MUKADDIMAH


MUKADDIMAH

(بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ) أَمَّا بَعْدُ (فَهَذِهِ وَرَقَاتٌ) قَلِيْلَةٌ (تَشْتَمِلُ عَلَى مَعْرِفَةِ فُصُوْلٍ مِنْ أُصُوْلِ الْفِقْهِ) يَنْتَفِعُ بِهَا الْمُبْتَدِئُ وَغَيْرُهُ (وَذَلِكَ) أَيْ لَفْظُ أُصُوْلِ الْفِقْهِ (مُؤَلَّفٌ مِنْ جُزْئَيْنِ مُفْرَدَيْنِ) مِنَ الْأَفْرَادِ الْمُقَابِلِ لِلتَّرْكِيْبِ لَا الْجَمْعِ وَالْمُؤَلَّفُ يُعْرَفُ بِمَعْرِفَةِ مَا أُلِّفُ مِنْهُ
(فَالْأَصْلُ) الَّذِيْ هُوَ مُفْرَدُ الْجُزْءِ الْأَوَّلِ، (مَا يُبْنىَ عَلَيْهِ غَيْرُهُ)، كَأَصْلِ الْجِدَارِ أَيْ أَسَاسِهِ، وَأَصْلِ الشَّجَرَةِ أَيْ طَرَفِهَا الثَّابِتِ فِيْ الْأَرْضِ (وَالفَرْعُ) الَّذِيْ هُوَ مُقَابِلُ الأَصْلِ (مَا يُبْنَى عَلَى غَيْرِهِ) كَفُرُوْعِ الشَّجَرَةِ لِأَصْلِهَا، وَفُرُوْعِ الْفِقْهِ لِأُصُوْلِهِ

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Usai membaca basmalah, bahwa karya tulisan ini adalah lembaran yang sedikit, memuat pengetahuan fashal-fashal masalah ushul fiqh yang dapat dimanfaatkan oleh pelajar tingkat dasar dan yang selainnya. Lafadz ushul fiqh tersusun dari dua juz yang keduanya mufrad, dari pengertian mufrad yang lawan katanya tarkib bukan lawan katanya jamak. Suatu susunan dapat diketahui melalui bahan yang digunakan untuk menyusun.
Ashl yang merupakan bentuk mufrad yang menjadi juz yang pertama (dari ushul fiqh) adalah sesuatu yang adanya perkara lain dibangun di atasnya. Seperti asalnya tembok yaitu pondasi tembok asalnya pohon yaitu akar yang menancap di dalam tanah. Sedangkan far’u (lawan kata dari ashl) adalah sesuatu yang dibangun di atas perkara lain, sebagaimana cabangnya pohon yang berdiri di atas pangkalnya dan juga seperti beberapa cabangnya fiqh yang berdiri di atas ushulnya.

Penjelasan :
Kitab Al-Waraqat merupakan kitab kecil yang di dalamnya berisi beberapa fashal pembahasan disiplin ilmu ushul fiqh.
Usul fiqh ditinjau dari segi lafadz terdiri dari dua suku kata yang keduanya mufrad, yakni:
1.    Ushul
2.    Fiqh    
Mufrad di sini memiliki beberapa pengertian :
1.    مُفْرَدٌ الْمُقَابِلُ لِلتَّثْنِيَّةِ وَالْجَمْعِ (mufrad yang lawan katanya tatsniyah dan jamak)
2.    مُفْرَدٌ الْمُقَابِلُ لِلتَّرْكِيْبِ (mufrad yang lawan katanya tarkib)

Pengertian mufrad al-muqabil lit tatsniyah wal jam’i merupakan pengertian mufrad yang terdapat dalam ilmu nahwu, yakni lafadz yang memiliki arti satu seperti lafadz رَجُلٌ (laki-laki satu). Sedangkan lawan katanya (الْمُقَابِلُ) adalah tatsniyah dan jamak. Ketika lafadz tersebut tidak menunjukkan arti satu, maka tidak dinamakan mufrad. Dan dinamakan tatsniyah apabila menunjukkan arti dua, serta jamak jika menunjukkan arti banyak.
Pengertian mufrad al muqabil lit tarkib merupakan mufrad dalam pengertian ilmu Mantiq, yakni  اَلَّذِيْ لَاَ يَدُلُّ جُزْؤُهُ عَلَى جُزْءِ مَعَنَاهُ(suatu lafadz yang disusun dari dua atau beberapa bagian yang setiap bagiannya tidak mempunyai arti). Seperti lafadz زَيْدٌ (terdiri bagian-bagian berupa za’, ya dan dal) dan dari tiap bagian ini tidak dapat menunjukkan arti manakala terpisah.[1][1]
Ashl merupakan mufrad dari lafadz ushul. Makna secara lughat ialah sesuatu yang adanya perkara lain dibangun di atasnya, seperti asalnya tembok yaitu pondasi, asalnya pohon yaitu akar yang berada di dalam tanah,
Catatan
1.        Pengarang kitab Waraqat adalah al-Imam al-‘Alamah Abu Al-Ma’ali Abdul Malik bin Yusuf Muhammad al-Juwaini al-‘Iraqi asy-Syafi’i. Beliau lahir pada tahun 419 H dan wafat pada tahun 478 H, dengan demikian usia beliau ± 59 tahun. Gelar beliau ialah Imam al-Haramain (imam dua tanah haram). Gelar ini diberikan karena beliau menjadi mufti di Makkah dam Madinah. Imam al-Ghazali merupakan salah satu dari murid beliau [2][2].
2.        Orang pertama yang membuat dan membukukan ilmu ushul fiqh adalah imam asy-Syafi’i. Hasil pembukuannya yang pertama diberi nama Ar-Risalah yang memuat tentang amr, nahi, bayan, khabar, nasakh, mengenai hukum ‘illat manshushah di antara permasalahan qiyas.[3][3]

Pertanyaan :
Lafadz أُصُوْلٌ yang artinya beberapa asal, secara ilmu nahwu dihukumi jamak. Mengapa dalam pembahasan ini dikatakan sebagai lafadz mufrad?
Jawab :
Karena yang dikehendaki mufrad dalam pembahasan ini adalah pengertian dalam ilmu mantiq bukan pengertian dalam ilmu nahwu.
Referensi :
وَفِيْ الْمَنْطِقِ عَلَى مَا يُقَابِلُ الْمُرَكَّبَ فَحِيْنَئِذٍ لَمَّا احْتَمَلَ هُنَا أَنْ يَكُوْنَ الْمُرَادُ مَا يُقَابِلُ التَّثْنِيَّةَ فَيُعْرَضُ عَلَيْهِ بِأَنَّ الْجُزْءَ الْأَوَّلَ هُنَا لَيْسَ بِمُفْرَدٍ فَكَيْفَ يَقُوْلُ إِنَّهُمَا مُفْرَدَانِ دَفَعَ هَذَا الْإِعْتِرَاضَ الشَارِحُ  بِقَوْلِهِ الْإِفْرَادَ الْمُقَابِلَ لِلتَّرْكِيْبِ الَّذِيْ هُوَ اِصْطِلَاحُ الْمَنَاطِقَةِ هُوَ الّذِيْ لَا يَدُلُّ جُزْؤُهُ عَلَى جُزْءِ مَعَنَاهُ (اَلنَّفَحَاتُ صـ 12)
“Mufrad dalam pengertian ilmu mantiq ialah lafadz yang lawan katanya tarkib. Tatkala ada kefahaman bahwa mufrad yang dimaksud adalah mufrad yang lawan katanya tatsniyah, maka muncul sebuah sangkalan bahwa bagian (juz) yang pertama bukan termasuk mufrad, bagaimana keduanya dikatakan berupa mufrad. Maka pensyarah menanggapi sangkalan tersebut dengan ucapannya, “mufrad yang lawan katanya tarkib” dimana hal tersebut merupakan istilah ahli ilmu mantiq. Yakni suatu lafadz (yang disusun dari dua atau beberapa bagian) yang setiap bagiannya tidak mempunyai arti

Pertanyaan :
Kenapa أُصُوْلُ الْفِقْهِ dikatakan dua juz yang keduanya berupa mufrad?, semestinya memandang ushul fiqh sebagai nama ilmu, maka kata-kata yang benar adalah ushul fiqh merupakan dua juz yang keduanya dihukumi satu mufrad.
Jawab :
Karena yang dikehendaki oleh pengarang adalah lafadz ushul fiqh sebelum dijadikan sebuah nama fan ilmu.
Referensi :
فَإِنْ قُلْتَ إِذَا كَانَ الْمُفْرَدُ هُنَا بِهَذِهِ الْمَعْنَى كَانَ حَقُّهُ أَنْ يَقُوْلَ وَذَلِكَ مُفْرَدٌ لِأَنَّ أُصُوْلَ الْفِقْهِ لَقَبٌ لِهَذَا الْعَلَمِ فَلَا يَدُلُّ جُزْؤُهُ عَلَى جُزْءِ مَعْنَاهُ فَكَيْفَ يَقُوْلُ مُفْرَدَيْنِ قُلْتُ هَذَا لَا يَرِدُ إِلَّا لَوْ قَالَ وَذَلِكَ جُزْئِيَانِ مُفْرَدَانِ وَهُوَ لَمْ يَقُلْ ذَلِكَ بَلْ قَالَ مُؤَلَّفٌ إلخ أَيْ أَنَّ الْأَصْلَ هَذَا الْاِسْمِ اللَّقَبِيِّ قَوْلٌ مُؤَلَّفٌ مِنْ مُفْرَدَيْنِ. (اَلنَّفَحَاتُ صـ 12)
“Seandainya tuan bertanya : ketika mufrad yang dikehendaki adalah makna ini (mufrad dalam ilmu mantiq), semestinya ucapan anda yang benar, “lafadz ushul fiqh ialah mufrad, karena ushul fiqh adalah nama (‘alam laqab) yang tentunya setiap bagiannya tidak mempunyai arti. Tapi mengapa pensyarah mengucapkan “disusun dari dua juz yang keduanya mufrad)”?. Maka saya jawab : ini tidaklah janggal kecuali jika pengarang mengatakan; “lafadz ushul fiqh adalah dua juz yang mufrad keduanya”, dan pengarang tidak mengatakan seperti ini, tapi mengatakan; “lafadz ushul fiqh tersusun…dan seterusnya”. Artinya, bahwa asal dari ‘alam laqab ini adalah ucapan yang tersusun dari dua mufrad”

Pertanyaan :
Apa yang di maksud الْتَرْكِيْبُ dalam lafadz مِنَ الْأَفْرَدِ الْمُقَابِلِ لِلتَّرْكِيْبِ ?
Jawab :
Suatu lafadz yang tersusun dari dua atau beberapa bagian, yang setiap bagiannya mempunyai arti sendiri.
Referensi :
ثُمَّ اللَّفْظُ يَنْقَسِمُ بِاعْتِبَارٍ آخَرَ إِلَى مُرَكَّبٍ وَمُفْرَدٍ لِأَنَّهُ إِنْ دَلَّ جُزْؤُهُ الَّذِيْ بِهِ تَرْكِيْبُهُ عَلَى جُزْءِ مَعْنَاهُ فَمُرَكَّبٌ (غاَيَةُ الوُصُوْلِ صـ 36)
“Kemudian lafadz dipandang dari sisi lain terbagi menjadi murakkab dan mufrad. Karena apabila juz (bagian) yang merupakan susunan lafadz, mempunyai arti sendiri, maka dinamakan murakkab berbentuk tarkib isnadi. Contoh : زَيْدٌ قَائِمٌ (zaid berdiri) [4][4]”.

(وَالْفِقْهُ) الَّذِيْ هُوَ الْجُزْءُ الثَّانِيْ لَهُ مَعْنًى   لُغَوِيٌّ   وَهُوَ   الْفَهْمُ،   وَمَعْنًى

Fiqh yang menjadi juz kedua (dari lafadz ushul fiqh) memiliki makna lughat, yakni faham.  Juga memiliki makna syar’i,

شَرْعِيٌّ وَهُوَ: (مَعْرِفَةُ الْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الَّتِيْ طَرِيْقُهَا الْإِجْتِهَادُ) كَالْعِلْمِ بِأَنَّ النِّيَّةَ فِيْ الْوُضُوْءِ وَاجِبَةٌ، وَأَنَّ الْوِتْرَ مَنْدُوْبٌ، وَأَنَّ النِّيَّةَ مِنَ اللَّيْلِ شَرْطٌ فِيْ صَوْمِ رَمَضَانَ، وَأَنَّ الزَّكَاةَ وَاجِبَةٌ فِيْ مَالِ الصَّبِيِّ غَيْرُ وَاجِبَةٍ فِيْ الْحُلِيِّ الْمُبَاحِ، وَأَنَّ الْقَتْلَ بِمُثَقَّلٍ يُوْجِبُ الْقِصَاصَ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِنَ مَسَائِلِ الْخِلَافِ بِخِلَافِ مَا لَيْسَ طَرِيْقُهُ الْإِجْتِهَادَ، كَالْعِلْمِ بِأَنَّ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ وَاجِبَةٌ، وَأَنَّ الزِّنَى مُحَرَّمٌ، وَنَحْوُ ذَلِكَ مِنَ الْمَسَائِلِ الْقَطْعِيَّةِ، فَلَا يُسَمَّى فِقْهاً فَالْمَعْرِفَةُ هُنَا العِلْمُ بِمَعْنَى الظَنِّ

mengetahui hukum-hukum syar’i melalui jalan ijtihad, seperti mengetahui hukum wajibnya niat dalam melakukan wudlu’, mengetahui hukum sunnah dalam shalat witir, mengetahui bahwa niat pada malam hari merupakan syarat dalam puasa Ramadhan, mengetahui hukum wajibnya zakat atas hartanya anak kecil, dan mengetahui tidak wajibnya zakat pada perhiasan yang boleh dipakai, dan mengetahui pembunuhan memakai benda tumpul menetapkan qishas dan contoh lain yang tergolong masalah-masalah khilafiyah.
Beda halnya dengan hukum-hukum yang diperoleh tanpa melalui ijtihad, seperti mengetahui shalat lima waktu hukumnya wajib, melakukan zina haram, dan contoh lain yang tergolong masalah qath’iyah maka bukan di namakan fiqh. Lafad makrifat dalam pembahasan ini ialah yakin yang bermakna dhan (persangkaan).

Penjelasan :
Fiqh adalah pengetahuan atas hukum syar’i melalui jalan ijtihad (terkait dengan masalah-masalah khilafiyah). Contoh, wajibnya niat di dalam wudhu’. Sedangkan contoh mengetahui wajibnya shalat lima waktu, bukanlah fiqh, sebab bukan tergolong masalah-masalah khilafiyah, namun tergolong masalah qath’i (pasti).

Pertanyaan :
Apa yang dimaksud makrifat (dalam lafadz marifatul ahkam) ?
Jawab :
Potensi pada seseorang yang dihasilkan dari penelitian kaidah hingga melahirkan kemampuan menghasilkan sebuah hukum yang dikehendakinya, walaupun hasil hukumnya belum terwujud secara nyata.
Referensi :
(قَوْلُهُ مَعْرِفَةٌ) .... أَعْنِيْ الْمَلَكَةُ الْحَاصِلَةُ مِنْ تَتَبُّعِ الْقَوَاعِدِ بِحَيْثُ يَقْتَدِرُ بِهَا عَلَى تَحْصِيْلِ التَّصْدِيْقِ بِأَيِّ حُكْمٍ أَرَادَ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ حَاصِلًا بِالْفَعْلِ كَمَا وَقَعَ ذَلِكَ لِمَنْ هُوَ فَقِيْهٌ بِالْإِجْمَاعِ فِيْ بَعْضِ الْأَحْكَامِ كَمَالِكٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى حِيْنَ سُئِلَ عَنْ أَرْبَعِيْنَ مَسْأَلَةً فَقَالَ فِيْ سِتٍّ وَ ثَلَاثِيْنَ لَا أَدْرِيْ لِجَوَازِ أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ لِعَدَمِ التَّمَكُّنِ مِنَ الْاِجْتِهَادِ فِيْ الْحَالِ (اَلنَّفَحَاتُ صـ 14)
“(Ucapan pengarang : pengetahuan)….yang dimaksud ialah sebuah potensi (kemampuan) pada seseorang dari penelitian terhadap kaidah, yang dengan penelitian tersebut mampu menghasilkan sebuah hukum (tashdiq) yang ia kehendaki, walaupun hasil hukumnya belum terwujud secara nyata. Seperti yang terjadi pada seseorang yang memahami ijma’ dalam sebagian hukum. Seperti  imam Malik ra tatkala beliau ditanya tentang 40 permasalahan, (4 masalah beliau jawab) dan beliau berkata dalam 36 masalah; “saya tidak tahu jawabanya”. Demikian itu dikarenakan mungkin tidak ada kesempatan untuk berijtihad seketika itu”

Pertanyaan :
Apa yang dimaksud masail al-khilafiyah (مَسَائِلِ الْخِلَافِ) dan masalah qathiyahمَسَائِلِ الْقَطْعِيَّةِ) ) ?
Jawab :
Masail al-khilafiyah yaitu hukum yang proses penggaliannya melalui ijtihad. Sedangkan yang dimaksud masalah qath’iyah adalah hukum yang proses penggaliannya tanpa melalui ijtihad.
Referensi :
(وَالفِقْهُ عِلْمُ كُلَّ حُكْمٍ شَرْعِيٍّ   #  جَاءَ اجْتِهَادًا دُوْنَ حُكْمٍ قَطْعِيٍّ)
وَإِنَّمَا احْتَاجَ إِلَى التَّقْيِيْدِ بِقَوْلِهِ جَاءَ اجْتِهَادًا دُوْنَ حُكْمٍ قَطْعِيٍّ الَّذِيْ هُوَ بِمَعْنَى قَوْلِ الْأَصْلِ الَّتِيْ طَرِيْقِهَا الْاِجْتِهَادُ أَيْ جَاءَ ثُبُوْتُهُ وَظُهُوْرُهُ بِالْاِجْتِهَادِ وَهُوَ بَذْلُ الْوَسْعِ فِيْ بُلُوْغِ الْغَرَضَ لِأَنَّ الْحُكْمَ ثَابِتَةٌ فِيْ نَفْسِهَا بِدُوْنِ الْاِجْتِهَادِ لَكِنَ الْاِجْتِهَادُ هُوَ الْمُظْهِرُ الْمُثْبِتُ لَهَا عِنْدَ الْمُجْتَهِدِ فَالْحُكْمُ الشَّرْعِيُّ يَنْقَسِمُ إِلَى مَا طَرِيْقُهُ الْاِجْتِهَادُ الْمُرَادُ مِنْ قَوْلِهِ جَاءَ اِجْتِهَادًا كَقَوْلِنَا النِّيَّةُ فِيْ الْوُضُوْءِ وَاجِبَةٌ....وَإِلَى مَا طَرِيْقُهُ الْقَطْعُ لَا الْاِجْتِهَادُ مِنْ قَوْلِهِ دُوْنَ حُكْمٍ قَطْعِيٍّ كَالْعِلْمِ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى وَاحِدٌ مَوْجُوْدٌ وَأَنَّ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ وَاجِبَةٌ وَأَنَّ الزِّنَا مُحَرَّمٌ وَغَيْرَ ذَلِكَ مِنَ الْمَسَائِلِ الْقَطْعِيَّةِ مِمَا يَشْتَرِكُ فِيْ مَعْرِفَتِهَا الْخَاصُّ وَالْعَامُ فَلَا يُسَمَّى فِقْهًا فَلِذَلِكَ قُيِّدَ الْحُكْمُ بِالْاِجْتِهَادِ (لَطَائِفُ الإِشَارَاتِ صـ9)
“(Fiqh yaitu pengetahuan tentang hukum berbentuk syar’i yang datang melalui ijtihad, bukan hukum qath’i). Dibutuhkannya batasan “melalui ijtihad, bukan hukum qath’i” dimana artinya sama dengan kitab asal (warakat) yang redaksinya “melalui proses ijtihad”, artinya tetap dan munculnya melalui ijtihad. Ijtihad ialah pengerahan kemampuan untuk mencapai tujuan. Karena sebenarnya hukum itu terlebih dahulu telah wujud tanpa ijtihad, sedangkan keberadaan ijtihad hanya untuk menampakkan dan menetapkannya di tangan mujtahid. Dengan demikian hukum itu syar’i terbagi menjadi dua. 1). Adakalanya proses penggaliannya melalui ijtihad, dan ini yang dikehendaki redaksi “datang melalui ijtihad”, seperti niat di dalam wudhu’ adalah wajib…..2). Adakalanya proses penggaliannya tidak menggunakan ijtihad seperti pengetahuan kita bahwa Allah swt itu satu dan wujud, adanya shalat lima waktu hukumnya wajib, perbuatan zina hukumnya haram dan contoh-contoh lain yang tergolong qath’iyyah. Yakni dari beberapa masalah, yang orang pintar maupun orang awam dapat mengetahuinya. Pengetahuan terhadap hukum tersebut tidak dinamakan fiqh. Sehingga hukum dalam hal ini perlu dibatasi dengan yang proses penggaliannya melalui ijtihad

(وَالْأَحْكًامُ) الْمُرَادَةُ فِيْمَا ذُكِرَ (سَبعَةٌ: الوَاجِبُ والمَندُوبُ وَالمُبَاحُ والمَحْظُورُ والمَكْرُوهُ والصَّحِيْحُ وَالبَاطِلُ)
فَالْفِقْهُ الْعِلْمُ بِالْوَاجِبِ وَالْمَنْدُوْبِ إِلَى أَخِرِ السَّبْعَةِ أَيْ بِأَنَّ هَذَا الْفِعْلَ وَاجِبٌ وَهَذَا مَنْدُوْبٌ وَهَذَا مُبَاحٌ وَهَكَذَا إِلَى أَخِرِ السَّبْعَةِ

Dan hukum yang dimaksud pada keterangan yang telah lewat ada tujuh macam, wajib, mandub, mubah, mahdhur (haram), makruh, sah, dan batal.
Maka yang dinamakan fiqh ialah pengetahuan tentang hukum wajib, sunnah, sampai ketujuh hukum di atas. Artinya bahwa pekerjaan ini hukumnya wajib, mandub, dan pekerjaan ini mubah sampai akhir ke tujuh hukum di atas.

Penjelasan :
Hukum ialah khithab Allah swt yang bersangkutan dengan perbuatan orang-orang mukallaf. Terbagi menjadi dua :
1.    Hukum Taklifi
2.    Hukum Wadl’i
Hukum taklifi ialah hukum yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf, baik bersifat tuntutan, atau bersifat memilih (mengerjakan atau meninggalkan). Kemudian diperinci sebagai berikut;
1.      Khithab yang menuntut sebuah perbuatan dengan tuntutan yang bersifat mengharuskan, maka dinamakan wajib.
2.      Khithab yang menuntut sebuah perbuatan dengan tuntutan yang bersifat tidak mengharuskan, maka dinamakan sunnah (nadbu).
3.      Khithab yang menuntut ditinggalkannya sebuah perbuatan dengan tuntutan yang bersifat mengharuskan disebut haram.
4.      Khithab yang menuntut ditinggalkannya sebuah perbuatan dengan tuntutan yang bersifat tidak mengharuskan, disertai larangan yang khusus disebut makruh.
5.      Khithab yang menuntut ditinggalkannya sebuah perbuatan dengan tuntutan yang bersifat tidak mengharuskan, disertai larangan yang tidak khusus disebut khilaful `aula.
6.      Khithab yang berbentuk pilihan (mengerjakan atau meninggalkan) namanya mubah.[5][5]

Hukum Wadl’i ialah khithab Allah swt yang menjadikan sesuatu sebagai sabab, syarat, mani’ (pencegah), shahih (sah) atau fasid (rusak).

Pertanyaan :
Ada berapa macam hubungan (ta’alluq) khithab dengan perbuatan mukallaf?
Jawab :
Ada dua.
1.      Maknawi yang disebut juga shuluhi qadim, yakni hubungan sebelum wujudnya mukallaf, dengan arti sewaktu-waktu seseorang ditemukan telah memenuhi persyaratan taklif, maka sebuah khithab akan terhubung dengannya.
2.      Tanjizi, yakni setelah wujudnya mukallaf dan setelah bi’tsah (diutusnya seorang utusan). Ini merupakan hubungan dengan ciptaan yang baru (hadits) setelah wujud.
Referensi :
وَالتَّعَلُقُ إِمَّا مَعْنَوِيٌّ وَهُوَ الصُّلُوْحِيُّ القَدِيْمُ قَبْلَ وُجُوْدِ المُكَلَّفِ عَلىَ مَعْنىَ أَنَّهُ إِذَا وُجِدَ مُسْتَجْمِعًا لِشُرُوْطِ التَّكْلِيْفِ كاَنَ مُتَعَلِّقاً بِهِ. وَإِماَّ تَنْجِيْزِيٌّ وَهُوَ بَعْدَ وُجُوْدِ المُكَلَّفِ بَعْدَ البِعْثَةِ إِذْ لاَ حُكْمَ قَبْلَهَا وَهُوَ تَعَلُّقٌ حَادِثٌ (اَلوَجِيْزُ صـ 39)
“Ta’alluq ada maknawi yang disebut juga shuluhi qadim, yakni hubungan sebelum wujudnya mukallaf, dengan arti sewaktu-waktu seseorang ditemukan telah memenuhi persyaratan taklif, maka sebuah khithab akan terhubung dengannya. Dan ada tanjizi, yakni setelah wujudnya mukallaf dan setelah bi’tsah (diutusnya seorang utusan), karena sebelum bi’tsah tidak ada hukum. Ini merupakan hubungan yang hadits”.

Pertanyaan :
Sabab, syarat dan mani’ tergolong khithab apa? dan kenapa ketiganya tidak disebutkan?
Jawab :
Tergolong khithab wadl’i. Dan tidak disebutkan karena bermaksud meringkas.
Referensi :
(وَالصَحِيْحُ) وَالفَسَادُ وَهَذاَ مِنْ أثارِ خِطَابِ الوَضْعِ كَمَا عَرَفْتَ أنِفًا وَلَمْ يَذْكُرْ بَقِيَتَهُ وُهُو السَبَبُ والشرطُ والمانعً لَعَلَّهُ لِقَصْدِ الاِخْتِصَارِ . (اَلنَّفَحَاتُ صـ 17)
“(Hukum sah) dan fasad (rusak), tergolong khithab wadl’i dan sebentar lagi engkau akan mengetahuinya. Pengarang tidak menyebutkan khithab wadl’i yang lain, yakni sabab, syarat, dan mani’, barangkali karena tujuan meringkas”

(فالوَاجِبُ) مِنْ حَيْثُ وَصْفُه بِالْوُجُوْبِ (مَا يُثَابُ عَلَى فِعْلِهِ وَيُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ) وَيَكْفِيْ فِيْ صِدْقِ الْعِقَابِ وُجُوْدُهُ لِوَاحِدٍ مِنَ الْعُصَاةِ، مَعَ الْعَفْوِ عَنْ غَيْرِهِ وَيَجُوْزُ أَنْ يُرِيْدَ وَيَتَرَتَّبُ الْعِقَابُ عَلَى تَرْكِهِ كَمَا عَبَّرَ بِهِ غَيْرُهُ فَلَا يُنَافِيْ الْعَفْوَ

Wajib, dilihat dari sisi perkara itu dinamakan wajib, ialah sesuatu yang berpahala jika dikerjakan dan disiksa jika ditinggalkan. Pengertian menyiksa dianggap cukup bila dilaksanakan pada satu orang dari beberapa pelaku maksiat, serta mengampuni yang lain. Dan pengarang bisa jadi menghendaki maksudnya adalah ‘meninggalkannya akan berakibat siksaan’, seperti ungkapan ulama lain, sehingga tidak menutup peluang adanya pengampunan.
Penjelasan :
Ta’rif (definisi) dalam pembahasan ushul fiqh sama dengan pembahasan yang ada dalam ilmu mantiq. Macam ta’rif ada tiga.
1.    Ta’rif hadd
2.    Ta’rif rasm
3.    Ta’rif lafdli
Ta’rif hadd ialah suatu ta’rif (definisi) yang menggunakan rangkai lafadz kulli jinsi dan fashl. Contoh, الْإِنْسَانُ حَيَوَانٌ نَاطِقٌ (Manusia adalah hewan yang bisa berfikir). Definisi ini menggunakan lafadz kulli jinsi (binatang) dan fashl (bisa berfikir).
Ta’rif rasm[6][6] ialah ta’rif yang menggunakan kulli jinsi dan sifat khusus. Contoh, manusia adalah binatang yang dapat tertawa. Lebih jelasnya lihat dalam buku mantiq dalam pembahasan definisi rasm.
Definisi hukum wajib yang disampaikan pengarang (musannif) di atas memandang dari sisi akibat hukum. Artinya, definisi tersebut berbentuk rasm, karena menggunakan akibat hukum, sebagaimana keterangan di atas.

Pertanyaan :
Dalam kitab-kitab ushul lain ditemukan definisi, bahwa hukum wajib ialah sesuatu yang dituntut untuk dikerjakan dengan tuntutan bersifat mengharuskan. Termasuk ta’rif apakah ini?
Jawab :
Termasuk ta’rif hadd (bukan rasm)
Referensi :
ثُمَّ إِنَّ هَذِهِ التَّعَارِيْفَ الَّتِيْ ذَكَرَهَا الْمُصَنِّفُ تَعَرِيْفَاتُ بِالْأَثَرِ لِأَنَّ الثَّوَابَ وَالْعِقَابَ مِنْ آثَارِ الْحُكْمِ وَهُوَ تَعْرِيْفٌ بِالرَّسْمِ وَقَدْ يُعَرَّفُ بِالْحَدِّ بِأَنْ يُقَالَ فِيْ الْوَاجِبِ هُوَ مَا يُطْلَبُ فِعْلُهُ طَلَبًا جَازِمًا (اَلنَّفَحَاتُ صـ 7)
“Selanjutnya, definisi-definisi yang disebutkan pengarang adalah definisi dengan akibat hukum, karena pahala dan siksaan termasuk akibat sebuah hukum, dan ini disebut ta’rif (definisi) rasm. Terkadang hukum wajib juga didefinisikan dengan ta’rif hadd, seperti diucapkan, wajib ialah sesuatu yang dituntut untuk dikerjakan dengan tuntutan yang mantap (mengharuskan)” [7][7].
(وَالمَندُوبُ) مِنْ حَيْثُ وَصْفُهُ بِالنَّدْبِ (مَا يُثَابُ عَلَى فِعلِهِ وَلَا يُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ)

Mandub (sunnah), dilihat dari sisi perkara itu dinamakan mandub yaitu sesuatu yang dapat pahala jika dikerjakan dan tidak mendapat siksa bila ditinggalkan.

Penjelasan :
Istilah mandub, mushtahab, tathawwu’, dan sunnah merupakan kata-kata muradif (tiga lafadz satu pengertian), yakni,
مَا يُثَابُ عَلَى فِعلِهِ وَلَا يُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ
Sesuatu yang dapat pahala jika dikerjakan dan tidak mendapat siksa jika ditinggalkan.

Sedangkan menurut Imam al-Qadhi Husein dan ulama lain, istilah mushtahab, tathawwu’, sunnah tidak sama pengertiannya (bukan muradif). Definisi masing-masing adalah sebagai berikut.
Sunnah adalah perbuatan yang dilakukan Nabi saw secara terus menerus. Mustahab, adalah yang dilakukan Nabi saw satu atau dua kali dan tidak secara terus menerus. Sedangkan tathawwu’ ialah yang sama sekali belum pernah dilakukan oleh Nabi saw. Hanya saja perbuatan tersebut merupakan kebiasaan (wirid) yang dibuat oleh manusia.

Pertanyaan :
Disebutkan di atas bahwa sunnah boleh ditinggalkan (tidak disiksa). Apakah boleh memutus di tengah-tengah setelah dikerjakan?
Jawab :
Menurut Imam as-Syafi’i ra diperbolehkan, sedangkan menurut Imam Malik ra dan Abi Hanifah, tidak diperbolehkan dan wajib disempurnakan.
Referensi :
ثُمَّ إِنَّهُ لَايَجِبُ اِتْمَامُ الْمَنْدُوْبِ بِالشُّرُوْعِ فِيْهِ عِنْدَ الشَّافِعِى رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ لِأَنَّهُ جَائِزُ التَّرْكِ خِلَافًا لِأَبِيْ حَنِيْفَةَ وَمَالِكِ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا فِىْ قَوْلِهِمَا بِوُجُوْبِ اِتْمَامِهِ مُسْتَدِلَّيْنِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى (وَلَا تُبْطِلُوْا أَعْمَالَكُمْ) فَيَجِبُ عِنْدَهُمَا بِتَرْكِ اِتْمَامِ الْمَنْدُوْبِ قَضَاءُهُ وَأُجِيْبَ عَنِ الْآيَةَ بِأَنَّهَا مُخَصَّصَةٌ بِمَا صَحَّحَهُ الْحَاكِمُ مِنْ رِوَايَةِ التِّرْمِذِى (الصَّائِمُ الْمُتَطَوِّعُ أَمِيْرُ نَفْسِهِ إِنْ شَاءَ صَامَ وَإِنْ شَاءَ أَفْطَرَ) وَيُقَاسُ عَلَى الصَّوْمِ غَيْرُهُ مِنَ الْمَنْدُوْبَاتِ وَإِنَّمَا وَجَبَ اِتْمَامُ النُّسُكِ الْمَنْدُوْبِ مِنْ حَجٍّ أَوْ عُمْرَةٍ لِأَنَّ نَفْلَهُ كَفَرْضِهِ فِىْ كَثِيْرٍ مِنَ الْأَحْكَامِ كَالنِّيَةِ فَإِنَّهَا فِىْ كُلٍّ مِنْ فَرْضِهِ وَنَفْلِهِ قَصْدُ الدُّخُوْلِ فِىْ الْحَجِّ وَالْعُمْرِةِ وكَالْكَفَارَةِ فَإِنَّهَا تَجِبُ فِىْ كُلٍّ مِنْهُمَا بِالْجِمَاعِ الْمُفْسِدِ لَهُ وَكَعَدَمِ الْخُرُوْجِ بِالْفَسَادِ فَإِنَّ كُلًّا مِنْهُمَا يَجِبُ الْمُضِيِّ فِىْ فَاسَدِهِ وَلَيْسَ نَفْلُ غَيْرِهِمَا وَفَرْضُهُ سَوَاءٌ فِيْمَا ذُكِرَ كَمَا هُوَ مَعْلُوْمٌ  (لَطَائِفُ الإِشاَرَاتِ صـ 11)
“Kemudian sesungguhnya tidak wajib hukumnya menyempurnakan ritual ibadah sunnah setelah mulai dikerjakan menurut Imam Syafi’i RA. Karena ibadah sunnah itu hukumnya boleh untuk ditinggalkan. Lain halnya dengan Imam Hanafi RA dan Imam Malik RA, beliau berdua berpendapat bahwasanya wajib hukumnya menyempurnakan ritual ibadah sunnah tersebut, dengan berlandaskan pada ayat, “Dan janganlah kamu sekalian membatalkan amal kamu sekalian”. Maka menurut beliau berdua, tidak disempurnakannya sunnah, mewajibkan qadha’. Dalil ayat di atas ditanggapi bahwasanya ayat tersebut telah ditakhsish dengan hadits yang dishahihkan oleh Imam Hakim dari riwayat Imam At Tirmidzi : “orang yang berpuasa sunnah itu berhak memerintah dirinya, jika dia berkehendak maka dia berpuasa dan jika dia berkehendak dia boleh membatalkannya (berbuka)”. Ibadah sunnah lain diqiyaskan dengan puasa ini. Sedangkan mengenai wajibnya menyempurnakan ritual ibadah haji dan umrah sunnah, hal ini disebabkan karena sunnah dan fardhunya ibadah tersebut memiliki banyak kesamaan hukum. Semisal dalam niat, karena niat baik dalam haji dan umrah wajib, atau haji dan umrah sunnah adalah sama, yaitu menyengaja untuk masuk dalam ritual haji atau umrah. Juga dalam kafarat, karena kafarot diwajibkan baik dalam wajib maupun sunnah, akibat melakukan persetubuhan yang merusak ibadah tersebut. Serta dalam hukum tidak bisa keluar (masih berstatus ihram) karena rusaknya ibadah tersebut. Karena baik wajib atau sunnah, haji dan umrah yang rusak tetap diwajibkan untuk melanjutkannya sampai selesai. Dan tidak ada ibadah-ibadah sunnah selain keduanya memiliki kesamaan dengan ibadah fardhunya, dalam permasalahan yang telah disebutkan, sebagaimana sudah dimaklumi”.

(وَالْمُبَاحُ) مِنْ حَيْثُ وَصْفُهُ بِالْإِبَاحَةِ (مَا لا يُثَابُ عَلَى فِعْلِهِ) وَ تَرْكِهِ (وَلَا يُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ) وَ فِعْلِهِ أَيْ ماَ لَا يَتَعَلَّقُ بِكُلٍّ مِنْ فِعْلِهِ وَتَرْكِهِ ثَوَابٌ وَلَا عِقَابٌ

Mubah dipandang sebagai perkara itu dinamakan mubah yaitu sesuatu yang tidak mendapat pahala ataupun siksa jika dikerjakan atau ditinggalkan. Artinya, pahala ataupun siksa tidak ada keterkaitan dengan melakukan atau meninggalkannya.
Penjelasan :
Mubah secara bahasa artinya dilapangkan atau diluaskan. Sedangkan secara istilah ialah,
مَا لا يُثَابُ عَلَى فِعْلِهِ وَلَا يُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ
Sesuatu yang melakukan dan meninggalkannya tidak mendapat pahala dan siksa

Mubah juga dapat disebut jaiz atau halal[8][8], contoh makan dan minum.

Pertanyaan :
Dari definisi di atas, apakah tidak bertentangan dengan perkataan bahwa seorang yang makan dengan niat mengusahakan kekuatan beribadah, akan mendapatkan pahala?
Jawab :
Tidak bertentangan, karena ta’rif mubah (sesuatu yang melakukan dan meninggalkannya tidak mendapat pahala dan siksa) di atas adalah dari sisi pandang sesuatu itu disifati mubah. Sedangkan perkataan ‘seorang yang makan dengan niat mengusahakan kekuatan beribadah, akan mendapatkan pahala’, adalah memandang dari sisi yang berbeda, yakni dari aspek tha’at (ketaatan).
Referensi :
(مِنْ حَيْثُ وَصْفُهُ) دَفَعَ بِهَذَا أَنَّ الْمُبَاحَ قَدْ يُثَابُ عَلَى فِعْلِهِ اِذَا نَوَى بِهِ طَاعَة كمَا قَالَ اِبْنُ رُسْلاَنْ:
لَكِنْ اِذَا نَوَى بِأَكْلِهِ القُوَى  #  لِطَاعَةِ اللهِ لَهُ مَا قَدْ نَوَى
فَأَجَابَ بِأَنَّهُ لَا يُثَابُ عَلَى فِعْلِهِ مِنْ حَيْثُ وَصْفُهُ بِالْإِبَاحَةِ وَلَا يُنَافِي أَنَّهُ يُثَابُ مِنْ حَيْثُ الطَّاعَةِ (اَلنَّفَحَاتُ صـ 19)
(dipandang dari sesuatu itu disifati mubah), lafadz ini sebagai sangkalan atas ucapan yang mengatakan, “Sesuatu yang mubah terkadang mendapat pahala jika dilakukan dengan niat tha’at”, sebagaimana ucapan Ibnu Ruslan (dalam syair):
Akan tetapi ketika makan disertai niat agar kuat
Untuk tha’at pada Allah swt, maka baginya (pahala) dari niat itu”.
Maka pensyarah menjawab, bahwa mubah itu tidak ada kaitannya dengan pahala memandang dari sisi sesuatu itu dihukumi mubah. Tidak munutup kemungkinan melakukan hal yang mubah mendapat pahala karna dari sisi tha’at-nya”

(وَالْمَحْظُوْرُ) مِنْ حَيْثُ وَصْفِهِ بِالْحَظْرِ أَيْ الْحُرْمَةِ (مَا يُثَابُ عَلَى تَرْكِهِ) اِمْتِثَالًا (وَيُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ)
وَيَكْفِيْ فِيْ صِدْقِ الْعِقَابِ وُجُوْدُهُ لِوَاحِدٍ مِنَ الْعُصَّاةِ مَعَ الْعَفْوِ عَنْ غَيْرِهِ.
وَيَجُوْزُ أَنْ يُرِيْدَ وَيَتَرَتَّبَ الْعِقَابُ عَلَى فِعْلِهِ كَمَا عَبَّرَ بِهِ غَيْرُهُ فَلَا يُنَافِيْ الْعَفْوَ

Haram dilihat dari sisi sebagai perkara haram yaitu suatu perkara yang mendapat pahala jika kita tinggalkan karena niat mengikuti perintah Allah, dan mendapat siksa bila melakukannya.
Dan pengertian menyiksa dianggap cukup bila dilaksanakan pada satu orang dari beberapa orang yang maksiat, serta mengampuni yang lain. Dan pengarang bisa jadi menghendaki maksudnya adalah ‘melakukannya ditindaklanjuti dengan siksaan’, seperti ungkapan ulama lain, sehingga tidak menutup peluang adanya pengampunan.

Penjelasan :
Hukum haram didefinisikan sebagai berikut,
مَا يُثَابُ عَلَى تَرْكِهِ اِمْتِثَالًا وَيُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ
“Suatu perkara yang meninggalkannya akan mendapat pahala, dengan niat melaksanakan perintah Allah, dan melakukannya akan mendapat siksa”.
Contoh, perbuatan zina, mencuri dan lain sebagainya.

Pertanyaan :
Apa perbedaan antara haram dan makruh tahrim?
Jawab :
Hukum haram ditetapkan berdasarkan dalil qath’i (arah maknanya pasti), sedangkan makruh tahrim dengan dalil dhanni (mungkin diarahkan pada makna lain).
Referensi :
الْحَرَامُ مَا ثَبَتَ نَهْيُهُ بِدَلِيْلٍ قَطْعِيٍّ لَا يَحْتَمِلُ التَّأْوِيْلَ, وَالْمَكْرُوْهُ كَرَاهَةَ تَحْرِيْمٍ مَا ثَبَتَ نَهْيُهُ بِدَلِيْلٍ يَحْتَمِلُ التَّأْوِيْلَ (اَلنَّفَحَاتُ صـ 20)
“Haram ialah sesuatu yang dilarang berdasarkan dalil qath’i (pasti dilalahnya) yang tidak mungkin diarahkan pada makna lain. Makruh tahrim adalah setiap perkara yang dilarang berdasarkan sebuah dalil yang memungkinkan diarahkan pada makna lain”.

(قَوْلُهُ كَرَاهَةَ تَحْرِيمِ) أَىْ يَأْثِمُ فاعِلُها وَذَكَرَ بَعْضُهُمْ الفَرْقَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الحَرَامِ مَعَ اَنّ كُلاً يَقْتَضِى الإِثْمَ بِأَنَّ الأَوَلَ مَا ثَبَتَ بِدَلِيْلِ يَحْتَمِلُ التَأْوِيْلَ وَالثَّانِى مَا ثَبَتَ بِدَلِيْلِ قَطْعِىِ أَوْاِجْمَاعِ أَوْقِيَاسٍ أَوْلَوِىٍّ أَوْمُسَاوٍ (طَرِيْقَةُ الحُصُوْلِ صـ81)
“(Ucapan pengarang: makruh tahrim), yakni yang pelakunya berdosa. Sebagian ulama membedakan antara makruh tahrim dengan haram, dengan sisi kesamaan keduanya menetapkan dosa. Bahwa yang pertama (makruh tahrim) adalah yang tetap berdasarkan dalil yang mungkin diarahkan pada makna lain. Dan kedua (haram) ialah yang tetap berdasarkan dalil qath’i (pasti), ijma’, qiyas awlawiy, atau qiyas musawi”.

(وَالْمَكْرُوْهُ) مِنْ حَيْثُ وَصْفُهُ بِالْكَرَاهَةِ (مَا يُثَابُ عَلَى تَرْكِهِ) امْتِثَالًا (وَلَا يُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ)

Makruh dilihat dari sisi sebagai perkara yang makruh yaitu perkara yang apabila ditinggalkan disertai niat untuk menjalankan perintah Allah akan mendapat pahala dan apabila dilakukan tidak akan mendapat siksa.

Penjelasan :
Pengertian makruh;
مَا يُثَابُ عَلَى تَرْكِهِ امْتِثَالًا وَلَا يُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ
“Setiap perkara yang meninggalkannya dengan diniati karena Allah akan mendapat pahala, dan melakukannya tidak akan mendapat siksa”.

Pertanyaan :
Apakah ada perbedaan antara makruh tahrim dan makruh tanzih?
Jawab :
Ada, yakni melakukan makruh tanzih tidak mendapat siksaan, dan melakukan makruh tahrim mendapat siksaan.
Referensi :
وَالْفَرْقُ بَيْنَهَا وَبَيْنَ كَرَاهَةِ التَّنْزِيْهِ أَنَّ كَرَاهَةَ التَّنْزِيْهِ مَا لَا يُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ بِخِلَافِ كَرَاهَةِ التَّحْرِيْمِ فَإِنَّهُ يُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ (اَلنَّفَحَاتُ صـ 20)
“Perbedaan antara makruh tahrim dan makruh tanzih adalah bahwa melakukan makruh tanzih, tidak mendapat siksa, berbeda dengan makruh tahrim, maka melakukannya akan mendapat siksa”.

Pertanyaan :
Apakah ada perbedaan antara makruh dengan khilaful aula?
Jawab :
Menurut ulama ushul dan mutaqaddimin dari golongan fuqaha, keduanya sama. Menurut ulama mutaakhirin dari golongan fuqaha, keduanya beda.
Referensi :
(وَالْمَكْرُوْهُ) الخ اَلشَّامِلُ لِخِلاَفِ الْأَوْلَى وَهُوَ مَا كاَنَ بِنَهْيٍ غَيْرِ مَخْصُوْصٍ كَالنَّهْيِ عًنْ تَرْكِ الْمَنْدُوْبَاتِ الْمُسْتَفَادِ مِنْ أَوَامِرِهَا لِاَنَّ الْأَمْرَ بِالشَّيْءِ نَهْيٌ عَنْ ضِدِّهِ وَهُوَ اَصْلُ اِصْطِلاَحِ الْأُصُوْلِى وَاِنْ خَالَفَ فِيْهِ بَعْضُ مُتَأَخِّرِى الْفُقَهَاءِ وَمِنْهُمْ اَلْمُصَنِّفُ فَخَصُّوا الْأَوَّلَ بِالْمَكْرُوْهِ وَالثَّانِى بخِلاَفَ الْأَوْلَى (اَلنَّفَحَاتُ صـ 21)
“(Ucapan pengarang : makruh),  mencangkup khilaful aula, yakni yang tidak menggunakan shighat larangan khusus (jelas), seperti larangan meninggalkan sunnah-sunnah yang diambil dari perintah-perintah sunnah. Karena perintah atas sesuatu adalah larangan untuk melakukan kebalikannya. Ini adalah asal istilah dari ahli ushul, meskipun tidak disepakati sebagian fuqaha mutaakhirin, termasuk pengarang. Mereka menentukan yang pertama (disertai shighat larangan khusus) dengan nama makruh, dan yang kedua (tanpa shighat larangan khusus) dengan nama khilaful aula”

وَتَقْسِيمُ خِلَافِ الْأَوْلَى زَادَهُ الْمُصَنِّفُ عَلَى الْأُصُولِيِّينَ أَخْذًا مِنْ مُتَأَخِّرِي الْفُقَهَاءِ حَيْثُ قَابَلُوا الْمَكْرُوهَ بِخِلَافِ الْأَوْلَى فِي مَسَائِلَ عَدِيدَةٍ وَفَرَّقُوا بَيْنَهُمَا وَمِنْهُمْ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ فِي النِّهَايَةِ بِالنَّهْيِ الْمَقْصُودِ وَغَيْرِ الْمَقْصُودِ وَهُوَ الْمُسْتَفَادُ مِنْ الْأَمْرِ وَعَدَلَ الْمُصَنِّفُ إلَى الْمَخْصُوصِ وَغَيْرِ الْمَخْصُوصِ أَيْ الْعَامِّ نَظَرًا إلَى جَمِيعِ الْأَوَامِرِ النَّدْبِيَّةِ وَأَمَّا الْمُتَقَدِّمُونَ فَيُطْلِقُونَ الْمَكْرُوهَ عَلَى ذِي النَّهْيِ الْمَخْصُوصِ وَغَيْرِ الْمَخْصُوصِ وَقَدْ يَقُولُونَ فِي الْأَوَّلِ مَكْرُوهٌ كَرَاهَةً شَدِيدَةً كَمَا يُقَالُ فِي قِسْمِ الْمَنْدُوبِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ (جَمْعُ الجَوَامِعِ صـ10)
“Pembagian khilaful aula adalah tambahan pengarang dari istilah ulama ushul, mengutip dari fuqaha mutaakhirin, dimana mereka membandingkan makruh dan khilaful aula di beberapa masalah. Mereka, termasuk Imam Haramain dalam an-Nihayah membedakan keduanya dengan shighat larangan jelas dan yang tidak jelas, yakni yang diambil dari amr (perintah). Pengarang beralih dengan membahasakan shighat larangan khusus dan yang tidak khusus, yakni yang umum, memandang pada semua perintah-perintah sunnah. Sedangkan fuqaha mutaqaddimin memutlakkan makruh atas semua yang memiliki shighat larangan khusus dan yang tidak. Kadang mereka sebut yang pertama dengan makruh berat (syadidah), sebagaimana dalam sunnah ada sebutan sunnah muakkadah”. 

(وَالصَّحِيحُ) مِنْ حَيْثُ وَصْفُهُ بِالصِّحَةِ (مَا يَتَعلَّقُ بِهِ النُّفُوذُ وَيُعتَدُّ بِهِ) بِأَنِ اسْتَجْمَعَ مَا يُعْتَبَرُ فِيْهِ شَرْعاً، عَقْداً كَانَ أَوْ عِبَادَةً

Sah ditinjau dari sesuatu itu disifati sah yaitu perkara yang berkaitan dengan nufudz, dan i’tidad. Yakni di saat perkara tersebut telah melengkapi hal-hal yang dipertimbangkan syara’, baik berupa akad atau ibadah.

Penjelasan :
Hukum shahih ialah,
مَا يَتَعلَّقُ بِهِ النُّفُوذُ وَيُعتَدُّ بِهِ
Sesuatu yang telah berhubungan dengan nufudz, dan i’tidad

Nufudz adalah tercapainya suatu tujuan, seperti jual beli, tujuannya ialah supaya pembeli dapat memiliki barang yang dibeli dan penjual dapat hak milik atas uang yang diterima. Sedangkan i’tidad ialah telah melengkapinya seseorang atas perkara yang telah ditetapkan syara seperti syarat dan rukun.
Dari pengertian di atas, ketika ibadah dinyatakan sah, berarti syarat dan rukun di dalamnya telah terpenuhi (dalam ibadah tidak ada istilah nufudz). Dan ketika jual beli dinyatakan sah, maka artinya jual beli tersebut telah berkaitan dengan dua hal. Pertama, nufudz, dengan pengertian pembeli boleh menggunakan barang yang dibeli, begitu juga pihak penjual mendapat hak milik atas uang yang diterima. Kedua, i’tidad, dengan pengertian si pembeli dan penjual telah melaksanakan rukun dan syarat yang terdapat dalam jual beli.
Catatan : secara istilah, akad dapat disifati dengan nufudz dan i’tidad. Sedangkan ibadah hanya disifati dengan i’tidad saja.

Pertanyaan :
Apakah standar atau tolak ukur sah tidaknya ibadah atau akad?
Jawab :
Dalam ibadah ada dua aspek, persangkaan orang mukallaf dan kenyataan sebenarnya. Sedangkan dalam akad hanya kenyataan sebenarnya.
Referensi :
(قَوْلُهُ بِأَنْ لَمْ يَسْتَجْمِعْ)الخ......ثُمَّ العِبْرَةُ فِي اِسْتِجْمَاعِهِ الشُّرُوْطِ اَوْ عَدَمِ اِسْتِجْمَاعِهِ فِي الْعِبَادَاتِ بِمَا فِي ظَنِّ المُكلَفِ وَنَفْسِ الْأَمْرِ فَلِذَا لَوْ صَلَّى عَلَى اِعْتِقَاد أَنَّهُ مُطَهِّرٌ فَبَانَ بَعْدَ الصَّلَاةِ أَنَّهُ مُحْدِثٌ وَجَبَ عَلَيْهِ الِاعَادةُ وَيَكُوْنُ اَدَاءً اِنْ بَقِيَ الوَقْتُ وَقَضَاءً اِنْ خَرَجَ الوَقْتُ وَبِمَا فِي الوَاقِعِ فِي العُقُوْدِ فَلِذَا لَوْ بَاعَ مَالَ مُوَرَّثَهُ مُعْتَقِدًا حَيَاتَهُ فَبَانَ مَوْتَهُ صَحَّ البَيْعُ (اَلنَّفَحَاتُ صـ 22)
“(Ucapan pensyarah: tidak melengkapi)…..tolak ukur melengkapi syarat atau belum dalam permasalahan ibadah yaitu sesuai dengan persangkaan orang mukallaf dan juga kenyataan sebenarnya. Dengan demikian seumpama ada seseorang melakukan shalat dengan berkeyakinan dirinya telah suci, namun setelah shalat ternyata nyata-nyata ia berhadats, maka ia wajib mengulangi shalatnya, dan dihukumi ada’ jika waktu shalat masih tersisa, dan dihukumi qadha’ jika waktu sudah habis. Dan dalam permasalahan akad, yang menjadi tolak ukur yaitu kenyataan sebenarnya. Dengan demikian seumpama ada seseorang yang menjual harta orang yang akan diwarisinya (semisal ayahnya) dengan berkeyakinan bahwa ayahnya masih hidup, namun kenyataannya ternyata ayahnya sudah meninggal, maka penjualannya dianggap sah.

(وَالبَاطِلُ) مِنْ حَيْثُ وَصْفُهُ بِالْبُطْلَانِ (مَا لَا يَتعَلَّقُ بِهِ النُّفُوذُ وَلَا يُعتَدُّ بِهِ) بِأَنْ لَمْ يَسْتَجْمِعْ مَا يُعْتَبَرُ فِيْهِ شَرْعاً، عَقْداً كَانَ أَوْ عِبَادَةً.
وَالْعَقْدُ يَتَّصِفُ بِالنُّفُوْذِ وَالْإِعْتِدَادِ، وَالْعِبَادَةُُ تَتَّصِفُ بِالْإِعْتِدَادِ فَقَطْ اصْطِلاَاحًا.

Bathil ditinjau dari sesuatu itu disifati batal yaitu perkara yang tidak berkaitan dengan nufudz dan i’tidad. Yakni di saat perkara tersebut belum melengkapi hal-hal yang dipertimbangkan syara’, baik berupa akad atau ibadah.
Akad disifati dengan nufudz dan i’tidad, sedangkan ibadah disifati hanya disifati dengan i’tidad saja secara istilah.

Penjelasan :
Batal merupakan lawan kata dari shahih (sah) dengan demikian batal ialah,
مَا لَا يَتعَلَّقُ بِهِ النُّفُوذُ وَلَا يُعتَدُّ بِهِ
Sesuatu yang belum berhubungan dengan nufudz dan i’tidad

Dari pengertian bathil ini, ketika sebuah ibadah dinyatakan batal, maka artinya syarat dan rukun didalamnya belum terpenuhi (dalam ibadah tidak ada istilah nufudz). Dan ketika sebuah akad, seperti jual beli dinyatakan batal, maka artinya jual beli tersebut belum berkaitan dengan dua hal. Pertama, nufud, dengan pengertian pembeli tidak boleh menggunakan barang yang dibeli, begitu juga pihak penjual belum mendapat hak milik atas uang yang diterima. Kedua, i’tidad, dengan pengertian si pembeli dan penjual belum melaksanakan rukun dan syarat dalam jual beli.

Pertanyaan :
Apakah sama batal dengan fasad?
Jawab :
Menurut kalangan Syafi’iyyah sama, sedangkan menurut kalangan Hanafiyah batal dengan fasad tidak sama.
Referensi :
(قَوْلُهُ وَالبَاطِلُ )الخ.....وَفي التَّعْرِيْفِ بِالبَاطِلِ إِشَارَةٌ إِلَى اِتِّحَادِهِمَا إِلاَّ فِي صُوَرٍ مِنْهاَ الحَجُّ فَإِنَّهُ يَبْطُلُ بِالرِّدَةِ وَيَخْرُجُ مِنْهُ وَيَفْسُدُ بِالوَطْءِ وَلاَ يَخْرُجُ مِنْهُ وَيَلْزَمُهُ إِتْماَمُهُ خِلَافًا لِأَبِي حَنِيفَةَ فِي قَوْلِهِ بِتخَالُفِهِمَا وَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا بِأَنْ مَا كَانَ النَّهْيُ رَاجِعًا لِأَصْلِهِ فَهُوَ البُطْلَانٌ كَمَا فِي الصَّلَاةِ بِدُونِ بَعْضِ الشُّرُوطِ أَوْ الْأَرْكَانِ أَوْ لِوَصْفِهِ فَهِيَ الْفَسَادُ كَمَا فِي صَوْمِ يَوْمِ النَّحْرِ لِلْإِعْرَاضِ بِصَوْمِهِ عَنْ ضِيَافَةِ اللَّهِ لِلنَّاسِ بِلُحُومِ الْأَضَاحِيّ الَّتِي شَرَعَهَا فِيهِ (اَلنَّفَحَاتُ صـ22)
“(Ucapan pengarang : bathil)….dalam ta’rif menggunakan lafad batal mengisyaratkan semaknanya batal dan fasid….berbeda dengan Imam Abi Hanifah dalam statemennya, bahwa keduanya berbeda. Beliau membedakan antara keduanya, bahwa hukum yang larangan di dalamnya mengarah pada asalnya (syarat atau rukun), maka dinamakan batal. Seperti melakukan shalat tanpa memenuhi sebagian rukun atau syaratnya. Atau mengarah pada sifatnya ibadah, maka dinamakan fasad, seperti puasa pada hari raya kurban, karena berpaling dari suguhan Allah bagi manusia berupa daging kurban yang telah di syariatkan di hari itu”.
Pertanyaan :
Apakah khilaf di atas (bahwa batal apakah sama dengan fasad) tergolong lafdhi atau ma’nawi?
Jawab :
Tergolong khilaf lafdhi.
Referensi :
ثُم الْخِلَافُ بَيْنَهُمَا لَفْظِيٌّ لِأَنَّ حَاصِلَهُ أَنَّ مُخَالَفَةَ ذِي الْوَجْهَيْنِ الشَّرْع بِالنَّهْيِ عَنْهُ لِأَصْلِهِ كَمَا تُسَمَّى بُطْلَانًا هَلْ تُسَمَّى فَسَادًا أَوْ لِوَصْفِهِ كَمَا تُسَمَّى فَسَادًا هَلْ تُسَمَّى بُطْلَانًا فَعِنْد أبِي حَنِيفَةَ لاَ تُسَمَّى وَعِنْدَنَا نَعَمْ (اَلنَّفَحَاتُ صـ22)
Kemudian perbedaan antara Syafiiyah dengan Hanafiyah hanyalah seputar khilaf lafdhi. Karena secara kesimpulan, tidak sesuainya dua perkara yang memiliki dua wajah terhadap syara(devinisi lain dari batal) dengan sebuah larangan yang mengarah pada asal (syarat dan rukun) selain dinamakan batal, apa juga bisa dinamakan fasad? Atau adanya larangan mengarah pada sifatnya, selain dinamakan fasad, apa juga dapat disebut batal?. Menurut Imam Abi Hanifah tidak bisa, menurut kita (Syafiiyah) bisa”.

Pertanyaan :
Mengapa definisi sah dan batal dalam Waraqat tidak sama dengan kebanyakan kitab ushul?. Seperti dalam Jam’ul Jawami dam Lubbul Ushul definisi sah ialah,
وَالصِّحَّةُ مُوَافَقَةُ الْفِعْلِ ذِي الْوَجْهَيْنِ وُقُوعًا الشَّرْعَ
“Sah ialah kesesuaian perbuatan yang adanya memiliki dua wajah dan terjadi dengan syari’at”

Definisi batal ialah,
وَيُقَابِلُهَا أَيْ الصِّحَّةَ الْبُطْلَان فَهُوَ مُخَالَفَةُ الْفِعْلِ ذِي الْوَجْهَيْنِ وُقُوعًا الشَّرْع
“Kebalikan dari sah adalah batal, yakni tidak sesuainya perbuatan yang adanya memiliki dua wajah dengan syari’at”.
Jawab :
Karena definisi yang terdapat di Al-Waraqat termasuk ta’rif rasm, sedangkan ta’rif yang terdapat kebanyakan kitab ushul, seperti dalam Jam’ul Jawami’ dan Lubbul Ushul di atas termasuk ta’rif hadd.
Referensi :
(مِنْ حَيْثُ وَصْفُهُ بِالوُجُوْبِ) ثُمَّ إِنَّ هَذِهِ التَّعَارِيْفَ الَّتِيْ ذَكَرَهَا الْمُصَنِّفُ تَعَرِيْفَاتُ بِالْأَثَرِ الخ....وَهُوَ تَعْرِيْفٌ بِالرَّسْمِ وَقَدْ يُعَرَّفُ بِالْحَدِّ....بِأَنْ يُقَالَ الصَّحِيحُ مَا وَافَقَ الشَّرْعَ مِمَّا يَقَعُ عَلَى وَجْهَيْنِ وَاْلبَاطِلُ مَا خَاَلفَ الشَّرْعَ مِمَّا يَقَعُ عَلَى وَجْهَيْنِ (اَلنَّفَحَاتُ صـ 18)
“(Ucapan pensyarah: ditinjau dari sesuatu itu disifati wajib) kemudian ta’rif-ta’rif ini yang telah disebutkan pengarang adalah ta’rif rasm….dan kadang juga dita’rifi dengan hadd…dengan dikatakan sah ialah suatu perbuatan yang sesuai dengan syari’at yang adanya perbuatan tersebut memiliki dua wajah. Batal ialah suatu perbuatan yang tidak sesuai dengan syara’ yang adanya perbuatan tersebut memiliki dua wajah”.

Catatan
Mulai dari pengertian wajib, sunnah, mubah, haram, makruh, sah dan batal yang terdapat dalam Al-Waraqat semuanya menggunakan ta’rif rasm. Untuk lebih jelasnya, pengertian ta’rif hadd atau rasm dapat dilihat dalam kitab ilmu mantiq.

(والفِقْهُ) بِالْمَعْنَى الشَّرْعِيِّ (أَخَصُّ مِنَ العِلْمِ) لِصِدْقِ الْعِلْمِ بِالنَّحْوِ وَغَيْرِهِ فَكُلُّ فِقْهٍ عِلْمٌ وَلَيْسَ كُلُّ عِلْمٍ فِقْهاً.
(وَالْعِلْمُ مَعْرِفَةُ الْمَعْلُوْمِ) أَيْ إِدْرَاكُ مَا مِنْ شَأْنِهِ أَنْ يُعْلَمَ (عَلَى مَا هُوَ بِهِ فِيْ الْوَاقِعِ) كَإِدْرَاكِ الْإِنْسَانِ بِأَنَّهُ حَيَوَانٌ نَاطِقٌ

Fiqh dengan arti syar’i mempunyai makna lebih sempit daripada ilmu, karena mencakupnya arti ilmu pada nahwu dan lainnya. Maka setiap fiqh pasti ilmu akan tetapi tidak setiap ilmu dinamakan fiqh.
Ilmu ialah pengetahuan pada perkara yang diketahui, maksudnya menemukan perkara yang keadaannya perkara tersebut memungkinkan untuk diketahui, sesuai dengan kenyataan yang ada. Seperti pengetahuan pada manusia, bahwa manusia ialah hewan yang dapat berfikir.

Penjelasan :
Fiqh dipandang dari makna bahasa lebih luas daripada makna ilmu, sebab arti fiqh secara bahasa adalah kefahaman yang mencakup ilmu dan selainnya. Sedangkan dipandang dari sisi makna syar’i, fiqh lebih sempit dari pada makna ilmu, karena setiap fiqh pasti ilmu, dan ilmu bisa mencakup fiqh dan yang lainnya, seperti ilmu nahwu, sharaf dan lainnya. Dari pengertian ini, ilmu memiliki pengertian yang sangat luas dibandingkan dengan pengertian yang ada dalam fiqh.
Pengertian ilmu adalah,
إِدْرَاكُ مَا مِنْ شَأْنِهِ أَنْ يُعْلَمَ عَلَى مَا هُوَ بِهِ فِيْ الْوَاقِعِ
Menemukan (idrak) perkara yang memungkinkan untuk diketahui sesuai kenyataan yang ada”.

Contoh, menemukan pada manusia bahwa manusia adalah binatang yang bisa berfikir. Maka hal ini adalah ilmu karena sesuai kenyataan yang ada. Mengecualikan sebuah pengetahuan yang tidak sesuai kenyataan yang ada, seperti pengetahuan kaum Yahudi bahwa Uzair adalah anak Allah swt. Pengetahuan ini tidak bisa disebut sebagai ilmu, namun dinamakan sebagai jahl murakkab (kebodohan bertingkat).[9][9]
Sedangkan pengertian idrak ialah,
وُصُولُ النَّفْسِ إلَى الْمَعْنَى بِتَمَامِهِ
Sampainya hati pada makna dengan sempurna

Dimana idrak yang adanya tanpa disertai hukum disebut tashawwur dan yang disertai hukum disebut dengan tashdiq. [10][10]

(وَالْجَهْلُ تَصُّورُ الشَّيْءِ) أَيْ إِدْرَاكُهُ (عَلَى خِلَافِ مَا هُوَ بِهِ فِيْ الْوَاقِعِ) كَإِدْرَاكِ الْفَلَاسِفَةِ أَنَّ الْعَالَمَ وَهُوَ مَا سِوَى اللهِ تَعَالَى قَدِيْمٌ وَبَعْضُهُمْ وَصَفَ هَذَا الْجَهْلَ بِالْمُرَكَّبِ، وَجَعَلَ الْبَسِيْطَ عَدَمَ الْعِلْمِ بِالشَّيْءِ، كَعَدَمِ عِلْمِنَا بِمَا تَحْتَ الْأَرَضِيْنَ وَبِمَا فِيْ بُطُوْنِ الْبِحَارِ، وَعَلَى مَا ذَكَرَهُ  الْمُصَنِّفُ لَا يُسَمَّى هَذَا جهلاً

Bodoh yaitu menggambarkan sesuatu, maksudnya ialah menemukan sesuatu tidak sesuai dengan keadaan nyata yang ada, seperti menemukannya kaum filosof bahwa alam semesta, yakni perkara selain Allah swt bersifat qadim (dahulu). Sebagian ulama menamakan kebodohan ini dengan jahl murakkab. Dan menjadikan definisi jahl basith ialah tidak mengetahui (sama sekali) terhadap sesuatu, seperti tidak tahunya kita atas benda di perut bumi dan yang ada di dasar laut. Hal ini menurut keterangan mushannif tidak dinamakan jahl.

Penjelasan :
Kebalikan dari ilmu adalah jahl (bodoh). Terbagi dua:
1.      Jahl murakkab (kebodohan bertingkat) yaitu menggambarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Contoh, pengetahuan para ahli filsafat bahwa alam bersifat qadim (dahulu tanpa permulaan). Pengetahuan mereka tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, karena kenyataan sebenarnya alam bersifat hadits (tercipta baru). Ditandai dengan perubahan dan sifat-sifat yang nampak pada alam. Jahl semacam ini disebut murakkab (bertingkat), karena pelakunya selain tergolong bodoh, juga tidak menyadari bahwa dirinya bodoh (tidak sadar bahwa penemuannya salah).
2.      Jahl basith, yaitu tidak adanya pengetahuan sama sekali atas sesuatu. Seperti tidak tahu tentang isi perut bumi dan dasar lautan. Dan jenis ini bukan tergolong jahl, apabila berpijak dari definisi pengarang.

Pertanyaan :
Apa sebab penamaan jahl dengan nama jahl murakkab?
Jawab :
Karena pelakunya meyakini sesuatu tidak sesuai dengan kenyataan, hal ini merupakan kebodohan atas sesuatu tersebut. Ditambah ia meyakini bahwa keyakinannya itu sesuai dengan kenyataan, hal ini menjadi kebodohan lain (tingkat kedua).
Referensi :
(بِالمُرَكَّبِ) وَإِنَّمَا سُمِيَ مُرَكَّبًا لِاَنَّ صَاحِبَهُ يَعْتَقِدُ الشَّيْئَ عَلَى خِلاَفِ مَا هُوَ عَلَيْهِ فَهَذَا جَهْلٌ بِذَلِكَ الشَّيءِ وَيَعْتَقِدُ أَنَّهُ يَعْتَقِدُهُ عَلَى مَا هُوَ عَلَيْهِ فَهَذَا جَهْلٌ أَخَرُ تَرَكَّبَا مَعًا (النَّفَحَاتُ صـ 25)
“(Perkataan pengarang : jahl murakkab), kebodohan ini disebut dengan jahl murakkab (kebodohan yang berganda), karena pelakunya meyakini atas sesuatu tidak sesuai dengan kenyataan, hal ini merupakan kebodohan atas sesuatu tersebut. Ditambah ia meyakini bahwa keyakinannya itu sesuai dengan kenyataan, hal ini juga merupakan kebodohan lain. Kedua jenis kebodohan ini tersusun secara bersamaan.

(وَالْعِلْمُ الضَّرُوْرِيُّ مَا لَا يَقَعُ عَنْ نَظَرٍ وَاسْتِدْلَالٍ) كَالْعِلْمِ الْوَاقِعِ بِإِحْدَى

Ilmu dlaruri yaitu ilmu yang didapatkan tanpa melalui berfikir dan tanpa menggunakan dalil.

الْحَوَاسِ الْخَمْسِ الظَّاهِرَةِ وَهِيَ السَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَاللَّمْسُ وَالشَّمُ وَالذَّوْقُ فَإِنَّهُ يَحْصُلُ بِمُجَرَّدِ الْإِحْسَاسِ بِهَا مِنْ غَيْرِ نَظَرٍ وَاسْتِدْلَالٍ
(وَأمَّا الْعِلْمُ الْمُكْتَسَبُ فَهُوَ المَوْقُوْفُ عَلَى النَّظَرِ وْالْإِسْتِدْلَالِ) كَالْعِلْمِ بِأَنَّ الْعَالَمَ حَادِثٌ فَإِنَّهُ مَوْقُوْفٌ عَلَى النَّظَرِ فِيْ الْعَالَمَ وَمَا نُشَاهِدُهُ فِيْهِ مِنَ التَّغَيُّرِ فَيَنْتَقِلُ مِنْ تَغَيُّرِهِ إِلَى حُدُوْثِهِ

Seperti ilmu yang diperoleh melalui salah satu panca indra yang nampak, yakni pendengaran, penglihatan, peraba, penciuman, dan perasa. Pengetahuan ini didapat hanya dengan interaksi panca indra tanpa butuh pemikiran dan menggunakan dalil.
Ilmu muktasab ialah suatu pengetahuan yang dicapai melalui berfikir dan menggunakan dalil. Seperti pengetahuan bahwa alam adalah ciptaan baru. Pengetahuan ini dicapai melalui berfikir tentang alam, dan yang kita lihat pada alam, berupa perubahan. Dari perubahan tersebut maka hati berpindah (menyimpulkan) bahwa alam adalah ciptaan baru.

Penjelasan :
Ilmu terbagi menjadi dua macam :
1.   Ilmu dlaruri, yakni ilmu yang diperoleh tanpa melalui proses berfikir dan tanpa menggali dalil. Seperti pengetahuan yang dihasilkan mata manusia bahwa sebuah benda berwarna hitam atau putih[11][11]
2.   Ilmu muktasab, adalah ilmu yang diperoleh melalui proses berfikir dan menggunakan dalil. Seperti pengetahuan bahwa alam adalah ciptaan baru. Pengetahuan tersebut dicapai melalui pemikiran tentang alam dan segala keadaan yang melingkupinya. Dimulai dari kenyataan bahwa alam berubah-ubah, dari ada menjadi hilang, dari tidak ada menjadi wujud dan lain sebagainya. Dari perubahan inilah, hati menyimpulkan pengetahuan bahwa alam adalah ciptaan baru.
(وَالنَّظَرُ هُوَ الْفِكْرُ فِيْ حَالِ الْمَنْظُوْرِ فِيْهِ) لِيُؤَدِّيَ إِلَى الْمَطْلُوْبِ
(وَالْاِسْتِدْلَالُ طَلَبُ الدَّلِيلِ) لِيُؤَدِّيَ إِلَى الْمَطْلُوْبِ فَمُؤَدَّى النَّظَرِ وَالْاِسْتِدْلَالِ وَاحِدٌ وَجَمَعَ الْمُصَنِّفُ بَيْنَهُمَا فِيْ الْإِثْبَاتِ وَالنَّفْيِ تَأْكِيْدًا
(وَالدَّلِيْلُ هُوَ الْمُرْشِد إِلَى الْمَطْلُوْبِ) لِأَنَّهُ عَلَامَةٌ عَلَيْهِ 
(وَالظَّنُّ تَجْويْزُ أَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا أَظْهَرُ مِنَ الْآخَرِ) عِنْدَ الْمُجَوِّز
(وَالشَّكُّ تَجْوِيْزُ أَمْرَيْنِ لَا مَزِيَّةَ لِأَحَدِهِمَا عَلَى الْآخَرِ) عِنْدَ الْمُجَوِّز فَالتَّرَدُّدُ فِيْ قِيَامِ زَيْدٍ وَنَفْيِهِ عَلَى السَّوَاءِ شَكٌّ، وَمَعَ رُجْحَانِ الثُّبُوْتِ وَالْاِنْتِفَاءِ ظَنٌّ

An-Nadhar ialah berfikir mengenai sesuatu yang difikirkan agar sampai pada sesuatu yang dicari. Istidlal ialah  pencarian dalil agar sampai pada sesuatu yang dicari. Sehingga tujuan an-Nadhar dan istidlal adalah sama. Pengarang mengumpulkan keduanya dalam kalam itsbat dan kalam nafi bertujuan untuk mengukuhkan.
Dalil ialah sesuatu yang menunjukkan pada perkara yang dicari. Karena dalil merupakan tanda dari adanya perkara yang dicari.
Dhan ialah menganggap adanya kemungkinan dari dua perkara, dimana salah satunya dianggap lebih kuat dari yang lainnya menurut orang yang mempunyai anggapan.
Syak ialah menganggap adanya kemungkinan pada dua perkara, yang salah satunya tidak dianggap lebih kuat dari yang lain menurut orang yang mempunyai anggapan. Keraguan atas berdiri dan tidaknya Zaid secara seimbang, dinamakan syak. Dan jika disertai anggapan lebih kuatnya salah satu di antara berdiri dan tidak berdiri, maka dinamakan dhan.

Penjelasan :
Nadhar adalah berfikir tentang keadaan dari perkara yang difikirkan supaya sampai pada kesimpulan yang dicari (al-matlub).
Istidlal ialah pencarian dalil yang dapat menunjukan pada kesimpulan yang dicari. Dari dua pengertian di atas, nadhar dan istidlal memiliki tujuan sama.
Dalil secara lughat adalah sesuatu yang menunjukkan pada perkara lain. Secara istilah dalil adalah sesuatu yang ketika dianalisa dengan benar memungkinkan sampai pada kesimpulan berbentuk khabar. Definisi ini semakna dengan definisi pengarang di atas.
Dhan ialah menganggap adanya kemungkinan dari dua perkara, dimana salah satunya dianggap lebih kuat dari yang lainnya menurut orang yang mempunyai anggapan. Contoh anggapan berdiri dan tidaknya Zaid, dimana salah satunya lebih kuat.
Syak ialah menganggap adanya kemungkinan pada dua perkara, yang salah satunya tidak dianggap lebih kuat dari yang lain menurut orang yang mempunyai anggapan. Contoh, keraguan atas berdiri dan tidaknya Zaid secara seimbang.
        
Pertanyaan :
Apa maksud pernyataan pengarang telah mengumpulkan keduanya (nadhar dan istidlal) dalam kalam itsbat dan dalam kalam nafi?
Jawab :
Maksud pengarang mengumpulkan keduanya dalam kalam itsbat adalah dalam definisi ilmu muktasab. Dan dalam kalam nafi, maksudnya adalah dalam definisi ilmu dlaruri.
Referensi :
(فِي الِاثْبَاتِ وَالنَّفيِ) اَرَادَ بِالْاِثْبَاتِ الجَمْعُ بَيْنَهُمَا فِي تَعْرِيْفِ العِلْمِ الْمُكْتَسَبِ حَيْثُ قَالَ فَهُوَ المَوْقُوْفُ عَلَى النَّظَرِ وْالْإِسْتِدْلَالِ وَبِالنَّفْيِ الجَمْعُ بَيْنَهُمَا فِي تَعْرِيْفِ العِلْمِ الضَّرُوْرِي حَيْثُ قَالَ مَا لَا يَقَعُ عَنْ نَظَرٍ وَاسْتِدْلَالٍ (اَلنَّفَحَاتُ صـ30)
“(dalam kalam isbat dan nafi) pengarang menghendaki dengan itsbat, adalah mengumpulkan nadhar dan istidlal dalam definisi ilmu muktasab dengan perkataan : المَوْقُوْفُ عَلَى النَّظَرِ وْالْإِسْتِدْلَال. Sedangkan maksud kalam nafi adalah mengumpulkan nadhar dan istidlal dalam definisi ilmu dlaruri dengan perkataan : مَا لَا يَقَعُ عَنْ نَظَرٍ وْالْإِسْتِدْلَالِ.”

















Posting Komentar

Harap berkomentar yang bisa mendidik dan menambah ilmu kepada kami

Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler