📒Apa yang Kita Jawab kepada Orang yang Mengharamkan Perayaan Maulid?...
===================
✏️ LANGIT DUA DUNIA
📗الشَّيخ الدكتور جميل حليم
حَفِظَهُ اللهُ تعالى وغَفرَ اللهُ لهُ وللمُؤمِنِينَ والمُؤمِنات
📃《مَاذَا نَرُدُّ عَلَى مَنْ يُحَرِّمُ الاِحْتِفَالَ بِالْمَوْلِدِ؟》
الَّذِي يُحَرِّمُ الاِحْتِفَالَ بِالْمَوْلِدِ إِنَّمَا يُحَرِّمُهُ بِجَهْلِهِ، لِمَاذَا؟
أَوَّلًا: الأُمَّةُ لَا تُجْمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ، أَلَيْسَ مِنْ مَصَادِرِ التَّشْرِيعِ الإِسْلَامِيِّ الإِجْمَاعُ؟
فَالإِجْمَاعُ لَوْ كَانَ يَنْعَقِدُ عَلَى بَاطِلٍ مَا كَانَ إِجْمَاعًا وَلَا يَكُونُ مَصْدَرًا مِنْ مَصَادِرِ التَّشْرِيعِ.
كَيْفَ يَكُونُ مِنْ مَصَادِرِ التَّشْرِيعِ إِذَا كَانَ يَصِيرُ إِجْمَاعًا عَلَى بَاطِلٍ أَوْ عَلَى مُحَرَّمٍ أَوْ عَلَى ضَلَالَةٍ؟
إِذًا هَذَا مَرْدُودٌ بِدَلِيلِ الْقُرْآنِ، اللهُ مَاذَا قَالَ فِي الْقُرْآنِ؟
قَالَ سُبْحَانَهُ:
﴿ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا ﴾
فَاللهُ هَدَّدَ فِي هَذِهِ الْآيَةِ اَلَّذِي يَخْرِقُ الإِجْمَاعَ وَيَتَّبِعُ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُ النَّارَ.
إِذًا هَذَا دَلِيلٌ أَنَّ الإِجْمَاعَ لَا يَكُونُ عَلَى بَاطِلٍ، لِأَنَّ الإِجْمَاعَ مَصْدَرٌ مِنْ مَصَادِرِ التَّشْرِيعِ الإِسْلَامِيِّ.
وَهَلْ يَصِحُّ أَنْ تُجْمِعَ الأُمَّةُ الْمُحَمَّدِيَّةُ الإِسْلَامِيَّةُ مِنَ الْقَرْنِ السَّادِسِ الْهِجْرِيِّ وَإِلَى الْيَوْمِ (٨٠٠ سَنَةٍ أَوْ ٧٠٠ سَنَةٍ)؟
هَلْ يَجُوزُ أَنْ تُجْمِعَ عَلَى ضَلَالَةٍ؟
هَلْ يَجُوزُ أَنْ تُجْمِعَ عَلَى بَاطِلٍ؟
هَلْ يَصِحُّ أَنْ تُجْمِعَ عَلَى مُحَرَّمٍ فَتَجْعَلَ هَذَا الْمُحَرَّمَ طَاعَةً وَقُرْبَةً إِلَى اللهِ؟
لَا يَصِحُّ، لِأَنَّ هَذَا فِيهِ تَضْلِيلٌ لِكُلِّ الأُمَّةِ.
إِذًا اَلَّذِينَ يُحَرِّمُونَ الْمَوْلِدَ إِنَّمَا بِهَذَا الْمَعْنَى يُضَلِّلُونَ الأُمَّةَ،
فَإِذَا ضَلَّلُوا الأُمَّةَ قَطَعُوا طَرِيقَ وُصُولِ الْقُرْآنِ وَالْحَدِيثِ وَالدِّينِ إِلَيْنَا،
لِأَنَّ الأُمَّةَ إِذَا كَانَتْ مِنَ الْآنِ إِلَى ٧٠٠ سَنَةٍ إِلَى الْوَرَاءِ ضَالَّةً،
عَنْ طَرِيقِ مَنْ جَاءَنَا الدِّينُ؟
وَعَنْ طَرِيقِ مَنْ وَصَلَنَا الْقُرْآنُ؟
إِذَا كَانَ هَؤُلَاءِ ضُلَّالًا، إِذَا كَانُوا عَلَى بَاطِلٍ وَهُمْ اَلَّذِينَ نَقَلُوا إِلَيْنَا الْقُرْآنَ وَالسُّنَّةَ الثَّابِتَةَ وَنَقَلُوا إِلَيْنَا الْأَحْكَامَ وَالدِّينَ،
إِذًا لَوْ كَانَ كَمَا تَزْعُمُ هَذِهِ الْفِئَةُ الشَّاذَّةُ الضَّالَّةُ الْمُشَبِّهَةُ الْمُجَسِّمَةُ،
اَلَّذِينَ يُضَلِّلُونَ الأُمَّةَ وَيُكَفِّرُونَ الْمُسْلِمِينَ وَيَقُولُونَ:
"الِاحْتِفَالُ بِالْمَوْلِدِ ضَلَالَةٌ وَحَرَامٌ"،
وَبَعْضُهُمْ قَالَ: "شِرْكٌ"،
قَالَ: لِأَنَّكُمْ عَلَى زَعْمِكُمْ تَتَدَارَكُونَ عَلَى اللهِ وَجَعَلْتُمُ الدِّينَ كَانَ نَاقِصًا فَأَنْتُمْ تُكَمِّلُونَهُ بِزَعْمِكُمْ.
وَهَذَا كَذِبٌ، أَهْلُ السُّنَّةِ لَا يَقُولُونَ ذَلِكَ،
إِنَّمَا أَهْلُ السُّنَّةِ لَهُمْ مَصَادِرٌ وَمَرَاجِعٌ وَنُصُوصٌ وَأَدِلَّةٌ يَرْجِعُونَ إِلَيْهَا فِي جَوَازِ الاِحْتِفَالِ بِالْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ الشَّرِيفِ.
إِذًا أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ مَعَهُمْ كُلُّ هَذَا فِي جَوَازِ الاِحْتِفَالِ بِالْمَوْلِدِ.
《Apa yang Kita Jawab kepada Orang yang Mengharamkan Perayaan Maulid?》
Orang yang mengharamkan perayaan Maulid, sesungguhnya ia mengharamkannya karena kebodohannya. Mengapa?
Pertama: Umat tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Bukankah salah satu sumber hukum Islam adalah ijma’?
Jika ijma’ terjadi atas kebatilan, maka itu bukan ijma’ dan tidak bisa menjadi sumber hukum.
Bagaimana mungkin menjadi sumber hukum jika ijma’ terjadi atas kebatilan, atau atas sesuatu yang haram, atau atas kesesatan?
Maka pendapat itu tertolak dengan dalil dari al-Qur’an. Apa yang Allah katakan dalam al-Qur’an?
Allah berfirman:
“Dan barang siapa menentang jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia dalam kesesatannya dan Kami masukkan ia ke dalam neraka. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” [QS. An-Nisa: 115]
Allah mengancam dalam ayat ini orang yang menyalahi ijma’ dan mengikuti jalan selain orang-orang mukmin dengan neraka.
Ini adalah dalil bahwa ijma’ tidak mungkin terjadi atas kebatilan, karena ijma’ adalah sumber dari sumber-sumber hukum Islam.
Apakah mungkin umat Islam dari abad keenam Hijriyah hingga hari ini (selama 700 atau 800 tahun) bersepakat dalam kesesatan?
Apakah mungkin mereka bersepakat dalam kebatilan?
Apakah mungkin mereka bersepakat atas sesuatu yang haram lalu menjadikannya sebagai ibadah dan pendekatan diri kepada Allah?
Tidak mungkin, karena itu berarti menyesatkan seluruh umat.
Maka orang-orang yang mengharamkan Maulid, dengan pemahaman seperti itu, berarti mereka menyesatkan umat.
Jika mereka menyesatkan umat, maka mereka telah memutus jalan sampainya al-Qur’an, hadis, dan agama kepada kita.
Karena jika umat selama 700 tahun ke belakang adalah sesat, maka dari siapa kita menerima agama?
Dari siapa kita menerima al-Qur’an?
Jika mereka adalah orang-orang sesat, jika mereka berada dalam kebatilan, padahal mereka adalah orang-orang yang menyampaikan kepada kita al-Qur’an, sunnah yang sahih, hukum-hukum, dan ajaran agama,
maka jika seperti yang diklaim oleh kelompok kecil yang menyimpang, yang menyerupakan Allah dan menjisimkan-Nya,
yang menyesatkan umat dan mengkafirkan kaum muslimin, dan berkata:
“Perayaan Maulid adalah kesesatan dan haram,”
bahkan sebagian mereka berkata:
“Syirik.”
Mereka berkata demikian karena menurut klaim mereka, kalian seolah-olah memperbaiki agama Allah dan menjadikannya seakan-akan kurang, lalu kalian menyempurnakannya.
Dan ini adalah kebohongan. Ahlus Sunnah tidak mengatakan demikian.
Ahlus Sunnah memiliki sumber, rujukan, teks, dan dalil yang mereka jadikan sandaran dalam membolehkan perayaan Maulid Nabi ﷺ.
Maka Ahlus Sunnah wal Jamaah memiliki semua itu dalam membolehkan perayaan Maulid.
Syaikh Dr. Jamil Halim
Semoga Allah Ta‘ala menjaganya dan mengampuni beliau serta seluruh kaum mukminin dan mukminat.
4 SEPTEMBER 2025
LANGIT DUA DUNIA
