Nadzam pertama Sullam munawraq

 


┏━━━ ✨📚 ━━━┓
النَّظَمُ الأَوَّلُ – سُلَّمُ الْمُنَوَّرَق
*Nadzam Pertama — Sullam al-Munawraq*
┗━━━━━━━━━━━┛

الحَمْـدُ لِلَّهِ الَّذِي قَـدْ أَخْـرَجَا
نَتَـائِجَ الفِـكْرِ لِأَرْبَـابِ الحِـجَا

Segala puji bagi Allah yang telah menampakkan hasil-hasil pemikiran bagi para pemilik akal yang cerdas.

*📖 Penjelasan dan Maknanya*

Musanif membuka nadham ini dengan pujian kepada Allah ﷻ,
Dzat yang menyingkap hakikat ilmu dan menampakkan buah pemikiran
bagi para pemilik akal yang bersih dan hati yang tercerahkan.

Dialah yang menyalakan cahaya ma‘rifah di dalam dada para ulama dan penuntut ilmu,
sehingga dengan bimbingan-Nya, akal mereka mampu menangkap dan memahami kebenaran.

*⚖️ Permasalahan dalam Bait Ini*

قَالَ الشُّرَّاحُ: وفي البيت خمس مسائل
Dalam bait ini terkandung lima 
permasalahan penting:

① لِمَ حَمِدَ بِالْجُمْلَةِ الاسْمِيَّةِ (الحمدُ) وَلَمْ يَحْمَدْ بِالْفِعْلِيَّةِ؟
① Mengapa musanif memuji dengan jumlah ismiyyah, bukan fi‘liyyah?

الْجَوَابُ: لِأَنَّهُ حَمِدَ الْمَوْلَى لِذَاتِهِ، وَذَاتُهُ سُبْحَانَهُ ثَابِتَةٌ دَائِمَةٌ،
فَنَاسَبَ ذَلِكَ الْجُمْلَةَ الاسْمِيَّةَ الدَّالَّةَ عَلَى الثُّبُوتِ وَالدَّوَامِ.

Karena pujian itu ditujukan kepada Zat Allah yang kekal dan tetap, maka sesuai jika digunakan jumlah ismiyyah  sebab bentuk ini menunjukkan makna ketetapan dan kesinambungan.

② لِمَ قَدَّمَ (الْحَمْدُ) عَلَى (اللَّهِ) مَعَ أَنَّ تَقْدِيمَ الاِسْمِ الكَرِيمِ أَهَمُّ؟

② Mengapa musanif mendahulukan lafadz al-ḥamdu dari pada lafadz Allah, padahal nama Allah lebih utama?

الْجَوَابُ: لِأَنَّ الْمَقَامَ مَقَامُ الْحَمْدِ، وَإِنْ كَانَ ذِكْرُ اللهِ أَهَمَّ فِي نَفْسِهِ،
إِلَّا أَنَّ الْمُنَاسَبَةَ اقْتَضَتْ تَقْدِيمَ الْحَمْدِ.

Karena konteks kalimat ini adalah menyatakan pujian, maka kata al-ḥamdu didahulukan. Meskipun nama Allah lebih agung, namun kedudukan konteks (maqam al-ḥamd) menuntut mendahulukan kata “pujian”.

③ مَا الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ (قَدْ أَخْرَجَا)؟

③Apa makna dari kalimat “qad akhraja”?

الْجَوَابُ: أَيْ أَظْهَرَ وَبَيَّنَ، وَالْخُرُوجُ هُنَا مَجَازٌ عَنْ ظُهُورِ الْمَعْرِفَةِ بَعْدَ كَمُونِهَا فِي الْفِكْرِ.

Maknanya adalah menampakkan dan menjelaskan, yakni Allah menyingkap hasil-hasil pemikiran setelah sebelumnya tersembunyi dalam akal.

④ مَنْ هُمُ (أَرْبَابُ الْحِجَا)؟

④ Siapakah yang dimaksud dengan arbabul ḥija?

الْجَوَابُ: هُمُ أَصْحَابُ الْعُقُولِ الصَّافِيَةِ وَالْأَفْهَامِ السَّلِيمَةِ،
مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالطَّالِبِينَ لِلْعِلْمِ.

Mereka adalah pemilik akal yang jernih dan pemahaman yang lurus, yaitu para ulama dan penuntut ilmu yang menggunakan akalnya untuk mencari kebenaran.

⑤ مَا الْمُرَادُ بِـ (نَتَائِجِ الْفِكْرِ)؟

⑤ Apa yang dimaksud dengan “nata’ij al-fikr”?

الْجَوَابُ: هِيَ ثَمَرَاتُ التَّفَكُّرِ مِنْ عُلُومٍ وَحِكَمٍ وَمَعَارِفَ يُلْهِمُهَا اللهُ لِأُولِي الْعُقُولِ.

Yang dimaksud adalah buah-buah dari perenungan dan pemikiran berupa ilmu, hikmah, dan pengetahuan yang Allah ilhamkan kepada para pemilik akal.

*✨ KESIMPULAN*

Bait pertama ini mengandung adab yang agung dalam menuntut ilmu,
dimulai dengan pujian kepada Allah
serta pengakuan bahwa segala ilmu dan cahaya akal bersumber dari-Nya semata.
Ia juga memberi isyarat bahwa akal dan ilmu yang benar hanya akan bersinar dengan taufiq serta cahaya petunjuk Allah Ta‘ala.

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

hamba Tuhan

Penting ngaji

Posting Komentar

Harap berkomentar yang bisa mendidik dan menambah ilmu kepada kami

Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler