهَا عِنْدَ تَعَارُضِهَا فِىْ
إِفَادَةِ الْأَحْكَامِ لِكَوْنِهَا ظَنِيَّةٌ مِنْ تَقْدِيْمِ الْخَاصَّ عَلَى
الْعَامِ وَالْمُقَيَّدِ عَلَى الْمُطْلَقِ وَالْمُبَيَّنِ عَلَى الْمُجْمَلِ
وَغَيْرِ ذَلِكَ (لَطَائِفُ الإِشاَرَاتِ صـ
17)
“Ushul fiqh adalah dalil-dalil fiqih yang global dan tata cara
penggalian dalil (hukum) dengan menggunakan dalil fiqh global tersebut, akan
tetapi bukan ditinjau dari segi globalnya, melainkan ditinjau dari segi
tafshilinya ketika terjadi pertentangan di dalam menghasilkan hukum-hukum,
karena dalil-dalil tersebut sebatas dugaan (dhan). Di antaranya, mendahulukan dalil khusus atas dalil umum, dalil muqayyad atas dalil mutlak dan dalil mubayyan atas dalil mujmal serta
teori-teori lainnya”.
Pertanyaan
Apa
perbedaan wilayah kerja ulama ushul fiqh dan fiqh?
Jawab
Tugas
ahli fiqh adalah berbicara bahwasanya amr (perintah) dalam ayat: أَقِيْمُوْا الصَّلَاةَ menunjukkan hukum wajib dan nahi (larangan)
dalam ayat: وَلَا تَقْرَبُوْا الزِّنَا menunjukkan hukum haram. Lain halnya dengan
ahli ushul fiqh, dia berbicara mengenai tuntutan dari amr dan nahi, tanpa
memandang pada satu contoh khusus”.
Referensi
:
وَظِيْفَةُ الْفَقِيْهِ فَإِنَّهُ يَتَكَلَّمُ عَلَى أَنَّ الْأَمْرَ
فِىْ نَحْوِ أَقِيْمُوْا الصَّلَاةَ لِلْوُجُوْبِ وَالنَّهْيَ فِىْ قَوْلِهِ
تَعَالَى وَلَاتَقْرَبُوْا الزِّنَا لِلتَّحْرِيْمِ بِخِلَافِ الْأُصُوْلِىِّ
فَإِنَّهُ يَتَكَلَّمُ عَلَى مُقْتَضَى الْأَمْرِ وَالنَّهْيِ مِنْ غَيْرِ نَظَرٍ
إِلَى مِثَالٍ خَاصٍّ (لَطَائِفُ الإِشاَرَاتِ صـ 17)
“Tugas ahli fiqh adalah berbicara bahwasanya amr (perintah) dalam ayat:
(Dirikanlah shalah!) menunjukkan hukum wajib dan nahi (larangan) dalam ayat:
(Dan janganlah kamu mendekati zina) menunjukkan hukum haram. Lain halnya dengan
ahli
ushul fiqh, dia berbicara mengenai tuntutan dari amr dan nahi, tanpa memandang pada satu contoh khusus”.
|
(وَأَبْوَابُ أُصُوْلِ
الْفِقْهِ أَقْسَامُ الْكَلَامِ الْأَمْرُ
وَالنَّهْيُ وَالْعَامُ وَالْخَاصُّ)، وَيُذْكَرُ فِيْهِ الْمُطْلَقُ
وَالْمُقَيَّدُ، (وَالْمُجْمَلُ وَالْمُبَيَّنُ وَالظَّاهِرُ)، وَفِيْ بَعْضِ
النُّسَخِ وَالْمُؤَوَّلُ وَسَيَأْتِيْ
|
|
Bab-bab pembahasan ushul fiqh
adalah beberapa pembagian kalam,
berupa amr, nahi, ‘am, khash.
Disebutkan pula di dalamnya, lafadz mutlaq
dan muqayyad, mujmal, mubayyan, dan dhahir. Dalam redaksi lain, dan muawwal yang akan dijelaskan
nanti.
|
|
(وَالْأَفْعَالُ
وَالنَّاسِخُ وَالْمَنْسُوْخُ وَالْإِجْمَاعُ وَالْأَخْبَارُ وَالْقِيَاسُ
وَالْحَظْرُ وَالْإِبَاحَةُ وَتَرْتِيْبُ الْأَدِلَّةِ وَصِفَةُ الْمُفْتِيْ
وَالمُسْتَفْتِيْ وَأَحْكَامُ الْمُجُتَهِدِيْنَ)
|
|
Kemudian perbuatan Nabi saw, nasikh, mansukh, ijma, akhbar, qiyas,
hadhru, ibahah, urutan dalil, syarat-syarat seorang orang yang berfatwa dan
orang yang meminta fatwa serta hukum-hukum para mujtahid.
|
Penjelasan :
Setelah menjelaskan definisi ushul fiqh,
pengarang
menjelaskan beberapa bab pokok
kajian dalam ushul fiqh.
Di antaranya
adalah,
[12]
1.
Bab
kalam dan
pembagiannya, terdiri dari amr, nahi,
lafad ‘am,
khash,
mutlak, muqayyad, mujmal, mubayyan,
dhahir,
dan muawwal
2. Bab
beberapa
perbuatan
Nabi
saw
3. Bab
nasikh-mansukh
4. Bab
ijma’
5. Bab
akhbar
6. Bab qiyas
7.
Bab al-hadhru
dan ibahah
8.
Bab
urutan dalil-dalil
9.
Bab syarat mufti dan
mustafti
10.
Bab
hukum
dari mufti atau mujtahid
Tags
Qaidah Fiqh