*BERNIAT MEMBATALKAN PUASA
Memutuskan niat puasa(berniat membatalkan puasa) di siang hari tidak menyebabkan puasa menjadi batal menurut pendapat yang shahih kecuali berniat memutuskannya sebelum terbit fajar maka niatnya gugur dan harus memperbaharuinya kembali agar puasanya menjadi sah.
فَإِذَا دَخَلَ فِي صَوْمٍ ثُمَّ نَوَى قطعه فهل يبطل فيه وجهان مشهوان ذكر المصنف دليلهما (اصحهما) عند المصنف والبغوى وَآخَرِينَ بُطْلَانُهُ (وَأَصَحُّهُمَا) عِنْدَ الْأَكْثَرِينَ لَا يَبْطُلُ
Apabila seseorang berpuasa kemudian ia berniat memutuskan(membatalkan) puasanya maka apakah batal puasanya?. Ada dua pendapat yang masyhur yang telah disebutkan mushannif(Abu Ishaq Asy-Syirazi) dalil keduanya. Pendapat yang paling shahih menurut mushannif, Al-Baghawi, dan ulama lainnya adalah puasanya batal. Dan pendapat yang paling shahih menurut mayoritas ulama adalah tidak batal. (An-Nawawi, Al-Majmu', juz 6 hal. 297)
لَوْ قَطَعَ النِّيَّةَ قَبْلَهُ احْتَاجَ لِتَجْدِيدِهَا قَطْعًا؛ لِأَنَّهُ أَتَى بِمُنَافِيهَا نَفْسِهَا بِخِلَافِ نَحْوِ الْأَكْلِ وَإِنَّمَا لَمْ يُؤَثِّرْ قَطْعُهَا نَهَارًا عَلَى الْمُعْتَمَدِ
_Jika seseorang memutuskan niat sebelum terbit fajar maka ia harus memperbaharui niatnya secara pasti, karena ia melakukan sesuatu yang menafikan(mentiadakan niat) berbeda halnya dengan semisal makan. Dan memutuskan niat pada siang hari tidak tidaklah berdampak menurut pendapat yang mu'tamad._ (Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj, juz 3 hal. 389)
لَوْ نَوَى فِي اللَّيْلِ ثُمَّ قَطَعَ النِّيَّةَ قَبْلَ الْفَجْرِ سَقَطَ حُكْمُهَا لِأَنَّ تَرْكَ النية ضد للنية بخلاف مالو أكل في الليل بَعْدَ النِّيَّةِ لَا تَبْطُلُ لِأَنَّ الْأَكْلَ لَيْسَ ضِدَّهَا
Jika seseorang berniat pada malam hari kemudian memutuskan niat sebelum fajar maka gugur niatnya karena meninggalkan niat adalah lawan niat berbeda halnya jika seseorang makan pada malam hari setelah berniat maka tidak batal niatnya karena makan bukan lawan dari niat._ (An-Nawawi, Al-Majmu', juz 6 hal. 299)
> Link Saluran: https://whatsapp.com/channel/0029Vawde5oDOQIg2pAAPm0U