Fungsi Tongkat Mimbar Khutbah

 *HASIL KEPUTUSAN BM GRUP MASQOPER & PIA*

______



*📌Urutan nomer: 2️⃣

*📔Judul : Fungsi Tongkat Mimbar Khutbah*


       

*🇲🇨PENANYA*: Fulan...



*✍️DESKRIPSI MASALAH:* 


Assalamualaikum izin tanya ustadzah/ustadz



*📒PERTANYAAN*:


Fungsi tongkat di mimbar khutbah itu untuk apa?


*📚 JAWABAN*:


Wa'alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh


Hikmah memegang tongkat ketika khutbah diantaranya :


1. Mengikuti sunnah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam


2. Membuat lebih berkonsentrasi


3. Menjadikan tangan tidak banyak bergerak




*📚REFERENSI:*


*- Subulussalaam syarh Bulughul Maram*


وغيرهم. وقيل : لا تجب عليه لأنه داخل في لفظ المسافر وإليه ذهب جماعة من الآل أيضاً، وهو الأقرب لأن أحكام السفر باقية له من القصر ونحوه ولذا لم ينقل أنه صلى الجمعة بعرفات في حجة الوداع لأنه كان مسافراً. وكذلك العيد تسقط صلاته عن المسافر ولذا لم يرو أنه صلى صلاة العيد في حجته تلك وقد وهم ابن حزم فقال : إنه صلاها في حجته، وغلطه العلماء. السادس أهل البادية؛ وفي النهاية : أن البادية تختص بأهل العمد والخيام دون أهل القرى والمدن. وفي شرحالعمدة أن حكم أهل القرى حكم أهل البادية ذكره في شرح حديث لا يبيع حاضر لباد» .


Artinya: Dikatakan: shalat Jumat tidak wajib bagi musafir, karena ia termasuk dalam hukum musafir. Pendapat ini juga dianut oleh sebagian ulama dari kalangan Ahlul Bait, dan inilah yang lebih kuat, sebab hukum-hukum safar tetap berlaku bagi musafir seperti qashar (mempersingkat shalat) dan semisalnya. Karena itu pula, tidak ada riwayat bahwa Nabi ﷺ melaksanakan shalat Jumat di Arafah ketika haji wada‘, sebab beliau dalam keadaan safar.

Demikian juga shalat Id tidak wajib bagi musafir, karena tidak ada riwayat bahwa Nabi ﷺ melaksanakannya dalam hajinya tersebut. Ibn Hazm pernah mengatakan bahwa Nabi ﷺ melaksanakan shalat Id ketika haji, tetapi para ulama menilai beliau keliru dalam hal ini.

Adapun yang keenam adalah penduduk pedalaman (badui). Dalam kitab _an-Nihayah_ dijelaskan bahwa yang dimaksud orang badui adalah mereka yang tinggal di tenda-tenda dan padang pasir, bukan penduduk desa atau kota. Dalam _Syarh al-‘Umdah_ juga disebutkan bahwa hukum penduduk desa sama seperti hukum penduduk badui, sebagaimana disebutkan dalam syarah hadits _“Janganlah orang kota menjual untuk orang dusun (badui)”._


٤٤٧/٢٨ - وعن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : كان رسول الله ﷺ إذا استوى على المنبر اسْتَقْبَلْناهُ بِوُجُوهِنا» رواه الترمذي بإسناد ضعيف، وَلَهُ شَاهِدٌ مِنْ حديث البراء عند ابن خزيمة . وعن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : كان رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم إذا استوى على المنبر استقبلناه بوجوهنا. رواه الترمذي بإسناد ضعيف لأن فيه محمد بن الفضل بن عطية وهو ضعیف تفرد به وضعفه به الدارقطني وابن عدي وغيرهما وله شاهد من حديث البراء عند ابن خزيمة لم يذكره الشارح ولا رأيته في التلخيص .


والحديث يدل على أن استقبال الناس الخطيب مواجهين له أمر مستمر وهو في حكم المجمع عليه، جزم بوجوبه أبو الطيب من الشافعية. وللهادوية احتمالان فيما إذا تقدم بعض المستمعين على الإمام ولم يواجهوه يصح أو لا يصح . ونص صاحب الأثمار أنه يجب على العدد الذين تنعقد لهم الجمعة المواجهة دون غيرهم.


Artinya: Dari Abdullah bin Mas‘ud r.a. ia berkata: _“Ketika Rasulullah ﷺ sudah duduk di atas mimbar, kami menghadap beliau dengan wajah kami.”_ Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dengan sanad yang lemah. Di dalam sanadnya ada Muhammad bin al-Fadhl bin ‘Athiyyah, seorang perawi yang lemah, dan hanya dia yang meriwayatkannya. Karena itu hadits ini dilemahkan oleh ad-Daraquthni, Ibn ‘Adiy, dan ulama lainnya. Namun, hadits ini memiliki penguat (syahid) dari hadits al-Bara’ yang diriwayatkan oleh Ibn Khuzaimah, meskipun penguat ini tidak disebutkan oleh pensyarah dan juga tidak ditemukan dalam kitab at-Talkhish.

Hadits ini menunjukkan bahwa jamaah ketika khutbah memang seharusnya menghadap ke khatib (imam) dengan wajah mereka, dan hal itu dianggap sebagai sesuatu yang terus diamalkan serta termasuk hukum yang sudah menjadi kesepakatan. Bahkan Abu ath-Thayyib dari kalangan Syafi‘iyyah menegaskan bahwa hukumnya wajib.

Adapun menurut ulama Hadiyyah, ada dua kemungkinan hukum: apabila sebagian jamaah berdiri lebih depan dari imam dan tidak menghadap kepadanya, apakah khutbah itu tetap sah atau tidak. Dalam kitab al-Atsmar dijelaskan bahwa kewajiban menghadap khatib hanya berlaku bagi jumlah jamaah minimal yang menjadi syarat sahnya shalat Jumat, bukan untuk semua jamaah yang hadir.


٤٤٨/٢٩ - وَعَنِ الحكم بن حَزْنِ قَالَ : شَهِدنا الجمعة مع رسول الله ﷺ فَقَامَ مُتوكناً على عصاً أَوْ قَوْس» رواه أبو داود .


وعن الحكم بن حزن بفتح المهملة وسكون الزاي فنون والحكم قال ابن عبد البر : إنه أسلم عام الفتح وقيل يوم اليمامة وأبوه حزن بن أبي وهب المخزومي قال شهدنا الجمعة مع رسول الله ﷺ فقام متوكئاً على عصا أو قوس رواه أبو داود تمامه في السنن: فحمد الله وأثنى عليه كلمات خفیفات طيبات مباركات ثم قال : أيها الناس إنكم لن تطيقوا - أو لن تفعلوا - كل ما أمرتم به ولكن سدوا ويسروا وفي رواية وأبشروا» وإسناده حسن وصححه ابن السكن وله شاهد عند أبي داود من حديث البراء: أنه صلى الله عليه وآله وسلم كان إذا خطب يعتمد على عنزة له. والعنزة مثل نصف الرمح أو أكبر فيها سنان مثل سنان الرمح .


وفي الحديث دليل على أنه يندب للخطيب الاعتماد على سيف أو نحوه وقت خطبته؛ والحكمة أن في ذلك ربطاً للقلب ولبعد يديه عن العبث فإن لم يجد ما يعتمد عليه أرسل يديه أو وضع اليمني على اليسرى أو على جانب المنبر ويكره دق المنبر بالسيف إذ لم يؤثر فهو بدعة .


Artinya: Dari al-Hakam bin Huzn, ia berkata: _“Kami pernah menghadiri shalat Jumat bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau berdiri sambil bersandar pada tongkat atau busur.”_ Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Al-Hakam bin Huzn (namanya dibaca dengan huruf ḥā’ berharakat fathah, huruf zā’ disukunkan, lalu diakhiri huruf nūn)—menurut Ibn ‘Abd al-Barr—ia masuk Islam pada tahun Fathu Makkah, ada juga yang mengatakan pada perang Yamamah. Ayahnya adalah Huzn bin Abi Wahb al-Makhzumi.

Ia berkata: _“Kami menghadiri shalat Jumat bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau berdiri bersandar pada tongkat atau busur.”_ Riwayat Abu Dawud ini dilanjutkan: _“Kemudian beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan beberapa kalimat yang ringan, baik, dan penuh berkah.”_ Setelah itu beliau berkata: _“Wahai manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mampu melaksanakan seluruh apa yang diperintahkan kepada kalian, tetapi dekatilah (yang sesuai kemampuan), permudahlah, dan bergembiralah.’”_

Sanad hadits ini hasan (baik), bahkan Ibnu as-Sakan menshahihkannya. Hadits ini juga memiliki penguat (syahid) dalam riwayat Abu Dawud dari al-Bara’ yang berkata: _“Nabi ﷺ apabila berkhutbah, beliau bersandar pada ‘anazah (sejenis tombak pendek).”_ ‘Anazah adalah tombak yang ukurannya kira-kira setengah dari tombak biasa atau lebih besar sedikit, dan pada ujungnya terdapat mata seperti mata tombak.

Hadits ini menjadi dalil bahwa disunnahkan bagi khatib untuk bersandar pada pedang, tongkat, atau semisalnya ketika khutbah. Hikmahnya adalah agar hati lebih tenang dan kedua tangannya terjaga dari gerakan yang sia-sia. Jika tidak ada sesuatu untuk disandarkan, maka cukup dengan membiarkan tangan terulur, atau meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, atau di samping mimbar.

Adapun memukul-mukulkan pedang ke mimbar, hukumnya makruh, karena tidak ada riwayat tentang hal itu, sehingga termasuk perbuatan bid‘ah.


*۱۳ - باب صلاة الخوف*


٤٤٩/١ - عَنْ صَالح بن خَوَات عَمَن صلى مع رسول الله ﷺ يَوْمَ ذات الرقاع صلاة الخوف «أن طائفة من أصحابِهِ صَفَّتْ مَعَهُ وطَائِفَةً وِجَاهَ الْعَدُوِّ فَصَلى بالذين مَعَهُ رَكْعَةً ثُمَّ ثَبَتَ قائماً وأتموا لأنفسهم، ثم انصرفوا وصفوا وجاه العدو، وجاءت الطائفة الأخرى فصلى بهِمُ الرَّكْعَةَ التي بَقِيَتْ ثُمَّ ثبت جالساً وأتموا لأنفُسِهِمْ ثم سلّم بهم متفق عليه وهذا لفظ مسلم، ووقع في المغرفة لابن منده


Artinya: Dari Shalih bin Khawwat, dari seseorang yang pernah shalat bersama Rasulullah ﷺ pada hari perang *Dzātur-Riqā‘*, tentang *shalat khauf (shalat dalam keadaan takut/peperangan):*

Sebagian sahabat berbaris shalat bersama Nabi ﷺ, sementara sebagian yang lain berhadapan dengan musuh. Nabi ﷺ shalat satu rakaat bersama kelompok yang bersamanya, lalu beliau tetap berdiri (menunggu), sedangkan mereka menyempurnakan shalatnya sendiri. Setelah itu mereka pergi untuk berjaga di hadapan musuh.

Kemudian datang kelompok yang lain, Nabi ﷺ shalat satu rakaat bersama mereka (rakaat yang tersisa bagi beliau). Setelah itu beliau tetap duduk (menunggu), sedangkan mereka menyempurnakan shalatnya sendiri. Lalu beliau salam bersama mereka.

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dan lafaz di atas adalah riwayat Muslim. Disebutkan pula dalam kitab al-Ma‘rifah karya Ibn Mandah.


*📌 Kesimpulan:*

1. *Shalat Jumat dan Shalat Id bagi musafir*

- Musafir tidak diwajibkan shalat Jumat dan shalat Id.

- Nabi ﷺ saat haji wada‘ di Arafah tidak melaksanakan keduanya karena beliau dalam keadaan safar.

2. *Menghadap khatib ketika khutbah*

- Jamaah dianjurkan bahkan dianggap wajib menghadap khatib ketika khutbah.

- Menurut Syafi‘iyyah, hukumnya wajib bagi jamaah yang menjadi syarat sah Jumat.

- Ulama Hadiyyah ada dua pendapat, apakah sah atau tidak bila sebagian jamaah tidak menghadap.

3. *Khatib bersandar pada tongkat atau senjata*

- Nabi ﷺ ketika khutbah sering bersandar pada tongkat, busur, atau tombak kecil (‘anazah).

- Hikmahnya agar lebih tenang dan tangan tidak melakukan gerakan sia-sia.

- Jika tidak ada, boleh meletakkan tangan di sisi mimbar atau menjulurkannya.

- Tidak boleh memukul-mukulkan tongkat/pedang ke mimbar karena tidak ada dalilnya (bid‘ah).

4. *Shalat Khauf (shalat dalam kondisi perang)*

- Nabi ﷺ mempraktikkan shalat khauf di perang Dzātur-Riqā‘.

- Tata caranya: 

○ Sebagian sahabat shalat satu rakaat bersama Nabi ﷺ lalu menyempurnakan sendiri, kemudian berjaga.

○ Kelompok kedua datang, shalat satu rakaat bersama Nabi ﷺ, lalu menyempurnakan sendiri.

○ Nabi ﷺ salam bersama mereka.

- Ini menunjukkan syariat Islam memberikan kemudahan dan fleksibilitas dalam kondisi darurat.


*📌 Inti Kesimpulan:*

Syariat Islam penuh kemudahan dan tertib dalam ibadah:

- Musafir mendapat keringanan dari kewajiban Jumat dan Id.

- Jamaah dianjurkan menghadapkan wajah ke khatib sebagai bentuk adab.

- Khatib disunnahkan bersandar pada tongkat/tombak untuk menjaga wibawa dan ketenangan.

- Dalam kondisi perang sekalipun, shalat tetap dijaga dengan aturan khusus (shalat khauf).



________

mαjєlís sírαmαn qσlвu pєcíntα rαsulullαh ﷺ💫🌹💖

___  &  ______

💫PONDOK ILMU AGAMA💫🌹💖 

________

Posting Komentar

Harap berkomentar yang bisa mendidik dan menambah ilmu kepada kami

Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler