Sekelumit tentang sholat sunnah sebelum shalat maghrib
`Shahih Bukhoriy` :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ قَالَ حَدَّثَنَا كَهْمَسُ بْنُ الْحَسَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ
Artinya :
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yazid berkata, telah menceritakan kepada kami Kahmas bin Hasan dari 'Abdullah bin Buraidah dari 'Abdullah bin Mughaffal berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Antara dua azan (azan dan iqamah) ada salat (sunah)." Kemudian pada ucapan beliau yang ketiga kalinya, beliau menambahkan, "Bagi yang mau." (HR. Al-Bukhoriy, Nomor Hadits: 591)
`Shahih Muslim` :
و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ وَوَكِيعٌ عَنْ كَهْمَسٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ الْمُزَنِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى عَنْ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ فِي الرَّابِعَةِ لِمَنْ شَاءَ
Artinya :
Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dan Waki' dari Kahmas ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Diantara setiap dua azan itu ada salat tathawwu.'" Beliau mengulanginya hingga tiga kali. Dan pada kali yang ketiga beliau bersabda, "Bagi siapa saja yang mau mengerjakannya." Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abdul A'la dari Al Jurairi dari Abdullah bin Buraidah dari Abdullah bin Mughaffal dari Nabi ﷺ semisalnya. Hanya saja ia mengatakan; Pada kali yang keempat, "Bagi siapa yang mau." (HR. Muslim, Nomor Hadits: 1384)
`Imam An-Nawawi dalam al-Minhaj Syarah Shahih Muslim menjelaskan` :
📒 *أبو زكريا محيي الدين النووي، شرح النووي على مسلم، ج٦ ص١٢٣-١٢٤*
المراد بالأذانين الأذان وَالْإِقَامَةِ وَفِي هَذِهِ الرِّوَايَاتِ اسْتِحْبَابُ رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَصَلَاةِ الْمَغْرِبِ وَفِي الْمَسْأَلَةِ وَجْهَانِ لِأَصْحَابِنَا أَشْهَرُهُمَا لَا يُسْتَحَبُّ وَأَصَحُّهُمَا عِنْدَ الْمُحَقِّقِينَ يُسْتَحَبُّ لِهَذِهِ الْأَحَادِيثِ وَفِي الْمَسْأَلَةِ مَذْهَبَانِ لِلسَّلَفِ وَاسْتَحَبَّهُمَا جَمَاعَةٌ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ أَحْمَدُ واسحق وَلَمْ يَسْتَحِبَّهُمَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَآخَرُونَ مِنَ الصَّحَابَةِ وَمَالِكٌ وَأَكْثَرُ الْفُقَهَاءِ وَقَالَ النَّخَعِيُّ هِيَ بِدْعَةٌ وَحُجَّةُ هَؤُلَاءِ أَنَّ اسْتِحْبَابَهُمَا يُؤَدِّي إِلَى تَأْخِيرِ الْمَغْرِبِ عَنْ أَوَّلِ وَقْتِهَا قَلِيلًا وَزَعَمَ بَعْضُهُمْ فِي جَوَابِ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ أَنَّهَا مَنْسُوخَةٌ وَالْمُخْتَارُ اسْتِحْبَابُهَا لِهَذِهِ الْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ الصَّرِيحَةِ وَفِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلُّوا قَبْلَ الْمَغْرِبِ صَلُّوا قَبْلَ الْمَغْرِبِ صَلُّوا قَبْلَ الْمَغْرِبِ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ وَأَمَّا قَوْلُهُمْ يُؤَدِّي إِلَى تَأْخِيرِ الْمَغْرِبِ فَهَذَا خَيَالٌ مُنَابِذٌ لِلسُّنَّةِ فَلَا يُلْتَفَتُ إِلَيْهِ وَمَعَ هَذَا فَهُوَ زَمَنٌ يَسِيرٌ لَا تَتَأَخَّرُ بِهِ الصَّلَاةُ عَنِ أَوَّلِ وَقْتِهَا وَأَمَّا مَنْ زَعَمَ النَّسْخَ فَهُوَ مُجَازِفٌ لِأَنَّ النَّسْخَ لَا يُصَارُ إِلَيْهِ إِلَّا إِذَا عَجَزْنَا عَنِ التَّأْوِيلِ وَالْجَمْعِ بَيْنَ الْأَحَادِيثِ وَعَلِمْنَا التَّارِيخَ وَلَيْسَ هُنَا شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ وَاللَّهُ أَعْلَمُ
Artinya :
"Yang dimaksud dengan dua azan adalah azan dan iqamah. Dalam riwayat-riwayat ini terdapat anjuran untuk melakukan dua rakaat antara azan Maghrib dan salat Maghrib. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat di kalangan ulama kami (mazhab Syafi’i), yang lebih masyhur di antara keduanya adalah bahwa hal itu tidak disunnahkan, sedangkan pendapat yang lebih kuat menurut para ulama muhaqqiqin adalah bahwa hal itu disunnahkan berdasarkan hadis-hadis tersebut.
Dalam masalah ini juga terdapat dua pendapat dari kalangan salaf. Sebagian sahabat dan tabi’in menganjurkannya, dan dari kalangan ulama belakangan yang menganjurkannya adalah Ahmad bin Hanbal dan Ishaq. Sementara Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan sebagian sahabat lainnya, serta Malik dan mayoritas fuqaha tidak menganjurkannya. An-Nakha’i bahkan mengatakan bahwa itu adalah bid'ah.
Dalil kelompok yang tidak menganjurkannya adalah bahwa pelaksanaan dua rakaat tersebut menyebabkan keterlambatan salat Maghrib dari awal waktunya, meski hanya sedikit. Sebagian dari mereka yang menjawab hadis-hadis tersebut mengatakan bahwa hadis-hadis itu telah di-nasakh.
Namun, pendapat yang terpilih adalah bahwa dua rakaat tersebut dianjurkan karena adanya hadis-hadis yang sahih dan jelas. Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Salatlah sebelum Maghrib, salatlah sebelum Maghrib, salatlah sebelum Maghrib.’ Pada yang ketiga beliau bersabda: ‘Bagi siapa yang mau.’
Adapun alasan mereka bahwa hal itu menyebabkan keterlambatan salat Maghrib, maka itu hanyalah bayangan yang bertentangan dengan sunnah, sehingga tidak perlu diperhatikan. Lagipula, waktu yang dibutuhkan sangat singkat sehingga tidak menyebabkan keterlambatan salat dari awal waktunya.
Adapun orang yang mengklaim bahwa hadis-hadis tersebut telah di-nasakh, maka itu adalah klaim yang serampangan. Karena nasakh tidak boleh dilakukan kecuali jika kita tidak mampu men-takwil dan mengkompromikan antara hadis-hadis yang ada, serta telah diketahui tarikhnya, dan tidak ada satu pun dari hal itu dalam kasus ini. Dan Allah Maha Mengetahui."
(Muhdor al-Habsy)
> Majelis Ilmu
