Hukum Membedah Perut Wanita Hamil

 Hukum Membedah Perut Wanita Hamil yang Meninggal Dunia untuk Menyelamatkan Janin



Apabila seorang wanita meninggal dunia dalam keadaan mengandung janin yang masih hidup, maka:


Jika masih diharapkan hidupnya janin, wajib dibedah perutnya untuk mengeluarkan janin tersebut, kemudian jenazahnya dimakamkan setelah proses itu.

➤ Hal ini demi menyelamatkan nyawa janin, karena menjaga jiwa.


Jika tidak diharapkan lagi hidupnya janin, maka tidak boleh membedah perut wanita tersebut, tetapi dibiarkan hingga janin itu mati, kemudian dikuburkan bersama ibunya.

➤ Inilah pendapat yang paling sahih dalam mazhab Syafi‘i.


Pendapat yang membolehkan membedahnya meski janin tak diharapkan hidup, atau membunuh janin dengan sengaja agar cepat dikuburkan, adalah pendapat yang salah dan batil, meskipun disebut oleh sebagian ulama.


Imam Nawawi menjelaskan:


وَلَوْ مَاتَتِ امْرَأَةٌ فِي جَوْفِهَا جَنِينٌ حَيٌّ، قَالَ أَصْحَابُنَا: إِنْ كَانَ يُرْجَى حَيَاتُهُ، شُقَّ جَوْفُهَا وَأُخْرِجَ ثُمَّ دُفِنَتْ، وَإِلَّا فَثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ. الصَّحِيحُ: لَا يُشَقُّ جَوْفُهَا، بَلْ يُتْرَكُ حَتَّى يَمُوتَ الْجَنِينُ ثُمَّ تُدْفَنُ. وَالثَّانِي: يُشَقُّ. وَالثَّالِثُ: يُوضَعُ عَلَيْهِ شَيْءٌ لِيَمُوتَ ثُمَّ تُدْفَنُ، وَهَذَا غَلَطٌ وَإِنْ كَانَ قَدْ حَكَاهُ جَمَاعَةٌ، وَإِنَّمَا ذَكَرْتُهُ لِأُبَيِّنَ بُطْلَانَهُ.


Dan jika seorang wanita meninggal dunia, sementara di dalam perutnya terdapat janin yang masih hidup, maka para ulama mazhab kami (yakni ulama Syafi‘iyyah) berpendapat:


Jika diharapkan (masih ada harapan) janin itu dapat hidup, maka perut wanita tersebut dibelah dan janin itu dikeluarkan, kemudian barulah wanita itu dikuburkan.


Dan jika tidak diharapkan lagi janin itu dapat hidup, maka terdapat tiga pendapat (tiga wajah):


1. Pendapat yang paling sahih (pendapat yang benar): Perut wanita itu tidak boleh dibelah, tetapi dibiarkan hingga janin itu mati di dalam perutnya, kemudian dikuburkan bersama ibunya.


2. Pendapat kedua: Perutnya boleh dibelah


3. Pendapat ketiga: Diletakkan sesuatu di atas perut wanita tersebut agar janin itu mati, kemudian dikuburkan.


Namun, pendapat ini keliru, meskipun telah diriwayatkan oleh sekelompok ulama.

Aku (imam Nawawi) hanya menyebutkannya untuk menjelaskan kebatilannya (kesalahannya). (An-Nawawi, Raudhatut Thalibin, juz 2 hal. 143)



> Link saluran: https://whatsapp.com/channel/0029Vawde5oDOQIg2pAAPm0U

hamba Tuhan

Penting ngaji

Posting Komentar

Harap berkomentar yang bisa mendidik dan menambah ilmu kepada kami

Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler