*Batas Usia Anak Kecil Yang Membatalkan Wudhu Ketika Bersentuhan
Batasan usia anak kecil yang membatalkan wudhu jika bersentuhan adalah apabila anak tersebut telah sampai pada usia yang bisa menimbulkan syahwat berdasarkan ‘urf (kebiasaan masyarakat setempat) yaitu anak kecil yang berusia tujuh tahun atau lebih. Hal ini bisa dilihat dari penjelasan para ulama:
والمراد بالرجل والمرأة ذكر وأنثى بلغا حدَّ الشهوة عرفا
_Yang dimaksud dengan الرجل adalah الذكر (laki-laki) apabila ia telah sampai batasan dapat menimbulkan syahwat bukan baligh. Dan yang dimaksud dengan المرأة adalah الأنثى(perempuan) apabila ia telah sampai batasan dapat menimbulkan syahwat bukan baligh._ (Al-Khathib Asy-Syirbini, Al-Iqna', juz 1 hal.62)
Syeikh Wahbah Az-Zuhaili menerangkan:
ولا ينقض مس طفلة وطفل من دون سَبْع إذا لم يكن بشهوة، وينتقض الوضوء باللمس بشهوة ولو كان الملموس ميتًا أو عجوزًا، أو محرمًا، أو صغيرة تشتهى وهي بنت سبع فأكثر لقوله تعالى: ﴿أو لا مستم النساء﴾ [المائدة:٦/ ٥].
_Menyentuh anak perempuan dan laki-laki di bawah usia tujuh tahun tidak membatalkan wudhu apabila tidak dilakukan dengan syahwat. Dan wudhu bisa batal dengan menyentuh dengan syahwat meskipun yang disentuh adalah mayit atau lansia atau mahram atau anak kecil(perempuan) yang diinginkan yaitu anak kecil(perempuan) berumur tujuh tahun atau lebih berdasarkan firman Allah Ta'ala: Atau kalian menyentuh perempuan._ (Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, juz 1 hal. 441)
وقال شيخنا يوسف السنبلاويني: فإذا بلغ الولد سبع سنين فإنه ينقض باتفاق ذكرا كان أوأنثى وإذا بلغ خمس سنين فلا ينقض باتفاق. وأما إذا بلغ ستّ سنين ففيه خلاف فقيل ينقض وقيل لا. وهذا يرجع إلى طباع الناس حتّى أنّ الولد الذي بلغ خمس سنين فقط ينقض لمن يشتهيها ولا ينقض لغيره
_Guru kami Yusuf As-Sanbalawini berkata: Apabila anak telah sampai usia tujuh tahun maka (menyentuhnya) dapat membatalkan wudhu menurut kesepakatan para ulama baik laki-laki atau perempuan. Dan apabila telah sampai usia lima tahun maka (menyentuhnya) tidak membatalkan wudhu menurut kesepakatan para ulama. Dan adapun apabila telah sampai usia enam tahun maka terjadi perbedaan pendapat, ada yang berpendapat membatalkan ada pula yang berpendapat tidak membatalkan. Dan ini kembali kepada perwatakan manusia, sehingga anak yang berusia lima tahun saja (menyentuhnya) dapat membatalkan wudhu bagi orang yang merasa syahwat padanya dan tidak membatalkan bagi orang yang tidak syahwat padanya._ (Nawawi Al-Jawi, Mirqatu Shu'udit Tashdiq hal.44)
