📗 tanya jawab ilmu mantiq
(Pertanyaan 21–30)
21.Apa yang dimaksud dengan al-fikr (berpikir) menurut ahli maná¹iq?
JAWABAN:
Al-fikr adalah perpindahan akal dari satu ma‘rifah (pengetahuan) menuju ma‘rifah lain untuk memperoleh kesimpulan baru.
Jadi berpikir bukan sekadar mengingat, tetapi proses menata makna secara teratur untuk menghasilkan ilmu naẓari.
22.Apa perbedaan antara al-ma‘qul dan al-maḥsus dalam logika?
JAWABAN:
Al-ma‘qul: hal yang ditangkap oleh akal.
Al-maḥsus: hal yang ditangkap oleh panca indra
Maná¹iq berurusan dengan al-ma‘qul agar akal tidak keliru dalam menilai realitas.
23.Apa yang dimaksud dengan al-‘aql al-mujarrad dan al-‘aql al-ma‘asy?
JAWABAN:
Al-‘aql al-mujarrad: akal murni yang berpikir tanpa pengaruh hawa nafsu dan pengalaman empiris.
Al-‘aql al-ma‘asy: akal praktis yang bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
24.Apa fungsi al-qadhiyyah dalam susunan qiyas?
JAWABAN:
Al-qadhiyyah menjadi unsur utama qiyas, karena setiap qiyas tersusun dari dua qadhiyyah (premis) yang melahirkan natijah (kesimpulan).
Tanpa qadhiyyah yang benar, hasil qiyas tidak sah.
25.Sebutkan rukun-rukun qiyas!
JAWABAN:
1.Al-ḥadd al-akbar (predikat pada kesimpulan)
2.Al-ḥadd al-aṣghar (subjek pada kesimpulan)
3.Al-ḥadd al-awsaá¹
4.Al-qadhiyyah al-kubra
5.Al-qadhiyyah aá¹£-á¹£ughra
6.An-natijah
26.Bagaimana cara memastikan qiyas sahih menurut ahli maná¹iq?
JAWABAN:
Dengan memastikan:
1.Ḥadd awsaṠdigunakan dua kali dengan makna yang sama.
2.Kedua premis benar secara bentuk dan isi.
3.Tidak ada kekeliruan dalam hubungan antara predikat dan subjek.
Jika tiga syarat ini terpenuhi, maka qiyas disebut sahih.
27.Apa yang dimaksud dengan maná¹iq á¹£uri
JAWABAN:
Maná¹iq á¹£uri adalah cabang logika yang meneliti bentuk dan susunan berpikir tanpa mempersoalkan isi.
Ia memastikan struktur penalaran benar, meskipun belum tentu isinya benar.
28.Apa itu maná¹iq ma‘nawi
JAWABAN:
Maná¹iq ma‘nawi membahas materi dan isi dari penalaran, yaitu kebenaran makna dalam qadhiyyah.
Kalau maná¹iq á¹£uri menjaga dari kesalahan bentuk, maka maná¹iq ma‘nawi menjaga dari kesalahan makna.
29.Apa kaitan antara maná¹iq dan usul fiqh dalam tradisi Islam?
JAWABAN:
Ilmu maná¹iq menjadi alat dalam usul fiqh untuk menata istidlal, memahami illat hukum, dan membedakan qiyas yang sahih dari yang fasid.
Karena itu, banyak ulama usul seperti imam al-Amidi dan imam al-Ghazali membuka kitab mereka dengan kaidah maná¹iqiyyah.
30.Bagaimana kesimpulan akhir peran ilmu maná¹iq dalam peradaban Islam?
JAWABAN:
Ilmu maná¹iq menjadi penjaga tertib berpikir menata metode istidlal, dan menyatukan antara akal dan wahyu.
Ia bukan saingan wahyu, tetapi alat untuk memahaminya secara sistematis dan ilmiah.
والله أعلمُ بالصوابِ
