Mengikuti Thariqah Mu‘tabarah bagi Orang yang Belum Paham Ilmu Fardlu ‘Ain

📙Mengikuti Thariqah Mu‘tabarah bagi Orang yang Belum Paham Ilmu Fardlu ‘Ain  

📚Pertanyaan:  

Bagaimana hukum seseorang yang belum memahami syarat-syarat wudu, salat, dan kewajiban fardlu ‘ain lainnya, namun ingin mengikuti thariqah mu‘tabarah? Bagaimana pula hukum seorang mursyid yang menerima murid seperti ini?  


📌Jawaban:  

Bagi seseorang yang belum memahami ilmu dasar agama, boleh mengikuti thariqah mu‘tabarah jika ia memiliki keyakinan atau perkiraan bahwa setelah bergabung dalam thariqah, ia akan dapat mempelajari ilmu syariat serta ilmu ushuluddin beserta cabang-cabangnya.  


Namun, jika ia tidak memiliki niat untuk belajar ilmu tersebut, maka tidak diperbolehkan baginya untuk mengikuti thariqah. Sebelum bergabung, ia diwajibkan terlebih dahulu mempelajari ilmu agama yang mendasar.  


Adapun bagi seorang mursyid, diperbolehkan menerima murid seperti ini jika ia mampu memberikan pelajaran ilmu syariat, baik ushuluddin maupun cabang-cabangnya. Namun, jika mursyid tersebut tidak dapat mengajarkan ilmu tersebut, maka tidak diperbolehkan menerima murid yang belum memahami ilmu dasar agama.  


📙Referensi:  

1. Ahkāmul Fuqahā’, Juz I, Hal. 74  

2. Al-Futūḥātul Ilāhiyyah, Juz … Hal. 823  

3. Tanwīrul Qulūb, Hal. 524  


📚في أحكام الفقهاء، ج 1 ص 74، جاء فيه:  


هل يجوز للجاهل الذي لا يعرف شروط الوضوء وفروضه والصلاة ونحوها الدخول في الطريقة المعتبرة أو لا؟  


الجواب: إن تيقَّن أو ظنَّ أنه سيتعلم العلوم الدينية بعد الدخول في الطريقة، فحكمه جائز، وإلا فلا يجوز، بل يجب أولًا أن يتعلم أصول الدين ثم فروعه. اهـ  


📚 الإلهية، ص 733، جاء فيه:  


ثم يُعلِّمه ما يلزمه في دينه من طهارة وصلاة وما يتعلق بذلك إن كان جاهلًا، وما تيسَّر من علم التوحيد خاليًا عن الدليل، فإن كان الشيخ ليس من شأنه ذلك، دفعه إلى من يُعلِّمه. اهـ  


📚وفي تنوير القلوب، ص 524، جاء فيه:  


ويُشترط في المرشد شروط، (الأول) أن يكون عالمًا بما يحتاج إليه المريدون من الفقه والعقائد، بقدر ما يُزيل الشبهات التي تَعرِض للمريد في البداية، ليستغني بذلك عن سؤال غيره. اهـ  


📚Dalam Ahkāmul Fuqahā’, Juz 1, Hal. 74, disebutkan:


Apakah diperbolehkan bagi seseorang yang tidak mengetahui syarat dan rukun wudu, salat, serta ibadah lainnya untuk mentioner thariqah mu‘tabarah?  


📌Jawaban: Jika ia yakin atau memperkirakan bahwa setelah masuk thariqah ia akan mempelajari ilmu agama, maka diperbolehkan. Namun, jika tidak demikian, maka tidak diperbolehkan. Sebelum masuk thariqah, ia wajib terlebih dahulu mempelajari ilmu agama yang fundamental.  


📚Dalam Al-Futūḥātul Ilāhiyyah, Hal. 733, disebutkan: 


Kemudian seorang mursyid harus mengajarkan kepada muridnya hal-hal yang wajib diketahui dalam agama, seperti bersuci, salat, serta perkara yang berkaitan dengannya jika ia masih awam. Ia juga harus mengajarkan dasar-dasar tauhid tanpa pembahasan dalil yang rumit. Jika seorang mursyid tidak memiliki kemampuan untuk mengajarkannya, maka ia harus mengarahkan murid tersebut kepada seseorang yang bisa mengajarkan ilmu tersebut.  


📚Dalam Tanwīrul Qulūb, Hal. 524, disebutkan:  


Seorang mursyid harus memenuhi beberapa syarat, (pertama) ia harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang fiqih dan akidah, sehingga dapat menjawab dan menghilangkan keraguan yang mungkin dialami oleh muridnya di awal perjalanan spiritualnya. Dengan demikian, murid tidak perlu bertanya kepada orang lain mengenai masalah tersebut.  


3 MEI 2025

LANGIT DUA DUNIA

Posting Komentar

Harap berkomentar yang bisa mendidik dan menambah ilmu kepada kami

Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler