📗 tanya jawab ilmu mantiq
(Pertanyaan 11–20)
11.Apa fungsi qiyas dalam berpikir ilmiah?
JAWABAN:
Fungsinya adalah menghasilkan pengetahuan baru dari pengetahuan yang sudah diketahui sebelumnya, melalui hubungan logis antara premis-premis dan kesimpulan. Ia menjadi alat utama dalam istidlal dan penelitian rasional.
12.Apa itu tarkib taṣawwuri dan tarkib taṣdiqi?
JAWABAN:
Tarkib taṣawwuri: susunan kata tanpa penetapan hukum, seperti “manusia yang pandai.”
Tarkib taṣdiqi: susunan kata yang menetapkan hukum dan dapat dinilai benar atau salah, seperti “manusia itu pandai.”
13.Apa perbedaan al-ma‘qul al-awwal dan al-ma‘qul ats-tsani?
JAWABAN:
Al-ma‘qul al-awwal: konsep yang langsung berhubungan dengan realitas luar, seperti “manusia”, “kuda.”
Al-ma‘qul ats-tsani: tentang konsep, seperti “jins”, “nau‘”, “faṣl.”
Yang pertama digunakan dalam pengenalan objek, yang kedua dalam analisis logika.
14.Mengapa qiyas disebut lubb al-fikr (inti berpikir)?
JAWABAN:
Karena seluruh bentuk penalaran baik deduktif, induktif, maupun analogi dapat dikembalikan pada struktur dasar qiyas. Tanpanya, tidak ada penarikan kesimpulan yang sahih.
15.Apa itu qiyas iqtirani dan qiyas syarṭi?
JAWABAN:
Qiyas iqtirani: dua premis yang dihubungkan secara langsung tanpa syarat, contohnya:
“Setiap manusia fana, Zaid manusia, maka Zaid fana.”
Qiyas syarṭi: melibatkan syarat (jika–maka), contohnya:
“Jika matahari terbit maka siang datang; matahari terbit, maka siang datang.”
16.Jelaskan makna al-jins, an-nau‘, al-faṣl, dan al-‘araḍ!
JAWABAN:
Al-jins: jenis umum, mencakup banyak anggota.
An-nau‘: jenis khusus di bawah jins.
Al-faṣl: sifat pembeda yang menentukan hakikat.
Al-‘araḍ: sifat luar yang tidak menjadi hakikat.
Keempatnya digunakan untuk membuat ḥadd (definisi) yang lengkap dan ilmiah.
17.Apa itu qaḍiyyah muḥmalah dan qaḍiyyah maḥṣurah?
JAWABAN:
Muḥmalah: tidak menentukan jumlah subjek, seperti “manusia berakal.”
Maḥṣurah: menentukan jumlah subjek, seperti “setiap manusia berakal” atau “sebagian manusia berdosa.”
Pembedaan ini penting karena memengaruhi keabsahan hasil qiyas.
18.Apa yang dimaksud dengan al-qiyas al-khaṭi’ (silogisme salah)?
JAWABAN:
Yaitu penalaran yang tampak benar secara lahir tetapi rusak secara struktur atau makna.
Kesalahannya bisa:
1.Karena bentuk (shurah) tidak sesuai kaidah.
2.Karena isi (maddah) tidak benar.
Misalnya, menggunakan istilah tengah (ḥadd awsaṭ) yang tidak tepat.
19.Apakah manṭiq menolak pengetahuan fitrah dan wahyu?
JAWABAN:
Tidak. Manṭiq justru menghormati pengetahuan badihi (langsung dari akal dan fitrah) serta menjadikannya dasar bagi pengetahuan naẓari (hasil berpikir). Wahyu tetap menjadi sumber kebenaran tertinggi, sedangkan manṭiq alat untuk memahaminya secara teratur.
20.Apa posisi Ilmu Manṭiq dalam tradisi keilmuan Islam klasik?
JAWABAN:
Manṭiq menjadi dasar berpikir dalam berbagai disiplin: uṣul fiqh, kalam, falsafah, dan tafsir.
Para ulama seperti al-Ghazali, Ibn Sina, dan Fakhr ar-Razi menjadikannya alat untuk menata hujjah dengan cara yang selaras antara akal dan wahyu.
والله أعلمُ بالصوابِ
