*HASIL KEPUTUSAN BM GRUP MASQOPER & PIA*
______
*📌Urutan nomer: 3️⃣*
*📔Judul : Hukum Menggerakkan Tangan Ketika Berkhutbah
*🇲🇨PENANYA*: Fulan...
*✍️DESKRIPSI MASALAH:*
Ustadz/ustadzah mau tanya ini boleh !!!
*📒PERTANYAAN*:
Sekarang bagaimana kalo tangan khotibnya selalu gerak.. Gmn hukumnya?..khutbah dan Sholat Jum'at nya gmn? 🙏
*📚 JAWABAN*:
Hukum menggerakan tangan / memberi isyarat dengan tangan ketika berkhutbah hukumnya makruh
Khutbahnya tetap sah
*📚REFERENSI:*
*Raudhatut Thalibin*
جهل ، فإن ساعة الإجابة إنما هي بعد جلوسه ، كما سيأتي إن شاء الله تعالى
ومنها : المجازفة في أوصاف السلاطين في الدعاء لهم . وأما أصل الدعاء للسلطان ، فقد ذكر صاحب و المهذب ، وغيره : أنه مكروه . والاختيار : أنه لا بأس به إذا لم يكن فيه مجازفة في وصفه (۱) ، ولا نحو ذلك ، فإنه يستحب الدعاء بصلاحولاة الأمر .
Artinya: “Ketidaktahuan itu (misalnya tidak tahu waktu mustajab doa), padahal waktu mustajab itu sebenarnya adalah setelah duduknya imam, sebagaimana akan dijelaskan insyaAllah.
Termasuk juga (hal yang kurang tepat) adalah berlebihan dalam menyebut-nyebut kebaikan penguasa ketika mendoakan mereka. Adapun hukum asal mendoakan kebaikan bagi penguasa, menurut penjelasan dalam kitab al-Muhadzdzab dan lainnya, hukumnya makruh. Namun, pendapat yang lebih tepat adalah: tidak masalah mendoakan penguasa, selama tidak ada berlebihan dalam memuji mereka atau hal semacamnya. Bahkan, dianjurkan untuk mendoakan agar para pemimpin diberikan kebaikan dan perbaikan.”
ومنها : مبالغتهم في الإسراع في الخطبة الثانية . [ وأما الاحتماء (۲) والإمام يخطب ، فقال صاحب و البيان » : لا يكره . والصحيح : أنه مكروه . فقد صح في سنن أبي داود (۳) والترمذي ، أن رسول الله ﷺ ، نهى عن الاحتباء والإمام يخطب ) قال الترمذي (٤) : حديث حسن . وقال الخطابي من أصحابنا : نهى عنه ، لأنه يجلب النوم فيعرض طهارته للنقض ، ويمنعه استماع الخطبة ] (٥) . ويستحب إذا كان المنبر واسعاً ، أن يقوم على يمينه ، قاله القاضي حسين ، وصاحب التهذيب ) . ويكره للخطيب أن يشير بيده . فقال (٦) في ( التهذيب : : يستحب أن يختم الخطبة بقوله : أستغفر الله لي ولكم . وذكر صاحبا « العدة » و « البيان » : أنه يستحب للخطيب إذا وصل إلى (۷) المنبر ، أن يصلي تحية المسجد ، ثم يصعده .
Artinya: “Di antara kesalahan juga adalah mereka terlalu tergesa-gesa dalam khutbah kedua.
Adapun duduk dengan cara iḥtibā’ (duduk sambil merangkul lutut dengan tangan atau kain) ketika imam sedang berkhutbah, menurut penulis al-Bayān tidak makruh. Tetapi pendapat yang benar: hukumnya makruh. Karena telah sahih dalam Sunan Abū Dāwud dan at-Tirmiżī bahwa Rasulullah ﷺ melarang duduk dengan cara iḥtibā’ ketika imam sedang berkhutbah. At-Tirmiżī menyebutnya sebagai hadits hasan. Sedangkan al-Khaṭṭābī, salah seorang ulama mazhab kita, menjelaskan: larangan itu karena posisi duduk tersebut bisa menyebabkan mengantuk, lalu membatalkan wudhu, dan juga menghalangi seseorang untuk mendengarkan khutbah.
Disunnahkan, jika mimbar luas, khatib berdiri di sisi kanan mimbar. Hal ini disebutkan oleh al-Qāḍī Ḥusain dan penulis at-Tahżīb.
Dimakruhkan bagi khatib menunjuk-nunjukkan tangan ketika khutbah.
Dalam at-Tahżīb juga disebutkan: dianjurkan khatib menutup khutbahnya dengan ucapan: “Astaghfirullāha lī wa lakum” (Aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku dan kalian).
Sedangkan penulis al-‘Uddah dan al-Bayān menyebutkan: dianjurkan bagi khatib, ketika tiba di masjid dan hendak naik mimbar, untuk melaksanakan shalat tahiyyatul masjid terlebih dahulu, baru kemudian naik ke mimbar.”
وهذا الذي قالاه ، غريب ، وشاذ ، ومردود ، فإنه خلاف الظاهر المنقول عن فعل رسول الله ﷺ ، والخلفاء الراشدين ، فمن (۸) بعدهم . ولو أغمي على الخطيب ، قال في التهذيب ) في بناء غيره على خطبته ، القولان في الاستخلاف في الصلاة ، فإن لم نجوزه ، استؤنفت الخطبة ، وإن جوزناه ، اشترط أن يكون الذي يبني سمع أول الخطبة . هذا كلامه في التهذيب ) . والمختار ، أنه لا يجوز البناء هنا . والله أعلم .
Artinya: “Pendapat yang mereka sebutkan itu adalah pendapat yang ganjil, aneh, dan tertolak. Karena hal itu bertentangan dengan yang jelas-jelas dinukil dari perbuatan Rasulullah ﷺ, para khalifah ar-rāsyidīn, dan orang-orang setelah mereka.
Jika khatib pingsan (di tengah khutbah), maka menurut keterangan dalam at-Tahżīb: hukum orang lain melanjutkan khutbahnya sama seperti hukum masalah menggantikan imam dalam shalat. Jika kita tidak membolehkan adanya pengganti dalam shalat, maka khutbah harus diulang dari awal. Jika kita membolehkannya, maka syaratnya orang yang menggantikan harus sudah mendengar bagian awal khutbah.
Itulah penjelasan dalam at-Tahżīb. Namun pendapat yang lebih kuat (yang dipilih) adalah: tidak boleh melanjutkan khutbah orang lain. Wallāhu a‘lam.”
*📌Kesimpulan:*
- *Waktu mustajab doa di hari Jumat* adalah setelah duduknya imam, bukan sebelumnya.
- *Mendoakan penguasa* hukumnya boleh, bahkan dianjurkan jika doa itu berisi kebaikan dan perbaikan, namun makruh bila berlebihan dalam memuji mereka.
- *Khutbah kedua* tidak baik jika dilakukan dengan tergesa-gesa, sebaiknya tenang.
- *Duduk iḥtibā’ (merangkul lutut)* saat khutbah hukumnya makruh, karena bisa menyebabkan kantuk dan lalai dari mendengarkan khutbah.
- *Posisi khatib* dianjurkan berdiri di sisi kanan mimbar bila luas, dan dimakruhkan menunjuk-nunjukkan tangan saat khutbah.
- *Penutup khutbah* dianjurkan dengan istighfar (Astaghfirullāha lī wa lakum).
- *Sebelum naik mimbar*, khatib disunnahkan shalat tahiyyatul masjid terlebih dahulu.
- *Melanjutkan khutbah khatib yang pingsan* tidak boleh; khutbah harus dimulai ulang.
*📌 Intinya:* Khutbah Jumat harus dilakukan dengan penuh ketenangan, adab, dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ serta para sahabat. Tidak boleh ada hal yang membuat jamaah lalai dari mendengarkan khutbah, dan isi khutbah sebaiknya ditutup dengan istighfar serta doa kebaikan bagi kaum muslimin.
_____
(۱) قال ابن عبد السلام : ولا يجوز وصفه بالصفات الكافرية إلا لضرورة .
(۲) وهو أن يجمع الرجل ظهره وساقيه بثوبه أو يديه أو غيرهما ..
(۳) ۲ / ۲۹۰ - حدیث ( ۱۱۱۰ ) .
(٤) ٢ / ٣٩٠ - حديث ( ٥١٤ )
(5) سقطت في ( أ ) ومثبت من ( ب ) ، ( ط ) .
(٦) في و ط ، قال
(۷) سقط في و ط ) .
(۸) في « ط ، ومن .
________
mαjєlís sírαmαn qσlвu pєcíntα rαsulullαh ﷺ💫🌹💖
___ & ______
💫PONDOK ILMU AGAMA💫🌹💖
________
