Definisi hadits shahih

 


Definisi hadits shahih, dan penjelasannya*📌

الصحيح
الصحيح لغة : ضد المريض .
واصطلاحاً : هو الحديث الذي اشتمل على أعلى صفات القبول ، وهي خمسة :

الأول : اتصال السند ، ومعنى هذا الاتصال أن يكون كل راو من الرواة قد سمع عمن فوقه حقيقة ، ومن فوقه سمع من الذي فوقه ، وهكذا إلى آخر السند

مثال ذلك ، قول البخاري مثلاً :
حدثنا عبد الله بن يوسف ، أخبرنا مالك ، عن أبي الزناد، عن الأعرج ، عن أبي هريرة أنه قال : قال رسول الله ﷺ :

"طعام الاثنين كافي الثلاثة" رواه البخاري في كتاب الأطعمة.

فهذا سند متصل ، ومعنى ذلك أن البخاري قد سمع من عبد الله هذا الحديث ، وأن عبد الله سمع من مالك هذا الحديث ، وأن مالكاً سمعه من أبي الزناد ، وهو سمعه من الأعرج ، وهو سمعه من أبي هريرة ، وهو سمعه من رسول الله ﷺ.

وهذا يقتضي وجود الراوي في زمن الذي قبله ووجود الذي قبله في زمن من فوقه حتى يمكن أن يتحقق سماعه منه واتصاله به.

[السيد محمد بن علوي المالكي، قواعد الأساسية في علم مصطلح الحديث، صفحة ١٥-١٦].

Hadis Shahih
Secara bahasa, shahih berarti lawan dari sakit.

Secara istilah, hadis shahih adalah hadis yang memiliki tingkat tertinggi dari sifat-sifat yang menjadikannya maqbul, dan sifat-sifat itu ada lima, yaitu:

Pertama: Ketersambungan sanad (اتصال السند), maksudnya, setiap perawi dalam rangkaian sanad benar-benar mendengar langsung hadis tersebut dari guru di atasnya, dan guru itu mendengar dari gurunya lagi, dan begitu seterusnya hingga akhir sanad.

Contohnya, perkataan Imam al-Bukhari:

"Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf, telah mengabarkan kepada kami Malik, dari Abi az-Zinad, dari al-A‘raj, dari Abi Hurairah, bahwa ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wasallam bersabda:
‘Makanan dua orang cukup untuk tiga orang.’”
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Kitab al-At‘imah).

Sanad ini bersambung, artinya: al-Bukhari mendengar hadis ini dari ‘Abdullah bin Yusuf, dan ‘Abdullah mendengarnya dari Malik, dan Malik mendengarnya dari Abi az-Zinad, dan ia mendengarnya dari al-A‘raj, dan ia mendengarnya dari Abu Hurairah, dan Abu Hurairah mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Hal ini menunjukkan bahwa perawi ada pada masa gurunya, dan gurunya ada pada masa gurunya lagi, sehingga dapat mungkin dipastikan terjadi proses mendengar (sama‘) secara nyata dan tersambungnya sanad.


Lanjutan mengenai hadits shahih*📌

الثاني : عدالة الراوي .
أي أن يكون كل راو من رواة الحديث في ذلك السند عدلاً .
والعدل : هو المسلم العاقل السالم من الفسق وصغائر الأوصاف الخسيسة ، فالكافر والفاسق والمجنون والمجهول كل هؤلاء ليسوا عدولا ، بخلاف المرأة فهي مقبولة الرواية إذا كانت مسلمة عاقلة سالمة من الفسق والأوصاف الخسيسة

وكذلك العبد تقبل روايته إذا كان مسلماً عاقلاً سالماً من الفسق والأوصاف الخسيسة

ويمكن أن نقول : إن عدالة الراوي معناها نظافة سلوكه وطهارة سيره ، وهو يتناول الجانب الأخلاقي في الراوي ، ويبقى اشتراط الجانب العلمي ، لأنه لا يلزم من كون الراوي عدلاً صالحاً تقيا في نفسه أن يكون حافظاً متقناً في روايته ، والعكس بالعكس ، أي لا يلزم من كونه . حافظاً متقناً في الرواية أن يكون عدلاً صالحاً تقيا .

لذلك اشترط العلماء في الراوي أن يتحقق بوصف آخر ، وهو كونه حافظاً متقناً محققاً في روايته ، وهو الذي يعبرون عنه بتمام الضبط ، وهو الشرط الثالث من شروط الصحيح .

[السيد محمد بن علوي المالكي، قواعد الأساسية في علم مصطلح الحديث، صفحة ١٦-١٧].

Kedua: ‘Adalah (keadilan) perawi.
Yaitu bahwa setiap perawi dalam sanad hadis itu haruslah ‘adil.

Yang dimaksud ‘adil ialah seorang Muslim yang berakal sehat, terjaga dari kefasikan, serta bersih dari sifat-sifat hal-hal kecil yang hina. Maka orang kafir, fasik, gila, dan majhul semuanya tidak dianggap ‘adil.

Berbeda halnya dengan perempuan ia diterima riwayatnya selama ia Muslimah, berakal, terjaga dari kefasikan, dan terjaga dari sifat-sifat hina.

Demikian pula budak, riwayatnya dapat diterima apabila ia Muslim, berakal, terjaga dari kefasikan, dan terjaga dari sifat-sifat hina.

Dapat pula dikatakan bahwa keadilan perawi berarti kebersihan perilakunya dan kesucian kehidupannya. Hal ini berkaitan dengan sisi akhlak perawi.

Namun, masih tersisa satu sisi lain yang juga disyaratkan, yaitu sisi keilmuan, sebab tidak mesti seseorang yang ‘adil, saleh, dan bertakwa itu otomatis hafal dan mutqin dalam periwayatan hadis.

Demikian pula sebaliknya: tidak mesti seseorang yang hafal dan mutqin dalam periwayatan hadis itu adalah orang yang ‘adil, saleh, dan bertakwa.

Oleh karena itu, para ulama mensyaratkan agar pada diri perawi terdapat sifat lain, yaitu hafal, mutqin, dan cermat dalam periwayatannya yang oleh mereka disebut sebagai tamm al-dabt.
Inilah syarat ketiga dari syarat-syarat hadis sahih.

 Lanjutan mengenai hadits shahih*📌

الثالث : تمام الضبط ، والمراد بذلك : كونه في المرتبة العليا ، بأن يثبت ما سمعه في ذهنه بحيث يتمكن من استحضاره متى شاء ، فخرج المغفل كثير الخطأ ، وخرج أيضاً خفيف الضبط

الرابع : خلوه من الشذوذ ، أي لا يخالف ذلك الثقة أرجحمنه من الرواة .

الخامس : خلوه من العلة ، أي لا يكون في الحديث علة ، والعلة : وصف خفي يقدح في القبول وظاهره السلامة منه .

حكمه :
أنه يحتج به في العقائد والأحكام وغيرها ، ويجب العمل به .

[السيد محمد بن علوي المالكي، قواعد الأساسية في علم مصطلح الحديث، صفحة ١٧].

Ketiga: Kesempurnaan dhabt.
Yang dimaksud dengan itu adalah bahwa perawi berada pada tingkat tertinggi dalam ketelitian, yaitu ia mampu menetapkan apa yang didengarnya dalam ingatannya dengan kuat, sehingga bisa menghadirkannya kapan pun ia mau.
Maka keluar dari kriteria ini orang yang lalai/pelupa dan banyak salah, serta juga keluar orang yang lemah dlabitnya/hafalannya.

Keempat: Terbebas dari syudzudz, yaitu tidak bertentangan dengan riwayat seorang perawi yang lebih kuat dan lebih terpercaya darinya.

Kelima: Terbebas dari ‘illat, yaitu tidak terdapat pada hadis suatu 'illat, dan 'illat itu adalah sifat tersembunyi yang merusak ke-maqbulan, sementara lahirnya tampak selamat darinya.

Hukumnya:
Hadis tersebut yang memenuhi syarat-syarat tersebut, dijadikan hujjah (dalil) dalam masalah akidah, hukum, dan lainnya, serta wajib diamalkan.

hamba Tuhan

Penting ngaji

Posting Komentar

Harap berkomentar yang bisa mendidik dan menambah ilmu kepada kami

Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler