📚 Bismillah📚
Kajian Tanya Jawab
Deretan Kajian Ke 3️⃣1️⃣
Dari Kajian Kitab Ke 4️⃣1️⃣
🔸Part ke 18🔸
♻️mas'alah ke 22 ♻️
WAHABI MENYANGKAL MEREKA BUKAN MUJASSIMAH, MEREKA HANYA MENETAPKAN APA YANG ALLAH TETAPKAN , BENARKAH ?
💠Jawaban 💠
Allah tidak menetapkan sifat organ secara fisik dalam Nash , Allah tidak menetapkan bahwa Allah mempunyai sifat dimana sifat itu mempunyai kekurangan seperti halnya adanya batas dan ujung , namun hal ini diberlakukan oleh mereka salafi Wahabi , bukti Wahabi menyatakan bahwa Allah punya sifat fisikal , punya bagian bagian yang terdapat batas dan ujung ,ini bukti mujassimah yg mereka sematkan atas nama salaf
👉 Memang benar dan shahih ada ayat dan hadis yang menjelaskan tentang Jari,telapak tangan dan lain2 jika dipahami Zahir nas Allah mempunyai organ seperti di dalam HR.muslim no 1014 , HR. Tirmidzi no 3235 , HR.Muslim no 2654 ,HR. Bukhori no 4811 , QS. Azzumar :67
👉Lantas apakah benar semua dalil2 diatas 👆 dia pahami Zahir nas ?
Nah Kita simak baik2 penjelasan para ulama ahlusunnah dalam membantah pemahaman mujassimah
👉Jikalau beri’tiqod (beraqidah) selalu dengan makna dzahir (selalu berpegang pada nash secara dzahir) maka “jari Allah” juga berada disetiap hati manusia ,dan tentu pemahaman ini sesat menyesatkan untuk aqidah
✅Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahhu wa Ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya. (HR Muslim 4798)
✓Ibn Al Jawzi berkata , “Hadits ini menunjukan bahwa hati setiap manusia di bawah kekuasaan Allah. Ketika di ungkapkan
“بين أصبعين ”,
artinya bahwa Allah sepenuhnya menguasai hati tersebut dan Allah maha berkehendak untuk “membolak-balik” hati setiap manusia.
👉Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”
“Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.
👉 Imam Ahmad bin hanbal di dalam kitab I'tiqad Al-imam Ahmad ,hal.45 menjelas kan : " Imam Ahmad ingkar terhadap orang yang mengatakan, bahwa Allah adalah JISIM . Beliau berkata : " Asma Allah diambil dari syariat dan lughat . Ahli lughot telah meletakan nama ini (Jisim) untuk perkara yang mempunyai panjang ,lebar ,atap , tersusun (seperti organ tangan dan lainya ) ,bentuk ,dan terbentuk . Allah Subhana Ta'ala keluar dari itu semua dan tidak ada dalam syariat seperti itu ." ( Kitab I'tiqad Al-imam Ahmad ,hal.45)
👉 Imam Syafi'i berkata : "Dan termasuk (di dalam Al Qur'an) adalah zhahir yang (jika) di ketahui dari runutan kalamnya , maka yang di maksud bukan
zahirnya ." ( Kitab Ar-risalah ,hal.52)
👉 Salafi Wahabi sering kali membantah pernyataan bahwa mereka adalah seorang tajsim, dengan mengatakan mereka atau ulama mereka seperti Binbaz dan lainya hanya menjelaskan dalil dari hadis2 yg shahih , dan mereka menolak bahwa pemahaman mereka adalah pemahaman mujassimah
👉jelas pemahaman mereka telah bertentangan dengan ulama salaf , para ulama dari sejak zaman salaf tak pernah gegabah memahami sebuah perkara aqidah hanya bermodal kepada Zahir hadits/Alquran saja. Karena hadits/Alquran saja tidak bisa serta Merta dipahami zahirnya ,harus melewati pemahaman yang shahih dalam membahasnya
👉Hadis itu bisa menyesatkan selain para fuqoha ,hal ini dijelaskan Ibnu Hajar al-Haitami as-Syafi’i (w. 974 H) menukil perkataan ulama salaf Ibnu Uyainah (w. 198 H):
الحديث مضلة إلا للفقهاء
Hadits itu bisa jadi menyesatkan kecuali fuqaha’. (Ibnu Hajar al-Haitami w. 974 H, al-Fatawa al-Haditsiah, h. 202).
👉 Nah sangat terbukti penjelasan IBN Hajar 👆 hadis itu sangat menyesatkan dipahami oleh salafi Wahabi sekarang ini dan mengantarkan pada pemahaman tasbyh ,tajsim dan mujassimah
👉Di dalam kitab al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’aan, al-Imam Badruddin az-Zarkasyi menerangkan: “Telah berbeda pendapat para ulama’ mengenai ayat-ayat dan hadits-hadits yang mutasyabihat, pendapat-pendapat tersebut terbagi atas 3 kelompok
✓Kelompok Pertama: Bahwasanya kelompok ini berpendapat tidak boleh dita’wil, namun diberlakukan sesuai dengan makna dzahirnya, dan tidak dilakukan ta’wil apapun daripadanya, dan kelompok ini adalah kelompok musyabbihah.
✓Kelompok yang Kedua: Bahwasanya kelompok ini berpendapat bahwa ayat-ayat mutasyabihat itu boleh dita’wil, akan tetapi kami sedapat mungkin menghindari untuk melakukannya, disertai dengan tanzih (menyucikan) I’tiqad kami dari tasybih (menyerupakan Allah Ta’aala dengan makhluk) dan ta’thiil (menafikan sifat-sifat Allah Ta’aala). Dan kami mengatakan: Tidak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Allah Ta’aala semata. Dan yang demikian adalah perkataan dari kalangan salaf.
✓Kelompok yang Ketiga Bahwasanya kelompok ini berpendapat bahwa ayat-ayat mutasyabihat harus dita’wil. Dan mereka mena’wilnya sesuai dengan kesempurnaan dan kesucian Allah Ta’aala.
✓Pendapat yang diusung oleh kelompok pertama (musyabbihah) adalah bathil. Sedangkan pendapat yang diusung dua kelompok terakhir adalah pendapat yang di nukil dari para Shahabat Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam.”
(Disarikan dari kitab al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’aan juz 2 halaman 78, karya al-Imam Badruddin az-Zarkasyi, Tahqiiq: Muhammad Abu al-Fadhl Ibrahim, Maktabah Daar at-Turaats, Kairo, cetakan ketiga, 1404H/1983M)
👉Al-Imam Muhammad bin ‘Ali asy-Syaukani juga memberikan penjelasan di dalam kitabnya Irsyad al-Fuhuul ilaa Tahqiiq al-Haq min ‘ilm al-Ushuul sebagai berikut: Ayat-ayat yang berkaitan dengan ushul (pokok-pokok agama) seperti aqidah, ushuluddin, dan sifat-sifat Allah Ta’aala.
Para ulama’ berbeda pendapat berkaitan dengan bagian yang kedua ini. Perbedaan pendapat ini terbagi menjadi 3 kelompok.
✓Kelompok Pertama: Kelompok yang berpendapat bahwasanya tidak boleh melakukan ta’wil atas ayat-ayat mutasyabihat, tetapi diberlakukan sesuai dengan makna dzahirnya dan tidak boleh melakukan ta’wil apapun terhadapnya. Pendapat yang seperti ini adalah pendapat dari kalangan Musyabbihah.
✓Kelompok Kedua: Kelompok yang berpendapat bahwasanya ayat-ayat tersebut boleh dita’wil, akan tetapi kami menghindar untuk melakukan ta’wil disertai dengan tanzih (menyucikan) I’tiqad kami dari tasybih (menyerupakan Allah Ta’aala dengan makhluk) dan ta’thiil (menafikan sifat-sifat Allah Ta’aala) sebagaimana firman Allah Ta’aala:
وما يعلم تأويله إلا الله – سورة أۤل عمران ٧
{Tidak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali hanya Allah Ta’aala – QS. Aali ‘Imran: 7}
Ibn Burhan berkata: pendapat Ini adalah pendapat dari kalangan salaf.
✓Kelompok yang Ketiga: Kelompok yang berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut harus dita’wil.
Ibn Burhan berkata: Pendapat dari kelompok yang pertama adalah pendapat yang bathil. Sedangkan dua pendapat yang terakhir dinukil dari para shahabat Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam. Dan pendapat dari kelompok yang ketiga ini dinukil dari Sayyidina ‘Ali, ibn Mas’ud, ibn ‘Abbas, dan Ummu Salamah.”
(Disarikan dari kitab Irsyad al-Fuhuul ilaa Tahqiiq al-Haq min ‘ilm al-Ushuul, karya imam asy-Syaukani, juz 2 halaman 757. Cetakan Daar al-Fadhiilah. Riyadh. Tahun 1421H/2000M).
👉Orang-orang seperti salafi Wahabi yang terjerumus mengikuti firqah MUJASSIMAH adalah karena mereka mensifati Allah atau memaknai sifat Allah dengan MAKNA DZAHIR atau secara hissi (indrawi atau fisikal, materi, jisim) sehingga mereka men-jisim-kan Allah yakni seperti mereka mengitsbatkan (menetapkan) arah, jarak, tempat, ukuran, BATASAN seperti BERBATAS dengan Arsy dan sifat-sifat fisikal lainnya maupun ANGGOTA-ANGGOTA badan.
👉Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (W 321H) berkata:
تَعَالَـى (يَعْنِي اللهَ) عَنِ الْحُدُوْدِ وَاْلغَايَاتِ وَاْلأرْكَانِ وَالأعْضَاءِ وَالأدَوَاتِ لاَ تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ
“Maha suci Allah dari batas-batas, batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.
👉Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib telah mengingatkan bahwa KELAK,
قوم من هذه الأمة عند إقتراب الساعة كفارا يُنكرون خالقهم فيصفونه بالجسم والأعضاء
“Sebagian golongan dari umat Islam pada akhir zaman akan kembali kafir (maksudnya KUFUR dalam I’TIQOD) karena mereka MENGINGKARI Pencipta mereka dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat JISIM (sifat benda atau makhluk yakni sifat fisikal seperti arah, ukuran, jarak, batasan maupun tempat) dan ANGGOTA-ANGGOTA BADAN.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi wafat 725 H dalam kitab Najm Al-Muhtadi Rajm Al-Mu’tadi)
👉Salafi Wahabi sering mengatakan ,Allah itu punya tangan ,Allah itu punya jari , tapi tangan Allah ,jari Allah itu berbeda dengan makhluk , tentu pemahaman seperti ini seperti mengatakan Allah berjisim tapi beda dengan jisim2 yang lain ,telah di ingkari keras oleh imam Ahmad
👉Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan
من قال الله جسم لا كالأجسام كـَفَـرَ
BARANGSIAPA yang mengatakan, ALLAH itu berjisim tapi tidak seperti jisim lainya.! MAKA ia telah Kafir (kufur dalam i’tiqod)
kitab Tasyniful Masami’ : juz 4, halaman : 684
Wallahu'alam bishawab
