Keutamaan Ilmu Hadits dan ahlinya

Keutamaan Ilmu Hadits dan ahlinya (ahli hadits)*📌



فضل علم الحديث وشرف أهله

وقد ورد في فضيلة علم الحديث وأهله أحاديث كثيرة ، وسأذكر أشهرها :


عن ابن مسعود رضي الله عنه أن رسول الله ﷺ قال : "أولى الناس بي يوم القيامة أكثرهم علي صلاة ، رواه الترمذي وحسنه".


وهذه منقبة شريفة تختص برواة الآثار ونقلتها ، لأنه لا يعرف لعصابة من العلماء من الصلاة على رسول الله ﷺ أكثر مما يعرف لهذه العصابة ، يخلدون ذكره في طروسهم ، ويسلمون عليه في معظم الأوقات في مجالس مذاكراتهم و دروسهم.


عن ابن مسعود رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله ﷺ يقول : "نضر الله امراً سمع منا شيئاً فبلغه كما سمع  فرب مبلغ أوعى من سامع".


وهكذا خصهم النبي له بدعاء لم يشرك فيه أحداً من الأمة .


قال صلى الله عليه وسلم : "يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله ، ينفون عنه تحريف الغالين وانتحال المبطلين وتأويل الجاهلين. رواه البيهقي في المدخل وذكر القسطلاني أنه يصير بطرقه حسناً".


وفي هذا الحديث بيان عدالة أهل الحديث .


[السيد محمد بن علوي المالكي، قواعد الأساسية في علم مصطلح الحديث، صفحة ٨].


Dari Ibnu Mas‘ud ra. bahwa Rasulullah Shallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

"Orang yang paling berhak denganku pada hari Kiamat adalah orang yang paling banyak berselawat kepadaku."

(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan beliau menilainya hasan).


Hadis ini menunjukkan kemuliaan yang istimewa bagi para perawi atsar (hadis) dan para penukilnya,

karena tidak diketahui ada sekelompok ulama yang lebih banyak bersholawat kepada Rasulullah Shallahu 'Alaihi Wasallam daripada kelompok ini.


Mereka mengabadikan penyebutan beliau Shallahu 'Alaihi Wasallam dalam lembaran-lembaran tulisan mereka,

dan mereka mengucapkan salam kepadanya pada banyak waktu,

yakni dalam majelis-majelis pengajian dan pertemuan ilmiah mereka.


Dari Ibnu Mas‘ud ra. ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

"Semoga Allah mencerahkan seseorang yang mendengar sesuatu dariku, lalu menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya.

Bisa jadi orang yang disampaikan kepadanya lebih memahami daripada orang yang mendengarnya."

(HR. at-Tirmidziy), dan beliau -at-Tirmidziy- berkata, "Haditsnya hasan shahih".


Demikianlah, Nabi Shallahu 'Alaihi Wasallam mengkhususkan mereka (para ahli hadis) dengan doa yang tidak beliau sertakan kepada selain mereka dari umat ini.


Beliau Shallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

"Akan membawa ilmu ini dari setiap generasi orang-orang yang adil di antara mereka;

mereka menolak darinya (ilmu itu) penyelewengan orang-orang yang melampaui batas,

kedustaan orang-orang yang batil, dan takwil orang-orang yang jahil."

(Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam al-Madkhal, dan al-Qasthalani menyebutkan bahwa hadis ini menjadi hasan dengan jalur-jalurnya).


Dalam hadis ini terdapat penjelasan tentang keadilan ('adalah) para ahli hadits.

Definis-Definisi dasar*📌

تعاريف أولية

الحديث لغة : ضد القديم

واصطلاحا : ما أضيف إلى النبي الله من قول أو فعل أو -تقرير أو إلى الصحابي أو التابعي .


السنة لغة : الطريقة

واصطلاحا : ما أضيف إلى النبي ﷺ من قول أو فعل أو تقرير أو إلى الصحابي أو التابعي ، فهي على هذا مرادفة للحديث بالمعنى المتقدم ، وقيل : الحديث خاص بقوله وفعله ، والسنة عامة.


الخبر لغة : ضد الإنشاء ، واصطلاحا :

قيل : مرادف للحديث.

وقيل : هو ما جاء عن غير النبي الله ، والحديث ما جاء عنه ، ومن ثم قيل لمن يشتغل بالحديث : محدث ، وبالتواريخ ونحوها : أخباري .

وقيل : الحديث أخص من الخبر ، فكل حديث خبر ولا عكس.


الأثر لغة : بقية الدار ونحوها . واصطلاحا :

قيل : مرادف للحديث ، كما قال النووي : إن المحدثين يسمون المرفوع والموقوف أثرا .


وقيل : هو ما جاء عن الصحابة ، يعني أن الأثر يطلق على الموقوف ، ولعل وجهه أن الأثر بقية الشيء ، والخبر ما يخبر به ، فلما كان قول الصحابي بقية من قول المصطفى ﷺ وكان أصل الأخبار إنما هو عنه له ناسب أن يسمى قول الصحابي : أثراً ، وقول المصطفى : خبراً .


وبهذا ظهر أن السنة والحديث والخبر والأثر ألفاظ مترادفة المعنى واحد ، وهو ما أضيف إلى النبي الله من قول أو فعل أو تقرير أو صفة ، أو إلى الصحابي أو التابعي.


وقرائن الرواية عن الرسول والصحابة والتابعين تعين وتحدد مفهوم هذه المصطلحات.


[السيد محمد بن علوي المالكي، قواعد الأساسية في علم مصطلح الحديث، صفحة ١٠-١١].


Hadis

Secara bahasa, berarti lawan dari “qadim” (yang lama).

Secara istilah, ialah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berupa ucapan, perbuatan, atau taqrir, atau disandarkan kepada seorang sahabat atau tabi‘in.


Sunnah

Secara bahasa, berarti jalan atau cara (yang ditempuh).

Secara istilah, ialah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berupa ucapan, perbuatan, atau taqrirnya, atau disandarkan kepada sahabat atau tabi‘in.

Dengan demikian, sunnah dan hadis dalam pengertian ini adalah sinonim taroduf.

Namun, ada yang berpendapat bahwa hadis khusus bagi ucapan dan perbuatan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, sedangkan sunnah lebih umum dari itu.


Khabar

Secara bahasa, berarti lawan dari kalimat insya’ (pernyataan yang bukan berita).

Secara istilah:

Ada yang berpendapat bahwa ia sama maknanya dengan hadis.


Ada pula yang berpendapat bahwa khabar ialah apa yang datang dari selain Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, sedangkan hadis ialah apa yang datang dari beliau.

Karena itu, orang yang ahli dalam hadis disebut muhaddits, sedangkan yang ahli dalam sejarah dan semacamnya disebut akhbari.


Ada juga yang berpendapat bahwa hadis lebih khusus daripada khabar; maka setiap hadis adalah khabar, tetapi tidak setiap khabar adalah hadis.


Atsar

Secara bahasa, berarti sisa atau peninggalan sesuatu (seperti bekas rumah dan sejenisnya).

Secara istilah:

Ada yang berpendapat bahwa ia sama dengan hadis, sebagaimana dikatakan oleh Imam an-Nawawi bahwa para ahli hadis menamakan hadis marfu‘, dan mauquf sebagai atsar.


Ada juga yang berpendapat bahwa atsar adalah apa yang datang dari sahabat yakni hadits mauquf.

Alasannya: atsar berarti “sisa” atau “bekas”, sedangkan khabar berarti “sesuatu yang dikabarkan”.

Maka boleh jadi wajhnya/dasarnya adalah perkataan sahabat merupakan sisa dari perkataan Rasulullah Shalla-llahu 'Alaihi Wasalllam karena asalnya khabar/berita adalah dari beliau maka pantas jika perkataan sahabat disebut atsar, dan perkataan Nabi disebut khabar.


Dari sini tampak bahwa sunnah, hadis, khabar, dan atsar adalah kata-kata yang maknanya saling berdekatan, yakni: segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Shallal berupa ucapan, perbuatan, taqriran, atau sifat, atau disandarkan kepada sahabat maupun tabi‘in.


Dan petunjuk konteks periwayatan dari Rasulullah Shalla-llahu 'Alaihi Wasallam, para sahabat, dan tabi‘inlah yang menentukan dan membatasi penggunaan dan makna istilah-istilah tersebut secara lebih spesifik.

Penjelasan hadits qudsiy


الحديث القدسي :

نسبة إلى القدس ، والقدس هو : الطهارة والتنزيه ، ويطلق عليه الحديث الإلهي نسبة للإله ، والحديث الرباني نسبة للرب جل وعلا .


وهو في الاصطلاح : ما أضافه الرسول الله وأسنده إلى ربه عز وجل من غير القرآن


مثاله :

قال رسول الله ﷺ : قال الله تبارك وتعالى :

"يا عبادي إني حرمت الظلم على نفسي وجعلته بينكم محرماً فلا تظالموا .." الحديث.


وقول الصحابي مثلاً : قال رسول الله الله فيما يرويه عن ربه عز وجل .. وهكذا


وسمي حديثاً : لأنه من قول الرسول ﷺ ومن حكايته له عن ربه.


وسمي قدسيا : لأنه أسند إلى الرب جل وعلا ، من حيث إنه المتكلم به والمنشىء له وهو المنزه عن كل ما لا يليق.


ومن معرفة حقيقة الحديث القدسي يظهر الفرق بينه وبين القرآن والحديث النبوي.


[السيد محمد بن علوي المالكي، قواعد الأساسية في علم مصطلح الحديث، صفحة ١١-١٢].


Hadis Qudsi

Disebut hadis qudsi karena dinisbatkan kepada al-quds (القدس), yang berarti kesucian dan pensucian.

Hadis ini juga disebut hadis ilahi, karena dinisbatkan kepada Allah sebagai Ilah (Tuhan yang disembah),

dan disebut hadis rabbani, karena dinisbatkan kepada Rabb (Tuhan, Penguasa) Mahasuci dan Mahatinggi Allah.


Menurut istilah, hadis qudsi adalah:


"Segala sesuatu yang disandarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam kepada Tuhannya ‘Azza wa Jalla, selain dari Al-Qur’an.”


Contohnya:

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:


"Allah Tabaraka wa Ta‘ala berfirman: Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi...” (HR. Muslim)


Demikian pula ucapan seorang sahabat, misalnya:


"Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, dalam riwayat beliau dari Tuhannya ‘Azza wa Jalla...” dan semisalnya.


Disebut hadis karena ia berasal dari ucapan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, dan merupakan penyampaian beliau tentang firman Tuhannya.


Disebut qudsi karena ia dinisbatkan kepada Allah dari sisi bahwa Dialah yang berfirman dan menimbulkan (memunculkan haditsnya),

serta Mahasuci dari segala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya.


Dengan memahami hakikat hadis qudsi ini, tampaklah perbedaannya antara hadis qudsi, Al-Qur’an, dan hadis nabawi.

hamba Tuhan

Penting ngaji

Posting Komentar

Harap berkomentar yang bisa mendidik dan menambah ilmu kepada kami

Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler