DEFENISI TALAK BID'AH DAN HUKUMNYA
Talak bid‘ah adalah talak yang dilakukan dengan cara yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat, seperti menjatuhkan dua atau tiga talak sekaligus dalam satu ucapan atau dalam satu masa suci (ṭuhr).
Talak seperti ini tetap sah dan berlaku, sehingga ikatan pernikahan benar-benar putus, namun pelakunya berdosa, karena menyalahi cara yang diajarkan oleh Nabi Saw.
Syariat hanya membolehkan talak jika memang ada kebutuhan untuk berpisah, dan itu pun cukup dengan satu talak saja.
Menjatuhkan lebih dari satu talak sekaligus dianggap berlebihan dan tidak sesuai dengan tujuan syariat, yang ingin menjaga kebaikan rumah tangga serta memberi kesempatan untuk rujuk dan memperbaiki keadaan.
Oleh sebab itu, talak bid‘ah adalah talak yang sah tetapi berdosa, karena dilakukan dengan cara yang melanggar tuntunan sunnah.
وطلاق البدعة: أن يطلقها ثلاثًا أواثنتين بكلمة واحدة، أو يطلقها ثلاثًا في طهر واحد؛ لأن الأصل في الطلاق الحظر، لما فيه من قطع الزواج الذي تعلقت به المصالح الدينية والدنيوية، والإباحة إنما هي للحاجة إلى الخلاص، ولا حاجة إلى الجمع في الثلاث، أو في طهر واحد؛ لأن الحاجة تندفع بالواحدة، وتمام الخلاص في المفرق على الأطهار، والزيادة إسراف، فكان بدعة. فإذا فعل ذلك وقع الطلاق، وبانت المرأة منه، وكان آثمًا عاصيًا، والطلاق مكروه تحريمًا؛ لأن الحظر أو النهي لمعنى في غير الطلاق وهو فوات مصالح الدين والدنيا
Talak bid‘ah ialah menceraikan istri tiga kali atau dua kali dengan satu ucapan, atau menjatuhkan tiga talak dalam satu masa suci (ṭuhr), karena hukum asal dalam talak adalah terlarang, sebab talak mengandung pemutusan ikatan pernikahan yang di dalamnya terdapat berbagai kemaslahatan agama dan dunia.
Kebolehan talak hanyalah karena adanya kebutuhan untuk melepaskan diri (dari pernikahan yang tidak bisa dipertahankan). Dan tidak ada kebutuhan untuk menggabungkan tiga talak dalam satu waktu atau dalam satu masa suci, sebab kebutuhan itu sudah terpenuhi dengan satu talak saja, sedangkan kesempurnaan pelepasan (jika diperlukan) dapat dilakukan dengan talak yang dipisahkan pada beberapa masa suci. Dan penambahan (talak lebih dari satu) merupakan sikap berlebih-lebihan (isrāf), sehingga ia termasuk bid‘ah.
Apabila seseorang tetap melakukannya, talaknya tetap jatuh, istrinya menjadi terpisah (ba’in) darinya, namun ia berdosa dan durhaka.
Talak (seperti itu) dihukumi makruh tahriman (makruh mendekati haram), karena larangan tersebut adalah karena makna lain di luar talak, yaitu hilangnya kemaslahatan agama dan dunia. (Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, juz 9 hal. 6949)
اتَّفَقَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ عَلَى وُقُوعِ الطَّلاَقِ الْبِدْعِيِّ، مَعَ اتِّفَاقِهِمْ عَلَى وُقُوعِ الإِْثْمِ فِيهِ عَلَى الْمُطَلِّقِ لِمُخَالَفَتِهِ السُّنَّةَ الْمُتَقَدِّمَةَ.
Mayoritas ulama fikih sepakat bahwa talak bid‘ah tetap jatuh (teranggap sah), serta mereka juga sepakat bahwa orang yang mentalak demikian berdosa, karena ia menyelisihi sunnah yang telah ditetapkan sebelumnya (sunnah yang telah berlaku di masa lalu). (Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, juz 29 hal. 35)
> LINK SALURAN: https://whatsapp.com/channel/0029Vawde5oDOQIg2pAAPm0U
