🗒️ FIQIH
🔗Pengangkatan saksi yang belum mengetahui syarat penyaksian:
Masalah:
Ada seseorang yang mengaku beragama Islam, tetapi ia tidak memahami syarat sahnya wudhu dan sholat. Selain itu, ia juga tidak mengetahui syarat dan hukum kesaksian (syahadah). Kemudian, orang tersebut diangkat menjadi saksi dalam suatu perkara.
Pertanyaan:
Apakah kesaksian orang tersebut dapat diterima?
🔗Jawaban:
Kesaksian orang tersebut tetap dapat diterima, selama ia telah menjalankan sholat dan wudhu dengan memenuhi syarat dan rukunnya. Meskipun ia tidak memahami hukum wajibnya sholat dan wudhu, kesaksiannya tetap sah dengan syarat bahwa ketidaktahuannya termasuk dalam kategori "Jahil Ma’dzur" (ketidaktahuan yang masih bisa dimaklumi).
📚وفى إعانة الطالبين، ج 4 ص 297، ما نصه:
(لا يقدح في الشهادة جهله بفروض نحو الصلاة والوضوء الذين يؤديهما).
(قوله: لا يقدح في الشهادة) - إلى أن قال - أي ولم يقصر في التعلم كما في النهاية، فإن قصر فيه لم تُقبل شهادته، لأن تركه من الكبائر كما في التحفة، ونصها: ينبغي أن يكون من الكبائر ترك تعلم ما هو فرض عين عليه، لكن في المسائل الظاهرة لا الخفية.
نعم، ما مر أنه لو اعتقد أن كل أفعال نحو الصلاة أو الوضوء فرض، أو بعضها فرض، ولم يقصد بفرض معين النفلية، صح.
وحينئذ، فهل ترك تعلم ما ذكر كبيرة أيضًا أو لا؟ للنظر فيه مجال، والوجه أنه غير كبيرة لصحة عبادته مع تركه.
- إلى أن قال - بل صرح أئمتنا بقبول شهادة العامة، كما يُعلم مما يأتي قبيل شهادة الحسبة على كثيرين من المتفقهة يجهلون كثيرًا من شروط نحو الوضوء. اهـ
📚وفى بغية المسترشدين، ص 283، ما نصه:
*(إذا حكمنا بفسق الشخص، رُدت شهادته في النكاح وغيره).
نعم، أفتى بعضهم بقبول شهادة الفاسق عند عموم الفسق، واختار الإمام الغزالي والأذرعي وابن عطيف دفعًا للحرج الشديد في تعطيل الأحكام، لكن يلزم القاضي تقديم الأمثل فالأمثل والبحث عن حال الشهادة.
- إلى أن قال - زاد ش: ويجوز تقليد هؤلاء في ذلك للمشقة بالشرط المذكور. اهـ
📚Dalam kitab I’anah At-Talibin, Jilid 4, Halaman 297, disebutkan:
"Ketidaktahuan seseorang terhadap kewajiban sholat dan wudhu yang ia lakukan tidak membatalkan kesaksiannya."
Penjelasan:
Jika seseorang tidak memahami hukum wajibnya sholat dan wudhu tetapi tetap menjalankannya, maka kesaksiannya tetap sah, selama ia tidak lalai dalam belajar. Namun, jika ia sengaja mengabaikan kewajiban belajar, maka kesaksiannya tidak diterima, karena meninggalkan ilmu yang wajib dipelajari termasuk dosa besar.
📚Dalam kitab Tuhfah, disebutkan bahwa meninggalkan ilmu yang wajib dipelajari termasuk dosa besar, terutama dalam hal-hal yang jelas dan diketahui umum. Namun, jika seseorang menganggap bahwa semua gerakan dalam sholat atau wudhu adalah wajib tanpa membedakan antara yang sunnah dan wajib, maka ibadahnya tetap sah.
Para ulama juga menegaskan bahwa kesaksian orang awam tetap diterima, meskipun banyak dari mereka tidak mengetahui syarat sahnya wudhu dan ibadah lainnya.
📚Dalam kitab Bughyah Al-Mustarsyidin, Halaman 283, disebutkan:
"Jika seseorang dinyatakan fasik, maka kesaksiannya dalam pernikahan dan perkara lainnya ditolak."
Namun, sebagian ulama berpendapat bahwa kesaksian orang fasik tetap bisa diterima jika kefasikan telah menjadi hal yang umum. Imam Al-Ghazali, Al-Adzra’i, dan Ibnu ‘Athif memilih pendapat ini untuk menghindari kesulitan besar dalam pelaksanaan hukum.
Meskipun demikian, hakim tetap harus memilih saksi yang paling baik dan meneliti keadaan kesaksiannya sebelum menerimanya.
4 Mei 2025
Langit Dua Dunia
.jpeg)