Mengisi shof kosong

 

*HASIL KEPUTUSAN BM GRUP MASQOPER & PIA*
______

*📌Urutan nomer: 5️⃣*
*📔Judul : Shaf Kosong*

      

*🇲🇨PENANYA*: Fulan...

*✍️DESKRIPSI MASALAH:*

Seorang santri bernama Lukman hendak bergabung dengan jamaah solat Isya yang sudah berjalan sekian menit.Namun,ketika hendak merapatkan barisan,salah satu dari jamaah solat tersebut terlihat membatalkan solatnya dan berlari ke arah WC (untuk menunaikan hajat yg mendesak),alhasil,Lukman di liputi kebingungan.Pasalnya,terlihat tidak ada satupun dari yg lain yg mengisi sof yg kosong di depan mereka.Alhasil,ia di hadapkan dengan 2 pilihan yg membuat nya bingung untuk menentukan sikap.Karna di sebabkan oleh status Lukman yg masih santri baru yg notabene masih 'awam di dalam persoalan fiqih,iapun mengambil tindakan untuk mengisi sof yg kosong (meski harus berjalan melewati jamaah lain nya).                              

*📒PERTANYAAN:*
 
adalah;mana yg harus di dahulukan ketika kita hendak berma'mum;apakah mengisi sof solat yg kosong meskipun harus berjalan di depan barisan (berjalan melewati sof) yg udah terlebih dahulu memulai solatnya,ataukah tidak mengisi sof solat yg kosong dengan dalih membiarkan jamaah yg memang sudah solat dari awal mulai dari takbirotul ihrom bersama imam untuk menyempurnakan karna tidak di perbolehkan nya berjalan melewati sof yg udah terlebih dahulu memulai solatnya?                 Mohon di sertakan solusi dari masing² tafsilan nya

*📚 JAWABAN*:

Lukman boleh mengisi shaf yang kosong, meskipun menerobos jamaah yang lain (tapi tetap hati-hati, jangan sampai mengganggu jamaah lain)

Karena dalam kasus Lukman ini, jamaah lain tidak segera mengisi kekosongan yang ada

لأنهم قصروا حيث لم يتموه

*📚REFERENSI:*

*Kitab Al Aziz syarh Al Wajiz (Asy Syarh Al Kabir), jilid 3, hal. 175*

عن يسارها، ورجل يحاذيها من خلفها، ولو كان خلف صف النساء صف الرجال أو صفوف بطلت صلاتهم إلا إذا كان صفهم أطول من صف النساء، فيصح صلاة الخارجين عن محاذاة النساء، وتصح صلاة الصفوف الآخر خلف ذلك الصف الطويل، وساعدنا في صلاة الجنازة أنه قال : لا تبطل صلاة أحد، ولا يخفى عليك بعد التفصيل الذي ذكرناه في أداب الموقف أن قوله في الكتاب : (ثم إن أم باثنين أصطفا خلفه، وإن أم بواحد، وقف على يمينه يعني به من الذكور، وإلا فقد يختلف الحكم.

Artinya: Jika ada seorang wanita yang berdiri shalat dan ada laki-laki sejajar di samping kirinya atau tepat di belakangnya, maka shalat laki-laki itu menjadi batal. Begitu juga, kalau di belakang barisan wanita ada barisan laki-laki atau beberapa barisan laki-laki, maka shalat mereka juga batal — kecuali kalau barisan laki-laki itu lebih panjang daripada barisan wanita. Dalam kondisi itu, shalat laki-laki yang tidak sejajar langsung dengan wanita tetap sah, dan barisan-barisan lain yang berada di belakang barisan laki-laki yang panjang itu juga sah.
Namun, dalam shalat jenazah, ulama memberikan keringanan: tidak ada yang batal shalatnya walaupun ada posisi semacam itu.
Kemudian, terkait adab berdiri dalam shalat berjamaah:

- Jika imam shalat hanya dengan dua orang makmum laki-laki, maka keduanya berdiri di belakang imam.


- Jika imam hanya dengan satu makmum laki-laki, maka makmum berdiri di sisi kanan imam.


Adapun kalau makmumnya perempuan, maka hukum tata letaknya berbeda, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

وأعلم أن التفصيل المذكور في أدب وقوف الرجال مفروض فيما إذا لم يكونوا عراة، فأما العراة فيقفون صفاً واحداً، ويقف إمامهم وسطهم، وسببه ظاهر .
Artinya: Perlu diketahui bahwa penjelasan tentang tata cara berdiri (posisi shaf) para laki-laki itu berlaku dalam keadaan mereka berpakaian.
Adapun kalau mereka dalam keadaan tidak berpakaian (telanjang), maka mereka berdiri dalam satu barisan sejajar, dan imamnya berdiri di tengah-tengah mereka. Alasannya jelas, yaitu untuk menutup aurat semampunya dan menjaga dari pandangan satu sama lain.

المسألة الثانية: إذا دخل رجل والقوم في الصلاة فيكره أن يقف منفرداً خلف الصف، بل إن وجد فرجة (1) أو سعة (۲) في الصف دخل الصف، وله أن يخرق الصف الآخر إن لم يجد فرجة فيه ووجدها في صف قبله ؛ لأنهم قصروا حيث لم يتموه، ولو لم يجد فرجة أو سعة في الصف فماذا (۳) يفعل؟ حكي عن نصه في «البويطي» أنه يقف منفرداً، ولا يجذب إلى نفسه أحداً، لأنه لو جذب واحداً إلى نفسه لفوت عليه فضيلة الصف الأول، ولأوقع الخلل في الصف، وبهذا قال القاضي أبو الطيب، ونقله في «البيان» عن مالك - رضي الله عنه.

Artinya: *Masalah kedua:*
Jika ada seorang laki-laki masuk masjid sementara jamaah sudah melaksanakan shalat, maka makruh (tidak disukai) baginya berdiri sendirian di belakang shaf.

- Jika ia menemukan *celah* atau *ruang kosong* dalam shaf, maka ia masuk ke dalam shaf tersebut.


- Ia boleh *membelah shaf yang lain* jika memang tidak ada celah di shaf itu, tetapi ada celah di shaf sebelumnya. Hal ini karena jamaah sebelumnya dianggap kurang sempurna karena tidak merapatkan shaf.


Lalu, kalau ternyata ia *tidak menemukan celah sama sekali*, apa yang harus dilakukan?
Diriwayatkan dari Imam Syafi’i dalam kitab al-Buwaiti bahwa ia *boleh berdiri sendirian di belakang shaf*, dan tidak perlu menarik orang lain untuk menemaninya. Sebab, jika ia menarik seseorang, maka:

- orang tersebut akan kehilangan keutamaan berdiri di shaf pertama,


- dan akan menyebabkan shaf menjadi tidak rapi.


Pendapat ini juga disampaikan oleh Qadhi Abu Thayyib dan dinukil oleh Imam Malik rahimahullah.

وقال أكثر الأصحاب : إنه يجر إلى نفسه واحداً؛ لما روي : أنه قال الرجل صلى خلف الصف: «أَيُّهَا الْمُصَلِّي هَلاً دَخَلْتَي الصَّفُ، أَوْ جَرَرْتَ رَجُلاً مِنَ الصَّفْ فَيُصَلِّي مَعَكَ، أَعِدْ صَلاتَكَ (٤) قالوا: إنما يجره بعد أن يتحرم بالصلاة، ويستحب للمجرور أن يساعده، وذلك مما يدل على أن العمل القليل لا يبطل الصلاة والمذكور في الكتاب هذا الذي قاله الأكثرون، فإنه قال يدخل الصف، أو يجر إلى نفسه واحداً، وليكن قوله : (أو يجر) معلماً بالميم والواو لما ذكرناه، وعلى كل حال فلو وقف منفرداً، وصلى صحت صلاته خلافاً لأحمد - رضي الله عنه - لظاهر الخبر الذي نقلناه، ونحن حملناه على الاستحباب : لأَنَّ أَبَا بَكْرَةَ دَخَلَ، وَالنَّبِيُّ ﷺ

Artinya: Sebagian besar ulama mazhab Syafi’i berpendapat: *orang yang datang terlambat boleh menarik satu orang dari shaf untuk berdiri bersamanya.*
Dalilnya adalah hadis tentang seorang laki-laki yang shalat sendirian di belakang shaf. Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:
_"Wahai orang yang shalat, mengapa engkau tidak masuk ke dalam shaf atau menarik seseorang dari shaf agar shalat bersamamu? Ulangilah shalatmu."_
Para ulama menjelaskan: orang itu menarik setelah ia takbiratul ihram, dan orang yang ditarik dianjurkan untuk *membantu (maju).* Dari sini dapat dipahami bahwa *gerakan ringan dalam shalat tidak membatalkan shalat.*
Dalam kitab-kitab fikih, pendapat yang lebih kuat adalah yang mengikuti mayoritas, yaitu:

- kalau bisa masuk ke dalam shaf, masuklah,


- kalau tidak bisa, maka boleh menarik satu orang dari shaf.


Namun, kalau seseorang tetap berdiri sendirian lalu shalat, *shalatnya tetap sah* menurut mazhab Syafi’i. Hal ini berbeda dengan pendapat Imam Ahmad, yang mengatakan tidak sah, berdasarkan hadis tadi. Hanya saja, ulama Syafi’iyyah menafsirkan hadis itu sebagai bentuk *anjuran (sunnah)*, bukan kewajiban.
Karena faktanya, Abu Bakrah pernah masuk ke shalat dan *Rasulullah ﷺ membiarkannya* walaupun ia tidak sempat berdiri dalam shaf.

*📌 Kasimpulan:**
Shalat sendirian di belakang shaf hukumnya makruh, namun tetap sah menurut mazhab Syafi’i. Yang utama adalah masuk ke dalam shaf bila ada celah, atau menarik seorang makmum bila tidak ada celah, dan dianjurkan bagi yang ditarik untuk membantu. Adapun menurut Imam Ahmad, shalat sendirian di belakang shaf tidak sah, tetapi mayoritas ulama memahaminya sebagai anjuran, bukan syarat sah.
👉 Dengan demikian, yang terbaik adalah selalu berusaha masuk shaf atau menarik orang, namun bila terpaksa shalat sendirian tetap sah.
______

(۱) خلاء طاهر.
(۲) والسعة ألا يكون خلاء ويكون بحيث لو دخل بينهما لو سعه .
(۳) ونسب إلى أبي إسحاق المروزي. وقال الماوردي إنه غلط، فعلى الأول لا تضر زيادة ثلاثة أذرع كما في تهذيب البغوي وغيره لأن هذا التقدير مأخوذ من عرف الناس وهم يعدونهما في ذلك مجتمعين .
(٤) أخرجه البيهقي (١٠٥/٣) ومن رواية وابصة بن معبد بن مالك الأسدي، وقال: إسناده ضعيف تفرد به السري بن إسماعيل وهو ضعيف بل متروك انظر التلخيص (۳۷/۲).

*📚Referensi tambahan :*

*Kitab Ad Dibaj fi Tawdhih Al Minhaj, jilid 1, hal. 168*

المأموم فردا خلف الصف، بل يدخل الصف إن وجد سعة أو فرجة، ولو كانت السعة في صف متقدم خرق الكامل لتقصيرهم، وإن لم يكن سعة، ففي البويطي: يقف منفردا ولا يجذب أحدًا، لئلا يفوته فضله ويوقع الخلل فيه. وقال الأكثرون: يجر إليه شخصا واحدا، ونقله الشيخ أبو حامد عن الشافعي، وروى الأمر به. وإنما يجره بعد الإحرام، فلو جره قبله، لم يجز لئلا يخرجه عن الصف لا إلى صف. ويسن للمجرور مساعدته. وأما ما ورد أنه أمر المنفرد خلف الصف بالإعادة، فمحمول على الندب، ففي الصحيح: (أن أبا بكرة أحرم خلف الصف وركع ثم مشى إليه، فقال عليه الصلاة والسلام: زادك الله حرصاً، ولا تعد)

Artinya: *Seorang makmum tidak boleh shalat sendirian di belakang saf*, melainkan ia harus masuk ke dalam saf jika ada ruang atau celah. Bahkan kalau ruang itu berada di saf yang lebih depan, ia boleh menembus saf (untuk maju) karena orang-orang di saf tersebut telah lalai.
Jika tidak ada ruang sama sekali, maka menurut al-Buwaiti: ia berdiri sendirian di belakang saf dan tidak menarik siapa pun, supaya tidak kehilangan keutamaan (shalat berjamaah) dan tidak menimbulkan kekacauan di dalam saf.
Namun, mayoritas ulama berpendapat: *hendaknya ia menarik satu orang saja* untuk berdiri bersamanya. Hal ini dinukil oleh Syaikh Abu Hamid dari Imam Asy-Syafi‘i, bahkan ada riwayat perintah untuk itu. Hanya saja, penarikan ini dilakukan *setelah ia takbiratul ihram;* jika ia menarik orang sebelum takbir, maka tidak sah, karena berarti ia mengeluarkan orang dari saf tanpa memindahkannya ke saf yang lain.
Disunnahkan pula bagi orang yang ditarik (magrūr) untuk membantu makmum yang menariknya.
Adapun riwayat bahwa Nabi ﷺ memerintahkan orang yang shalat sendirian di belakang saf untuk mengulang shalatnya, maka dipahami sebagai *anjuran (bukan kewajiban).* Dalam hadis sahih disebutkan: _Abu Bakrah datang, lalu ia takbir di belakang saf dan langsung rukuk, kemudian berjalan masuk ke dalam saf. Rasulullah ﷺ bersabda: "Semoga Allah menambah semangatmu, tetapi jangan ulangi lagi."_

الثاني: علم المأموم بانتقالات الإمام بالإجماع ليتمكن من المتابعة، وذلك بأن يراه أو يرى بعض صف أو يسمعه أو مبلغا وإن لم يصل مع الإمام سواء الأعمى والبصير، فلو جهل المأموم أفعال الإمام الظاهرة، قضى.

Artinya: Kedua: Makmum harus mengetahui perpindahan-perpindahan (gerakan) imam berdasarkan ijma‘ (kesepakatan ulama), agar ia bisa mengikuti imam. Cara mengetahuinya bisa dengan melihat langsung imam, atau melihat sebagian saf (jamaah di depannya), atau mendengar suara imam, atau mendengar pemberitahuan dari seorang penyampai (muballigh), meskipun penyampai itu tidak sedang shalat bersama imam. Baik makmum yang buta maupun yang dapat melihat, sama hukumnya.
Apabila makmum tidak mengetahui gerakan-gerakan imam yang tampak (seperti rukuk, sujud, berdiri, duduk), maka ia wajib menyempurnakan (qadha) shalatnya.

الثالث: الاجتماع في الموقف، ليظهر الشعار والتعاضد، وله أحوال :

- أحدها: أن يكون الإمام والمأموم في مسجد واحد فيصح الاقتداء وإن المسافة بينهما وحالت أبنية. قال المصنف: والمساجد التي تفتح بعضها إلى بعض لها حكم مسجد واحد صرح به الكثيرون منهم الشيخ أبو حامد وصاحب الشامل» والتتمة، وهو الصواب.

Artinya: Ketentuan ketiga: Harus ada kebersamaan dalam tempat shalat (mauqif), agar tampak syiar dan kebersamaan umat. Hal ini memiliki beberapa keadaan:

- Pertama: Jika imam dan makmum berada di dalam satu masjid, maka shalat berjamaah tetap sah meskipun ada jarak antara keduanya atau terhalang bangunan.


Al-Mushannif berkata: _“Masjid-masjid yang saling terbuka satu dengan lainnya (memiliki pintu penghubung), hukumnya dianggap seperti satu masjid.”_ Hal ini juga ditegaskan oleh banyak ulama, di antaranya Syaikh Abu Hamid serta penulis al-Syamil dan al-Tatimmah, dan inilah pendapat yang benar.

الحال الثاني: أن يكونا في غير المسجد، وهو ضربان:

- أحدهما: أن يكونا في فضاء واحد، فيصح بشرط القرب، بأن لا يزيد ما بينهما على ثلاث مائة ذراع تقريبا لا تحديدًا في الأصح. قال الأكثرون وهذا التقدير مأخوذ من العرف، إذ يعد المتباعدان بعض البعد مع الاتساع، مجتمعين، كما بين الصفين في صلاة الخوف ولو تلاحق شخصان أو صفان اعتبرت المسافة المذكورة بين الصف أو الشخص الأخير والإمام على الأصح. وهذا الحكم ثابت للفضاء سواء أكان مملوكًا أو وقفا، والذي بعضه ملك وبعضه وقف، أو محوطاً ولو حال شارع مطروق أو نهر محوج إلى سباحة، فالصحيح لا يضر كغيره. وسواء أحال بين الإمام أو بين الصفين على الصحيح، لأن ذلك ليس بحائل.

Artinya: Keadaan kedua: Jika imam dan makmum bukan berada di masjid, maka hal ini terbagi menjadi dua:

- Pertama: Jika keduanya berada di tanah lapang (ruang terbuka) yang sama, maka shalat berjamaah tetap sah dengan syarat adanya kedekatan, yaitu jarak antara imam dan makmum tidak lebih dari sekitar 300 hasta (±150 meter) menurut pendapat yang lebih kuat. Angka ini bukanlah batas pasti, melainkan berdasarkan kebiasaan (‘urf).


Maksudnya, menurut kebiasaan masyarakat, orang-orang yang terpisah sejauh itu masih dianggap berkumpul dalam satu tempat, sebagaimana jarak antara dua saf dalam shalat khauf.
Jika ada seseorang atau saf lain yang menyambung (menyatu) dengan saf sebelumnya, maka jarak yang diperhitungkan adalah antara imam atau saf paling belakang dengan makmum.
Hukum ini berlaku di tanah lapang baik yang dimiliki pribadi, tanah wakaf, gabungan keduanya, maupun tanah yang dikelilingi pagar. Bahkan jika di antara imam dan makmum ada jalan umum atau sungai yang harus diseberangi dengan berenang, maka shalat berjamaah tetap sah, sebagaimana halangan lainnya.
Begitu pula, menurut pendapat yang kuat, tidak menjadi masalah bila ada sesuatu yang menghalangi pandangan antara imam dan makmum atau antara dua saf, karena hal itu tidak dianggap sebagai penghalang yang membatalkan berjamaah.

*📌Kesimpulan:*
1.) Makmum tidak boleh shalat sendirian di belakang saf.

- Jika ada ruang di saf, ia harus masuk.


- Jika tidak ada ruang, ada dua pendapat:


1. Berdiri sendiri di belakang saf tanpa menarik orang (pendapat al-Buwaiti).


2. Menarik satu orang untuk bersamanya (pendapat mayoritas, dinukil dari Imam asy-Syafi‘i).


- Hadis yang memerintahkan mengulang shalat bagi makmum sendirian di belakang saf dipahami sebagai anjuran, bukan kewajiban.


2.) Makmum wajib mengetahui gerakan imam, agar bisa mengikuti.

- Caranya dengan melihat imam langsung, melihat saf di depannya, mendengar suara imam, atau mendengar pemberitahuan dari muballigh (penyampai), baik makmum itu buta maupun dapat melihat.


- Jika makmum tidak tahu gerakan imam, maka ia harus menyempurnakan (qadha) shalatnya.


3.) Harus ada kebersamaan tempat (mauqif) antara imam dan makmum.

- Jika di masjid: sah walaupun terhalang bangunan atau berjauhan, karena masjid dihukumi satu kesatuan. Masjid yang saling terhubung pintunya juga dihitung satu masjid.


- Jika di luar masjid (tanah lapang): sah berjamaah selama jarak imam dan makmum tidak melebihi ±300 hasta (±150 meter). Penghalang seperti jalan, sungai, atau bangunan tidak membatalkan berjamaah selama masih dalam batas jarak itu.


*👉 Kesimpulan Utama:*
Shalat berjamaah sah dengan tiga syarat pokok:

- Makmum tidak sendirian di belakang saf tanpa uzur.


- Makmum mengetahui gerakan imam.


- Imam dan makmum berada dalam tempat yang masih dianggap satu kesatuan menurut syariat dan kebiasaan (‘urf), baik di masjid maupun di luar masjid, dengan jarak yang wajar.

________
mαjєlís sírαmαn qσlвu pєcíntα rαsulullαh ﷺ💫🌹💖
___  &  ______
💫PONDOK ILMU AGAMA💫🌹💖
________

hamba Tuhan

Penting ngaji

Posting Komentar

Harap berkomentar yang bisa mendidik dan menambah ilmu kepada kami

Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler