🗒️ FIQIH DEKORASI
📋Deskripsi Masalah
Dalam berbagai acara, kita sering menemukan berbagai jenis dekorasi, baik dalam bentuk penataan ruang maupun tulisan. Dekorasi ini tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit serta usaha ekstra untuk mempersiapkannya.
Pertanyaan
Bagaimana pandangan Islam terhadap dekorasi?
Jawaban
Islam memperbolehkan dekorasi, selama tidak ada unsur pemborosan atau berlebihan dalam penggunaan harta (tabdzir al-mal, israf).
📙 REFERENSI
إحياء علوم الدين الجزء الثاني صحيفة 335 – 336 دار الكتب الإسلامية
ومنها الإسراف بالطعام والبناء، فهو منكر، بل في المال منكران:
أحدهما الإضاعة، والآخر الإسراف.
فالإضاعة: تفويت المال بلا فائدة يُعتد بها، كإحراق الثوب وتمزيقه، وهدم البناء من غير غرض، وإلقاء المال في البحر. وفي معناه: صرف المال إلى النائحة والمطرب، وفي أنواع الفساد، لأنها فوائد محرمة شرعًا فصارت كالمعدومة.
أما الإسراف: فقد يُطلق لإرادة صرف المال إلى النائحة والمطرب والمنكرات، وقد يُطلق على الصرف إلى المباحات في جنسها، ولكن مع المبالغة، والمبالغة تختلف بالإضافة إلى الأحوال.
قال الله عز وجل:
﴿وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا﴾
فمن يُسرف هذا الإسراف يُن القاضي أن يحجر عليه.
إلا إذا كان الرجل وحده، وكان له قوة في التوكل صادقة، فله أن ينفق جميع ماله في أبواب البر.
ومن كان له عيال أو كان عاجزًا عن التوكل، فليس له أن يتصدق بجميع ماله.
وكذلك لو صرف جميع ماله إلى نقوش جدرانه وتزيين بنيانه، فهو أيضًا إسراف محرم.
أما فعل ذلك ممن له مال كثير، فليس بحرام، لأن التزيين من الأغراض الصحيحة، ولم تزل المساجد تُزيَّن وتُنقش أبوابها وسقوفها، مع أن نقش الباب والسقف لا فائدة فيه إلا مجرد الزينة، فكذا الدور.
وكذلك القول في التجمّل بالثياب والأطعمة، فهو مباح في جنسه، لكنه يُصبح إسرافًا باعتبار حال الرجل وثروته. اهـ
📚Ihya Ulumuddin, Jilid Kedua, Halaman 335 – 336, Dar Al-Kutub Al-Islamiyyah
Di antara bentuk pemborosan adalah dalam makanan dan bangunan, yang merupakan perbuatan tercela. Bahkan, dalam harta terdapat dua bentuk penyimpangan:
Pertama, menyia-nyiakan harta; dan kedua, boros dalam membelanjakannya.
Menyia-nyiakan harta adalah menggunakan harta tanpa manfaat yang jelas, seperti membakar atau merobek pakaian, menghancurkan bangunan tanpa tujuan, serta membuang uang ke laut. Termasuk dalam kategori ini adalah menghabiskan uang untuk peratap tangis atau hiburan yang tidak bermanfaat, serta dalam berbagai bentuk kemaksiatan, karena keuntungan yang dihasilkan dari hal-hal tersebut dilarang oleh syariat, sehingga dianggap tidak bernilai.
Adapun boros, istilah ini bisa digunakan untuk menggambarkan pengeluaran uang dalam hal-hal tercela seperti hiburan yang diharamkan, atau juga dalam hal-hal yang secara umum diperbolehkan, namun dilakukan secara berlebihan. Kelebihan dalam pengeluaran ini bervariasi tergantung pada kondisi seseorang.
Allah SWT berfirman:
"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir." (QS. Al-Furqan: 67)
Siapa pun yang bersikap boros dalam pengeluarannya harus ditegur. Bahkan, seorang hakim harus membatasi pengeluarannya jika diperlukan.
Kecuali jika seseorang hidup sendiri dan memiliki keyakinan yang kuat dalam bertawakal, maka ia diperbolehkan membelanjakan seluruh hartanya untuk kebaikan. Namun, jika seseorang memiliki keluarga atau tidak mampu bertawakal sepenuhnya, maka ia tidak diperbolehkan menyedekahkan seluruh hartanya.
Begitu pula jika seseorang menghabiskan seluruh hartanya untuk menghias rumahnya dengan berbagai ornamen, maka ini juga termasuk pemborosan yang dilarang.
Tetapi jika seseorang memiliki kekayaan yang berlimpah, maka tindakan tersebut tidak haram, karena keindahan merupakan salah satu tujuan yang sah. Masjid juga telah lama dihiasi dan dipahat pintu serta langit-langitnya, meskipun pahatan tersebut tidak memiliki manfaat selain sebagai hiasan, demikian pula dengan rumah tinggal.
Hal yang sama berlaku dalam berpenampilan dengan pakaian atau makanan, yang secara umum diperbolehkan, namun bisa menjadi boros tergantung pada kondisi dan kekayaan seseorang.
4 Mei 2025
Langit Dua Dunia
